Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Molen dan Donat


__ADS_3

Aku masih terjaga hingga sepanjang malam, entah mengapa rasa kantuk tak datang juga, suasana malam kian sunyi dan sepi, hanya beberapa saat terdengar suara tikus di dapur yang sedang berlari-lari, mungkin mereka sedang berebut makanan atau mungkin mereka sedang mencari pasangan. Entahlah hanya tikus yang tau.


Meskipun sudah satu bulan di sini, namun aku belum terlalu banyak mendapatkan teman di kos ku. Aku lebih senang untuk sendiri, aku enggan untuk mengenal mereka terlalu dalam, hanya sekedar hay kalau sedang berpapasan.


Aku juga malas untuk berbagi kisah pada yang lain, karena sebagian besar dari mereka hidup dalam kecukupan, mereka tak pernah merasakan kekurangan seperti aku.


Aku lebih memilih makan sendiri dikamar, di bandingkan dengan makan bersama-sama dengan teman-teman, saat tiba makan siang atau malam.


Aku lebih memilih sendiri menikmati duniaku di kamar. Makan bersama dengan teman-teman hanya akan menambah beban hidup saja. Karena setiap kali makan mereka biasanya dengan menu komplit lauk, sayur beserta minumnya es, sedangkan aku terkadang hanya makan dengan sayur saja atau ikan saja. Minumnya pasti air galon isi ulang.


***


Nampaknya pagi mulai menyapa, terdengar alunan suara azan subuh, aku bergegas untuk menjalankan kewajiban sebagai seorang muslimah pada umumnya, lantas ku lanjutkan dengan mengaji surah al-waqiah, seperi yang biasa dilakukan ibuku saat di rumah. Setelah menjalankan kewajiban seperti biasa, aku turun ke lantai bawah untuk mencuci baju. Nampak tak seperti hari biasa pada umumnya, pagi ini sangat ramai.


Terdengar beberapa kamar ricuh dan ada beberapa MUA di sana, rupanya hari ini ada wisuda. Beberapa mbak kos ada yang wisuda juga. Terlihat dari wajah mereka yang mulai di rias oleh MUA, ada yang sudah berganti baju, ada yang mengantri untuk mandi dan ada yang mulai untuk memasang hijabnya. Biasanya jam segini kosan masih sunyi senyap tanpa suara.


“Permisi mbk, hari ini ada wisuda”.


“Iya dek hari ini ada wisuda, periode 3 angkatan 2007-2008”.


“Wisudanya di mana mbak?”.


“Di kampus gedung Sa**r**a, yang kemarin kamu pakai buat ospek Universitas dek”.


“Selamat ya mbak turut berbahagia semoga berkah dan manfaat ilmunya, Aamiin”.

__ADS_1


Aku melanjutkan kembali tujuanku ke kamar mandi dan mencuci beberapa potong baju sekalian menjemurnya. Setelah itu aku kembali lagi ke kamar, rasa kantuk mulai datang. Pagi itu masih sangat gelap baru jam 5 pagi, baiknya aku tidur dulu sebentar lagian hari ini sabtu tak ada jadwal kuliah juga.


Suasana dilantai bawah semakin ramai, terlihat keluarga dari beberapa mbak-mbak sudah pada datang dan bersiap-siap menuju lokasi.


“Ah aku mau ikut juga, pengen lihat bagaimana suasana ketika wisuda”, tentunya berangkat sendiri dong. Baiklah aku siap-siap dulu.


Sesampainya di kampus, suasana terlihat sangat ramai sekali tak seperti hari biasa pada umumnya, jika hari sabtu dan minggu kampus tampak sepi. Hari ini banyak sekali mobil yang berjejer di sepanjang jalan pintu masuk, hingga semua parkiran penuh.


Nampak beberapa orang tua yang baru datang, memakai baju senada dengan anggota keluarga yang lain. Ada pula yang memakai kebaya sama persih dengan anaknya yang sedang wisuda. sebagian besar datang bersamaan dengan anaknya. Terlihat pula ada orang tua yang merapikan baju dan toga anaknya. Ada pula yang menggandeng tangan anak mereka menuju tempat upacara wisuda. Tampak haru dan bahagia.


