Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Baby Aska


__ADS_3

Andika dengan setia mendorong istrinya di atas kursi roda untuk membawanya ke kamar rawat, sedang baby dalam box yang d bawa khusus oleh tim medis.


“Alhamdulilah”, ucap serempak para nenek-nenek muda yang sudah berada dalam ruangan ketika melihat perawat membawa cucu mereka masuk. Ketiganya lekas mengerubuti baby dan memandang takjub wajahnya yang begitu sempurna. Sementara baby hanya menoleh ke kanan dan ke kiri dengan membuka mulutnya.


Semua yang ada dalam ruangan tampak menunjukan rona wajah bahagia dan merona.


Seperti dugaan Rahayu dan Andika jika baby akan mengalahkan kepopuleran mereka saat ini. Semua hanya akan tertuju pada baby.


“Selamat ya sayang sudah menjadi ibu”. Peluk Mama Andika pada Rahayu.


“Selamat ya nduk, anakmu ganteng banget”. Ucap Ibu yang kini sedang menggendong baby dalam dekapannya.


“Selamat ya untuk kalian berdua semoga baby jadi anak yang sholeh”, ucap bunda dengan mengelus lembut pipi baby yang sedang tertidur pulas dalam dekapan Ibu.


“Oh iya ngomong-ngomong namanya siapa ini?”, tanya ayah Reno yang kemudian turut bergabung melihat baby.


“Siapa mas namanya?”. Wajah Rahayu mendongak menghadap suaminya.


“Bagaimana kalau Yudistira saja, dia kan anak pertama”, papa Andika memberikan ide nama untuk cucunya.


“Ah jangan dong pa Arjuna saja biar ganteng, tuh lihat saja sekarang masih bayi saja gantengnya udah gak ketulungan".ucap Mama menanggapi ucapan papa.


“Baskoro saja le, di desa kita Baskoro itu juragan ternak ayam yang terkenal". kini bapak turut serta memberikan sumbangan idenya.


Rahayu hanya tersenyum melihat semua orang berebut memberikan sumbangan ide nama untuk bayinya.


“Bismillahirrahmanirrahim, nama anak kami adalah baby Aksa Gandhi Maharaja, panggil saja baby Aksa”.


“Wah nama yang bagus”, seloroh semua orang yang ada dalam ruangan tersebut.


“Hay baby Aksa”. panggil bunda dan memindahkan dari gendongan ibu dalam dekapannya.


“Lucu sekali ya, aduh-aduh mulutnya”, ucap mama mengelus lembut cucunya ketika Aksa sedang menganga seakan mencari sumber kehidupannya.


Sementara semua orang sedang sibuk dengan Aska, Andika menemani Rahayu yang masih berbaring di atas kasur untuk proses pemulihan.


“Sayang jangan banyak gerak dulu ya, kamu minta apa biar aku ambilkan”.

__ADS_1


“Aku haus mas”.


Dengan cukup sigap Andika meraih gelas yang ada di sebelahnya duduk dan memberikan pada istrinya,


“Apa kamu lapar sayang?”.


“Sebenarnya aku masih pengen makan pentol gila mas”, ucapnya lirih dengan memelas.


“Iya mas sudah minta tolong orang buat belikan, nanti agak malam kiranya sudah sampai, sekarang makan yang ada dulu ya”.


Rahayu hanya menganggukkan kepalnya saja. Kini Andika sedang menyuapi Rahayu dengan semangkuk soto daging yang di bawa Mama khusus untuk menantunya.


“Sayang trimakasih ya sudah melahirkan anak untukku”. Ucap Andika dengan mata yang berkaca-kaca.


Rahayu hanya menganggukkan kepalnya saja karena mulutnya masih penuh dengan nasi.


“Eh kenapa nangis mas?”.


“Aku terharu akhirnya aku bisa punya anak dari kamu, cita-cita yang slalu aku semogakan kini terjawab sudah oleh yang kuasa, aku tak tega sayang lihat kamu melahirkan kayak tadi ingin rasanya bisa menggantikan di posisimu”.


“Tidak sayang itu memang sudah tugasku”.


Keduanya kembali saling berpelukan dengan haru.


