Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Duka Rahayu


__ADS_3

“Mas bangun mas, apakah kamu tidak ingin menyentuhku, menjadikan aku istri seutuhnya?”.


“Mas hari aku sudah sangat siap, bahkan lebih siap dari sebelumnya, bunda membelikan aku beberapa baju dinas untuk menyambut malam denganmu mas”.


“Mas bangun mas, bukankah kamu lekas menginginkan anak dariku?”.


“Mas bangun mas, katanya kamu mau membimbingku menjadi istri yang sholeha. Bantu aku mewujudkan itu mas”.


“Bangun mas, bangun aku mohon”.


Rahayu menggenggam erat tangan Reno dengan tangis yang tak tertahan lagi.


“Mas aku sudah memutuskan untuk berhenti bekerja, aku ingin sepenuhnya berada di dekatmu. Jadi ayo mas lekas bangun agar aku tak kesepian”.


“Mas bangun, aku masih ingin memasangkan dasi untukmu, memilihkan baju menyiapkan segala keperluanmu di setiap pagi, aku masih ingin mendengar setiap ucapan manismu setiap harinya”.


Rahayu tertunduk di atas berakar dan memegang erat tangan Reno, air matanya benar-benar tumpah tiada terkira banyaknya.


“Mas maafkan Rahayu selama ini belum bisa memberikan yang terbaik untukmu, maafkan aku yang selama ini telah banyak menyia-nyiakan dirimu”.


“Mas maafkan Rahayu yang selama satu minggu menjadi istrimu belum mampu melayani dengan baik”.


“Mas ayo bangun aku janji saat kamu terbangun aku akan memasak masakan yang enak, aku tak akan lagi memberimu makanan yang asin”.


“Bangun mas”.


Rahayu terus saja berbicara seakan-akan Reno mampu mendengarnya.


Sedangkan Reno masih belum bisa bergerak sama sekali bahkan membuka mata saja tidak sanggup, namun...


Di sudut mata Reno pun meneteskan air mata.


“Mas Reno pasti sembuhkan? Mas Reno kan laki-laki kuat pejuang hebat. Buktinya mas Reno tidak pernah menyerah untuk mendapatkan aku, meski aku sudah berkali-kali menolakmu dulu. Berjanjilah mas jika kamu pasti akan sembuh”.


“Aku pun berjanji akan selalu menemani kamu”.


Malam itu Rahayu menghabiskan waktu dengan menangis dan membual apa saja yang ingin dia katakan pada suaminya. Rahayu sama sekali tak beranjak meninggalkan Reno.


Menjelang waktu subuh Rahayu berpamitan pada bunda dan ayah yang saat itu sedang duduk di sofa dalam ruang rawat tersebut untuk menjalankan sholat subuh terlebih dahulu.


Kondisi Reno masih sama belum ada perkembangan sama sekali, bahkan Reno belum menunjukan tanda-tanda untuk sadarkan diri. Hampir seluruh bagian tubuhnya di penuhi dengan perban dan alat-alat medis yang terpasang pada tubuhnya.


Sebenarnya Rahayu enggan untuk beranjak meninggalkan suaminya.


“Bun Rahayu mau ke mushola dulu ya sebentar”.


“Iya nak hati-hati”.


Sesampainya di mushola Rahayu lekas mengambil wudhu, kemudian menjalankan sholat subuh dengan begitu khusuknya tak lupa Rahayu melantunkan banyak doa untuk kesembuhan suaminya.


“Terimakasih Ya Allah sudah menjodohkan aku dengan mas Reno, Ya Allah suamiku adalah orang yan baik, dia begitu taat denganmu. Ya Allah bantulah dia melewati semua ini, sembuhkanlah dia Ya Allah, datangkanlah suatu keajaibanMu untuk kesembuhan suamiku”. Hiks hiks hiks


“Ya Allah engkaulah yang maha mengetahui hidup, mati seseorang, hamba sebagai manusia hanya mampu berdoa dan memohon padaMu kiranya memberikan kesempatan untuk mas Reno agar kembali sembuh”.


“Ya Allah engkaulah sebaik-baiknya pembuat rencana, Ya Allah berilah kesempatan pada hamba untuk menebus segala kesalahan hamba pada mas Reno dengan mengabdi sepenuhnya pada dia. Ya Allah bantulah hamba menjadi istri yang soleha”.


Aamiin.


Sepanjang melantunkan doa tak henti-hentinya air mata Rahayu mengalir.

__ADS_1


Setelah puas dengan segala keluh kesah pada sang pencipta, Rahayu lekas bergegas menuju ruang Reno di rawat.


***


Ruang Rawat Reno


Sepeninggalan Rahayu menuju mushola, tiba-tiba Reno mengalami kejang dengan mata yang masih tertutup. Tubuhnya bergerak terangkat ke atas dan ke bawah sedang mulutnya terkunci rapat tak mengeluarkan suara sama sekali.


