
Malam harinya Rahayu di buat keteteran dengan serangkaian tugas yang tak kunjung di pahami maksud dan tujuannya. Rahayu membolak-balik halaman yang ada di jurnal tersebut, tapi sayangnya hasilnya nihil otaknya belum sampai untuk mencerna isi jurnal tersebut.
Dua jam berlalu Rahayu masih bergulat dengan serangkaian jurnal yang ada, sesekali dia mencari literatur dari beberapa buku yang lain untuk menemukan solusinya.
“Ya Allah mana jurnalnya gak ada yang bahasa Indonesia pula”. Gerutu Rahayu dengan memegangi kepalanya yang mendadak nyeri.
Empat jam berlalu tak kunjung menemukan pla pa yang di cari. Rahayu memutuskan untuk menutup semua buku yang ada di depannya dan beranjak tidur begitu saja.
Sungguh dia kesal sekali dengan tugas ini.
***
Tak ingin menyerah dengan tugas yang di berikan sang dosen, pagi-pagi sekali Rahayu pergi ke perpustakaan berharap di sana menemukan setitik pencerahan untuk mengerjakan tugasnya.
Ya Rahayu memang keras kepala dan pantang menyerah dengan apa yang sedang di hadapinya. Berkali-kali keliling ke lorong-lorong rak buku yang ada di perpustakaan tersebut demi mendapatkan sebuah jawaban untuk kasusnya.
Waktu beranjak semakin sore, tapi sayangnya Rahayu sama sekali belum menemukan jawabannya.
Karena lelah Rahayu beristirahat sejenak di cafetaria samping perpus dengan memesan segelas coklat hangat, berharap setelah minum coklat hangat akan mendapatkan ilham untuk mengerjakan tugasnya.
Sementara itu masih di cafetaria yang sama, Andika sedang menikmati makan siang menuju sorenya bersama dengan rekan-rekan seprofesinya. Mereka baru saja mengikuti workshop di gedung sebelah. Sebelum pulang mereka singgah sejenak di cafetaria untuk sekedar ngobrol dan bercanda bersama.
Andika tampak bercengkrama bersama dengan teman-temannya, menceritakan kejadian lucu yang terjadi saat workshop tadi di susul dengan tawa beberapa temannya yang ada di meja tersebut.
Beberapa waktu kemudian, teman-teman Andika satu persatu berlalu meninggalkan meja tersebut untuk pulang, sedang Andika masih duduk di sana enggan untuk beranjak pulang. Baginya jika pulang maka akan bertemu dengan kesunyian dan kesepian, sedang jika di kampus Andika akan merasa ada keramaian yang membuat hatinya tidak terasa sendiri.
Menyadari Andika yang enggan untuk bangkit dari kursinya, Ratna kembali mengurungkan niatnya untuk pulang. Ratna memilih untuk tinggal di cafetaria tersebut dan menemani Andika. Sedang yang di temani sama sekali tak merasa membutuhkan teman.
“Bapak tidak pulang?”.
“Silahkan bu duluan saja, saya mau di sini sebentar”.
“Oh tidak pak, kebetulan saya sedang tidak sibuk hari ini jadi bole dong pak kalau saya temani saja di sini sekarang?”. Tawar Ratna pada Andika.
__ADS_1
“Oh iya bu terima kasih tapi tidak perl repot-repot saya sudah terbiasa sendri”.
“Tidak pak, saya benar-benar tidak repot dan memang ingin menemani bapak”.
Andika tak punya pilihan lagi untuk menolak tawaran Ratna, wala sebenarnya hatinya malas sekali bertemu dengan wanita model begini.
Bu Ratna bercerita banyak hal di meja tersebut, mulai dari pengalamannya dlu selama sekolah, awal merintis karis di sini sampai hal-hal yang bersifat pribadi juga di ceritakan oleh Ratna pada Andika, sedangkan Andika enggan untuk menanggapi hanya menganggukkan kepala saja.
Sementara itu Rahayu masih duduk di cafetaria dengan memegangi kepalnya yang semakin pusing, karena tak kunjung menemukan jawaban atas kasusnya. Wajahnya mulai murung, rasa lelah mulai menyapa tubuhnya, ya maklum karena seharian tadi pikiran dan tenaga Rahayu terkuras untuk masalah ini.
