Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Keberangkatan


__ADS_3

Hari demi hari terus berlalu, PIMNAS tingal menghitung hari tepatnya kurang 10 hari lagi. Kondisi mbak Eki sudah cukup membaik sudah diperbolehkan untuk keluar dari rumah sakit, namun untuk mengikuti lomba masih belum diperbolehkan. Kondisi mbak Eki sekarang dalam tahap pemulihan tidak diperkenankan untuk melakukan aktivitas yang banyak dan memiliki gerak yang terbatas.


Mbak Eki sudah dipastikan tidak akan mengikuti dalam final PIMNAS ini, kami akan berangkat berempat dengan anggota perwakilan dari fakultas yang lain.


Lelah sekali rasanya menuju pimnas ini, hampir setiap hari kami berkutat dengan makalah penelitian, power point, pembuatan poster dan pembuatan produk. Terkadang juga bosan sekali setiap hari membahas ini-ini terus.


Revisi? Jangan di tanya berapa banyak kami melakukan revisi pada penelitian ini,di mulai dari revisi koreksi antar tim satu kelompok kami, revisi dan masukan dari kelompok lain serta yang pamungkas revisi dari dosen pembimbing kami.


Permintaan revisi dari dosen pembimbing yang macam-macam demi kesempurnaan karya kami. Pembuatan produk yang terus menerus sampai menghasilkan produk yang benar-benar bagus dan susuai harapan. Tidak terhitung berapa banyak daun cincau yang kami gunakan sampai berhasil mendapatkan produk yang benar-benar bagus dan siap kami bawa saat final nanti.


Hampir setiap hari setelah kuliah dan praktikum selesai kami berempat selalu nongkrong di lab agrokimia untuk berdiskusi dan merevisi setiap masukkan yang diberikan oleh dosen pembimbing.


“Yu tolong baca lagi laporannya, barang kali masih ada yang salah ketik atau kurang”


“Siap mas Andika”


Rasanya aku sampai hafal setiap kata yang tertulis dalam paragraf di laporan PKM ini karena terlalu seringnya aku merevisi. Bahkan sampai letak titik dan komanya aku hafal.


“Teman-teman mulai besok kita latihan persentasi ya” ucap mas Andika pada kami di lab Agrokimia saat itu.


“Dimana?”


“Di sini saja ya seperti biasah habis istirahat makan siang kita kumpul di sini”


“Ok baiklah, aku pamit duluan ya mau mengerjakan tugas besar MSDM” pamit mbak Sarah pada kami.


“Aku juga duluan ya lapar mau makan” mas Dimas menyusul mbak Sandra.


Aku belum beranjak dari tempat dudu ku masih merevisi sesuai perintah Mas Andika.


“Yu kamu gak cape kah” tanya mas Andika padaku.


Ingin rasanya aku jawab capek sekali kanda, dinda sudah lelah dari tadi baca laporan ini tak selesai-selesai.

__ADS_1


Hem


Aku jawab hanya hem saja, semoga kamu mengerti mas,


“Kalau capek istirahat dulu, pulang aja yuk tak anterin sekalian aku juga mau pulang”


“Ayo” aku langsung bersiap-siap untuk pulang.


***


Keesokan harinya seperti yang sudah kami rencanakan sebelumnya, hari ini kami belajar untuk persentasi. Aku anggota paling muda di antara kelompokku, aku belum banyak mengerti bagaimana cara menyampaikan pendapat yang baik dan benar. Mas Andika banyak memberikan bimbingan dan arahan pada ku.


Pembagian tugas persentasi sudah dilakukan, pemateri pertama mas Dimas dan mbak Sarah, untuk menjawab pertanyaan dari penyanggah nanti mas Andika tentu dibantu dengan anggota kelompok, aku sebagai notulen tapi tidak menutup kemungkinan nanti aku juga akan menjawab pertanyaan dari penguji. Jadi semua anggota diharapkan faham betul tentang isi laporan PKM yang kami buat.


Tantangan tersebar yang kelompok kami rasakan saat menuju pimnas ini adalah sulitnya untuk mengatur jadwal bertemu dengan formasi yang lengkap, karena anggota kelompok kami berbeda angkatan, berbeda minat jurusan dan tentunya berbeda kepentingan kesibukan masing-masing.