Suasana sangat ramai sekali seperti ada hajatan. Banyak tukang foto yang mulai memasang tenda-tenda untuk berfoto, dengan latar buku-buku yang bertumpuk seperti pada umumnya.


Aku kagum melihat keramaian ini, karena ini pertama kali aku melihat suasana prosesi wisuda. Tampak ada beberapa mahasiswa pula yang berjualan di sana, aku mengamati aktivitas mereka.


Mungkin ini jawaban dari segala kerisauan ku semalam, aku akan mecoba mendapatkan uang lewat jalur jualan.


Beberapa mahasiswa ada yang berjualan buket bunga, ada yang berjualan sovenir khusus wisuda, ada yang jualan makanan dan minuman. Ada pula yang menawarkan jasa dokumentasi foto.


Aku tak punya modal yang banyak, dan waktu yang tersisa hanya sebentar, lantas aku mulai terfikir, untuk berjualan kue saja, tak perlu modal yang besar, tak perlu buat aku hanya tingal mencari wadah saja sebagai tempatnya.


“Ya baiklah mungkin ini jalannya, untuk menambah uang bayar kos”.


Aku bergegas untuk kembali ke kos ku, aku berlari karena waktu wisuda hanya sebentar, setelah ini para wisudawan dan orang tua akan keluar. Semakin cepat aku kembali ke kampus dengan membawa kue semakin bagus.


Sesampainya di kos, aku langsung menuju dapur mencari sesuatu yang bisa ku gunakan sebagai tempat penyimpanan kue. Aku menemukan box transparan putih yang lumayan besar lengkap pula dengan tutupnya. Tentu saja bukan punyaku. Aku bergegas mengambil dan mencucinya.

__ADS_1


Ku ketuk beberapa pitu kamar yang deket dengan dapur, untungnya masih ada orang di sana.


“Permisi, mbk box ini punya siapa?”.


“Maaf aku tidak tau, bukan punyaku” beberapa jawaban dari kamar yang aku ketuk.


Ah sudahlah siapa pun yang punya maaf aku pinjam sebentar ya.


Aku langsung berjalan menuju toko deket kos ku, aku kemarin sempet membeli donat dan molen di sana, ukurannya lumayan besar jadi bisa untuk mengganjal perut yang lapar.


Aku membeli 50 buah terdiri dari 25 molen dan 25 donat dengan harga Rp 1000,- per pcs. Ku pilih yang paling besar-besar biar semakin menggugah selera yang pembeli.


Setelah membeli molen dan donat aku lantas menuju kampus kembali, kali ini aku tidak berlari aku berjalan seperti biasah, aku takut kalau nanti kuenya jatuh. Mungkin di sini yang ikut berjualan dan masih maba hanya aku saja, sebagian besar mahasiswa berjualan untuk kepentingan organisasi atau suatu acara, namun tidak dengan ku.


Aku berjualan untuk diriku sendiri, untuk menyambung hidup di sini. Mungkin terlihat egois tapi begitulah keadaan.


Mulailah ku tawarkan kue ku ke beberapa orang di sana, aku tak peduli dengan beberapa orang yang memandangku, karena aku berjualan sendiri, tidak seperti mahasiswa yang lain yang berjualan dengan bergerombol sepertinya satu kelompok yang sedang menjalankan misinya.


Ku hampiri hampir setiap orang yang sedang bergerombol di sana, untuk menawarkan kue. Aku mandar-mandir dan terus berjalan dari satu ujung ke ujung area gedung wisuda itu.


“Permisi pak, permisi buk kue- kue, kue nya enak manis-manis”.


Begitulah terus hingga semua dagangan habis tak tersisa, yang tersisa lelah karena aku berjalan tanpa istirahat dari mulai pagi tadi hingga menjelang dzuhur.


Aku duduk sejenak di masjid Rad** Pa*ah sambil menunggu sholat, tiba-tiba aku merasakan asin di mulutku rupanya keringat dari keningku yang mengalir dan menetes karena panas-panasan berkeliling dari ujung ke ujung.

__ADS_1


Aku lelah sekali, kini aku mengerti mengapa keringat dan air mata rasanya asin, karena setiap perjuangan tak ada yang manis.


__ADS_2