Ingin rasanya dia bertanya pada mahasiswa magister yang lebih senior, tapi sayangnya Rahayu sama sekali tak mengenal di antara mereka. Berbeda dengan mahasiswa S1 yang dapat dengan mudah di temui dan di ketahui mana senior dan mana juniornya. Jika di S2 akan susah menemukan mana yang senior dan junior karena memang mahasiswanya hanya sedikit.
Lelah mendengarkan segala cerita dari Ratna, Andika mulai memandang sekitar cafe berharap menemukan sesuatu yang bisa di jadikan alasan untuk meninggalkan meja tersebut.
Matanya memindai satu persatu pengunjung cafetaria tersebut dari ujung ke ujung. Andika mengamati satu persatu aktivitas yang di lakukan orang-orang yang ada di cafetaria tersebut.
“Hem”.
Kala mendapati sosok yang tak asing baginya.
“Rahayu”. Ucap Andika dengan spontan kala melihat wanita yang duduk di kursi bagian ujung kanan kafetaria tersebut.
“Ah gak mungkin, masak iya Rahayu ada di sini yang ada dia sekarang lagi honeymoon”. Batin Andika dengan kesal.
Membayangkan saja sdah cukup membuat hatinya kesal dan panas.
Tapi rasa penasarannya jauh lebih tinggi. Andika kembali memandang arah yang sama saat menemukan Rahayu.
Namun sayangnya kursi tersebut sudah di duduki oleh orang lain sedang Rahayu sdah kembali masuk ke dalam perpustakaan.
“Ya Allah benarkan anya ilusiku saja”. Andika meraup wajahnya dengan kasar.
“Bu saja permisi pulang dulu ya, ini sudah mau petang biar gak malam-malam kala sampai rumah”. Pamit Andika pada Ratna.
__ADS_1
“Buru-buru saja sih pak pulangnya, kayak sdah punya istri saja.
“Latihan bu, kali aja setelah ini ketemu jodoh saya”. Pamit Andika dan langsung meninggalkan meja tersebut.
Sementara Ratna yang mendapat jawaban seperti itu langsung tersenyum dengan malu-malu. Ratna beranggapan itu adalah kode dari Andika untuknya.
***
Waktu berlalu dengan begitu cepatnya, karena merasa lelah dan tak kunjung untuk menemukan jawaban atas kasus yang di berikan leh dosennya Rahayu memutuskan untuk pulang saja. Ingin rasanya lekas merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.
Sesampainya di rumah Rahayu lekas membersihkan badanya dan makan kembali untuk mengisi tenaga. Rahayu kembali bergelut dengan jurnalnya rasanya tak tega jika membiarkan tak mengerjakan tugas tersebut.
Rahayu akan merasa bersalah pada Reno dan orang-orang yang selalu mendukungnya ketika tak menyelesaikan kewajibannya dengan benar.
Pukul satu dini hari, Rahayu memutuskan untuk menyudahi pengerjaan tugas tersebut, meski dia yakin semua yang dikerjakan jau dari kata benar tapi setidaknya dia sudah berusaha untuk menyelesaikan tugas tersebut.
***
Dalam ruangan yang bernuansa biru tersebut Andika kembali membuka album yang belum lama ini dia simpan dengan begit rapatnya. Tangannya meraih satu album memory. Membuka lembaran demi lembaran album tersebut.
Wajahnya berubah-ubah dari tersenyum, sedih dan kembali tersenyum kala melihat satu persatu lembaran tersebut. Hatinya terasa nyeri kala melihat senyum mengembang di waja mungil sang pujaan hati yang sudah menjadi istri orang.
Matanya kembali mengembun melihat sosok dalam foto tersebut.
“Ya Allah tolong bantu aku untuk melupakan sema ini, tolong lekas datangkan jodoh terbaik untukku, aku ingin menikah”.
“Ya Alla berilah kelapangan untuk hatiku menerima kenyataan ini, sembukan lukaku”.
“Semoga kamu bahagia Yu dengan hidupmu yang sekarang”.
Andika menutup album tersebut dan mengembalikannya pada tempat semula, Andika kembali meringkuk di atas kasurnya. Pikirannya terbang berkelana entah ke mana.
Air matanya kembali menetes. Ya Andika tertidur dengan tangisannya.
__ADS_1