“Hem...hem...ingat masih basah anak masih bayi baru lahir”, goda Mama yang masih dalam ruangan yang sama ketika melihat anak dan menantunya saling berpelukan.


Rahayu tampak memerah pipinya dengan ucapan sang mama, sementara Andika malam semakin menggoda.


“Biasah ma, lagi rundingan buat adiknya Aska setelah ini”.


Semua rang yang ada dalam kamar tersebut tertawa bersamaan.


Reflek Rahayu mencubit lengan suaminya dengan gemas, bisa-bisanya berkata seperti itu di tengah-tengah keluarga.


Menjelang malam Bunda dan Ayah pamit terlebih dahulu untuk pulang, jika memungkinkan mereka berjanji besok akan berkunjung kembali. Sedang Ibu dan Bapak lebih memilih untuk turut serta menginap di rumah sakit menemani Rahayu dan bayinya.


Mama dan Papa Andika juga turut serta pulang untuk mempersiapkan acara penyambutan baby Aska yang akan lekas di selenggarakan besok.

__ADS_1


***


Dua hari kemudian Rahayu sudah di persilahkan untuk pulang, hanya saja harus kontrol rutin, kontrol dapat di lakukan di rumah sakit terdekat rumah mereka. Andika menyiapkan supir khusus yang akan membawa keluarganya untuk kembali ke Malang.


Baby Aska masih terlelap dalam dekapan Ibu, sedang Andika membantu memapah Rahayu untuk berjalan menuju mobil dan bapak membawa beberapa perlengkapan yang mereka bawa ketika di rumah sakit.


Dengan sabar dan penuh cinta Andika menggandeng istrinya yang kecantikannya bertambah sempurna setelah bergelar menjadi seorang ibu.


“Pelan-pelan sayang”, Andika membiarkan pundaknya sebagai tumpuan Rahayu untuk naik di atas mobil, setelah itu ibu memberikan Aksa di pangkuan Rahayu.


Sedangkan Bapak dan Ibu membawa mobil sendiri dan mengikuti mereka dari belakang.


Mobil berjalan dengan cukup pelan dan hati-hati seperti permintaan Andika, takut istrinya terkena guncangan yang akan membuatnya menjerit kesakitan.


“Lihatlah sayang wajah Aska di ganteng sekali bukan, kulitnya putih bersih seperti kita, hidungnya mancung sekali seperti aku. Matanya seperti kamu dan coba lihat rambutnya tumbuh sangat lebat dan lurus seperti kamu. Sungguh kombinasi terbaik yang Allah ciptakan untuk kita. Semoga kelak Aska tumbuh menjadi pria yang sholeh dan bertanggung jawab serta memiliki kepribadian yang bagus”.


Do’a Andika yang begitu panjang untuk anak tercintanya.


Rahayu mengamini setiap ucapan sang suami dan kembali memandang wajah Aska yang memang benar-benar mirip dengan bapaknya.


“Sayang kamu capek?, sini biar Aska aku saja yang gendong”. Tangannya meraih tubuh kecil bayi tersebut dan memindahkan dalam pangkuannya.


Andika mengelus lembut pipi aska yang tampak bulat sempurna dengan begitu gemasnya.


“Oek...oeek....oek....”.


“Duh mas jangan di buat mainan dong anaknya, kan jadi nangis lagi tuh”, ucap Rahayu dengan kesal karena setiap kali Aska dalam gendongan Andika dia akan slalu menangis, tangan sang Papa tidak bisa di kondisikan dengan baik, tak sabar ingin menjalani dan memegang-megang wajah imut anaknya.


“Ya Allah, namanya saja kagum sayang gemas sekali aku”.


“Sini biar aku saja yang gendong’, dengan cekatan Rahayu memindahkan Aska dalam dekapannya tak lupa Rahayu lekas menyusui baby itu agar lebih tenang. Tangannya menepuk-nepuk lembut sang bayi memberikan ketenangan dan kedamaian. Hingga tak butuh waktu yang lama Aska kembali tertidur dengan begitu lelapnya.


Satu jam perjalanan dari rumah sakit, sampailah mereka di rumah Andika.


Surprise......


Ucap serempak orang yang ada dalam ruang tamu rumah itu.

__ADS_1


__ADS_2