Perbedaan jadwal kuliah antar anggota kelompok yang terkadang sering menjadi penyebab utama kelompok kami sering mengalami gesekan, sebuah hal yang biasa memang, bahwa di setiap kompetisi yang berkelompok akan mengalami perbedaan pendapat up and down.


Saat hari menuju sore kami mendapat kabar untuk mengambil seragam yang akan digunakan saat lomba lusa. Kami berempat lekas bergegas untuk ke rektorat mengambil seragam yang telah disiapkan oleh panitia. Untuk pimnas ke 25 kali ini kami mendapat satu setel kaos lengan panjang dan bawahan, kami juga mendapat jaket. Alhamdulilah senang sekali dong.


***


Hari keberangkatan untuk menuju pimnas telah tiba, tahun ini pimnas di adakan di Universitas Muhamadiyah Jogja. Kontingen Universitas Bra* yang berangkat tahun ini sekitar 30 lebih anggota kelompok, aku tidak tau berapa jumlah persisnya. Kami terdiri dari berbagai fakultas dan berbagai angkatan.


Seluruh peserta berkumpul di depan rektorat sebelum berangkat bersama-sama, terdapat banyak rangkaian acara sebelum keberangkatan kami, dimulai dari sambutan dan pesan-pesan dari bapak rektor, persembahan karya seni oleh beberapa mahasiswa unitantri, acara doa bersama menjelang keberangkatan untuk mempermudah jalan kami menuju kemenangan. Di tutup dengan cara ramah-tamah makan bersama.


Tak lupa sebelum berangkat kami meneriakkan yel-yel kebanggaan kami saati itu.


“Satu kata, satu jiwa, Bra juara”


“Satu kata, satu jiwa, Bra juara”


Kami berangkat menggunakan bus pariwisata yang telah di sediakan dari kampus, aku duduk bersebelahan dengan mbak Sarah sedangkan mas Adika dan mas Dimas duduk di bangku belakang kami.

__ADS_1


Bahagia sedah tentu pastinya, bisa menjadi bagian dari pahlawan yang akan berjuang menuju medan pertempuran untuk membawa kembali piala Adhikarta Kertawidya ke pangkuan Raja Bra*.


Sepanjang perjalanan mas Andika selalu bernyanyi saja, nampaknya dia tidak ingat akan kekasihnya yang sedang masa pemulihan, dia happy sekali di sini tanpa mbak Eki.


Mas Andika juga membawa bekal jajan dan baju ganti yang sangat banyak seperti anak TK yang sedang darmawisata.


Saat menjelang malam hari, udara yang tadinya panas sekali berubah menjadi lebih dingin bahkan dingin sekali hingga tubuhku rasanya menggigil. Aku tidak terbiasa menggunakan AC dalam waktu yang lama.


Alergi dinginku pun kambuh kali ini ditambah dengan rasa mual yang ada di perut karena terlalu lama di kendaraan. Sungguh situasi yang sangat tidak nyaman untukku.


“Kamu kenapa Yu?” tanya mas Andika mulai memperhatikan wajahku yang tampak merah-merah dan bentol-bentol.


“Kamu biduran lagi”. Tanyanya memperjelas keadaanku.


“iya mas” jawabku


“Bawa obat tidak?”


Belum juga aku sempat menjawab pertanyaan nya mas Andika sudah mengeluarkan obat yang dulu dia pernah belikan ketika aku biduran.


“ini aku bawa obatnya, minum dulu"


Aku bergegas untuk meminum obat yang diberikan mas Andika.


Mas Andika dengan sigap kemudian mengecilkan AC yang ada di bangkuku, bangkunya serta mendatangi bangku di sebelahku untuk mengecilkan AC nya.


Semakin malam tubuhku semakin lemas, sepertinya aku juga masuk angin, mbak Sarah tidak kalah hebohnya dia membalur tubuhku dengan minyak angin sebanyak mungkin saat kami istirahat sejenak di rest area.


“Yu jangan tumbang ya, dikit lagi sampai” kata mas Andika sabil membawakan aku minuman teh hangat.


“Makan dulu ya, aku siapin deh”


“Aku adukan tuh nanti sama yang di rumah” goda mbak sarah dan mas Dimas.

__ADS_1


__ADS_2