Bunda begitu syok melihat keadaan anaknya yang tiba-tiba seperti ini. Bunda lekas menghampiri Reno dan duduk di kursi samping brangkar Reno, sedang ayah dengan sigap lekas memanggil dokter untuk memeriksa keadaan anaknya.


“Dokter tolong anak saya”.


Menyadari hal itu dokter langsung bergegas menuju ruang rawat inap Reno beserta dengan beberapa suster yang mendampinginya.


“Sus cek tekanan darahnya”.


“Baik dok”.


“Tekanan darah sangat lemas sekali dok 70/80”.


“Periksa denyut nadinya”.


“Denyut nadinya melemah berangsur menghilang”.


Dokter memeriksa mata dan seluruh anggota vital Reno saat itu juga.


“Lakukan tes kejut jantung”.


“Tut Tht Tut thtu...”


Suara itu kembali terdengar...


Tut Tut tht...tutttt


Hilang suara itu hilang.


“Sekali lagi”.


Tutttttttttttttttttttt.


Tak berdetak sama sekali, tampak dilayar monitor kecil yang berada di atas meja gambar itu hilang, tak lagi berirama naik turun menunjukan garis lurus yang datar.


Dokter menghembuskan nafas dengan kasar.


“Inalilahiwainalilahirojiun”.


“Mohon maaf pak buk kami sudah berusaha semaksimal mungkin, ibu dan bapak mohon bersabar”.


“Hidup dan mati semua atas kehendaknya, kami sebagai manusia hanya bisa berusaha, namun Allah Lah yang menentukan segalanya”.


Dokter dan perawat tersebut lekas melepas satu persatu alat bantu yang menempel pada tubuh Reno dan menutupinya dengan selimut.


Bunda Reno yang ada di tempat tak kuasa menahan tangisnya yang langsung meluncur begitu saja tanpa permisi.


“Anakku”.


“Reno kenapa kamu ingat kita dengan begitu cepatnya nak”.


Bunda menghampiri tubuh Reno dan menggoyang-goyangkan tubuh anaknya dengan begitu kerasnya berharap anaknya akan bangun kembali.

__ADS_1


Ayah Reno pun melakukan hal yang sama, tertunduk di sebelah ranjang anaknya yang sudah tak bernyawa dengan menangis sesenggukan.


Sementara itu dokter dan perawat berpamitan meninggalkan ruangan tersebut sambil menepuk-nepuk punggung ayah Reno.


Rahayu melihat dari kejauhan dokter dan beberapa perawat sedang keluar dari ruang inap suaminya dengan wajah yang lesu. Dengan sigap Rahayu berlari dan menemui para medis tersebut.


“Dokter bagaimana dengan keadaan suami saja”.


Masih tak bergeming dokter tersebut tak kuasa untuk memberi tahu pada Rahayu, sedang tangisan bunda dan Reno begitu memilukan hingga terdengar dari luar ruangan.


Menyadari hal itu Rahayu lekas masuk dalam ruangan tersebut tanpa permisi pada dokter.


Seketika saat memasuki pintu kamar tersebut.


Rahayu terjatuh terduduk di lantai, menutup muka dengan kedua tangannya. Air matanya jatuh begitu derasnya membasahi pipi merahnya. Tubuhnya lemas seketika dengan wajah yang pucat dan pasi.


Ya Rahayu begitu syok melihat pemandangan di depan matanya. Pemandangan yang tak pernah dia cita-citakan sebelumnya.


Melihat suaminya terbujur tak bernyawa di atas  kasur dengan di tutupi selimut.


Hiks hiks hiks.


Tangisan histeris tak dapat di hindari, seluruh ruangan penuh dengan tangisan yang memilukan.


Hiks hiks his


Kemarin engku masih ada di sini.


Bersamaku menikmati rasa ini.


Bersamamu semua takkan pernah berakhir.


Bersamamu.


Bersamamu.


Kemarin dunia terlihat sangat indah.


Dan denganmu merasakan ini semua.


Melewati hitam-putih hidup ini.


Kini sendiri di sini.


Mencari tak tahu dimana.


Semoga tenang kau di sana.


Selamanya.


Hiks hiks hiks..


“Mas kamu benar-benar pergi mas, kamu pergi tanpa berpamitan denganku mas. Kamu meninggalkan aku sendiri lagi ma”.


“Mas bagaimana bisa aku akan menjalani hari-hari tanpamu mas?. Mas Bagaimana bisa kamu meninggalkanku dengan begitu mudahnya saat hatiku sudah terisi oleh cinta dan kasih sayang yang kamu berikan”.


Rahayu tak mampu untuk sekedar bangkit dari jatuhnya, Bahkan sekedar menggerakkan kedua kakinya saja tak mampu dia begitu rapuh kala fajar itu.


😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2