Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Pemakaman


__ADS_3

Semua keluarga sudah berkumpul di kediaman rumah bunda Reno termasuk keluarga besar Rahayu yang langsung meluncur ke Gersik pagi itu juga. Deretan karangan bunga sudah berjajar dengan begitu rapinya di sepanjang jalan menuju rumah Reno.


Sejak kepergian Reno untuk selamanya Rahayu enggan untuk meninggalkan sisi suaminya tersebut, Rahayu memilih untuk satu mobil dengan suaminya di temani bunda dan ayahnya, sedangkan ibu dan bapak Reno menggunakan mobil yang berbeda.


Berbeda dengan kedatangan mereka beberapa hari yang lalu di sambut dengan tawa dan suka cita dari semua keluarga, kepulangan mereka kali ini membawa pilu dan kesedihan yang luar biasa.


Semua merasa kehilangan dengan begitu sangat tiba-tibanya, semua bersedih dan semuanya menangis kala iring-iringan mobil yang membawa Reno memasuki halaman pekarangan rumah.


Rahayu lekas di sambut dengan ibunya, di papah masuk ke dalam rumah. Semua tetangga dan kerabat juga sudah hadir di sana kali ini tidak mengucapkan kata selamat seperti minggu lalu, namun ucapan bela sungkawa yang membanjiri Rahayu.


Sakit.


Sedih begitulah kira-kira rasanya.


Sepanjang persiapan pemakaman Rahayu sama sekali tak beranjak dari sisi sebelah suaminya, dengan lantunan ayat-ayat al-quran yang dibacakan tamu yang datang, mata Rahayu tak henti-hentinya memandang wajah teduh Reno yang sudah beristirahat dengan begitu tenangnya. Sesekali Rahayu kembali berbisik pada Reno.


“Mas gimana sudah tidak sakit lagi kan tangan dan kepalanya?’.


Kemudian Rahayu kembali terisak-isak kembali.


Setelah semua persiapan pemakaman selesai Rahayu di perkenankan untuk mencium kening Reno untuk yang terakir kalinya. Rahayu menarik nafas dalam-dalam dan mencium kening suaminya dnegan begitu lama. Rahayu juga membelai dengan lembut kepala Reno sebelum jenazah di tutup dan di bawa ke pemakaman.


“Sayang apa kamu bahagia kamu pasti bahagia sekali ya akan berjumpa Allah. Kalau kamu bahagia aku juga bahagia mas”.


Rahayu kembali terisak-isak di sebelah Reno dan lagi-agi ibunya lah yang menenangkan dan memeluknya dengan begitu damai.


“Sabar ya nak, ikhlaskan Reno semoga tenang di sana”.


“Ibu”.


Rahayu memeluk ibunya dengan sangat erat.


Ketika jenazah Reno hendak di berangkatkan ke pemakaman Rahayu dengan begitu setianya turut mendampingi namun sayangnya tubuhnya tak mampu berdiri dengan tegak.


Rasanya sungguh melayang dan tak bertulang. Meskipun banyak yang melarang untuk ikut ke pemakaman karena kondisi Rahayu yang tidak memungkinkan, tapi Rahayu tetap memaksa ingin melihat suaminya untuk yang terakhir kalinya. Dengan sigap keluarga yang ada lekas memapah dan membantu Rahayu untuk berjalan.


Semua pelayat yang datang prihatin melihat kondisi Rahayu.

__ADS_1


“Kasian ya pengantin baru sudah harus di tinggal suaminya pergi selamanya’.


‘Kasian ya masih muda, cantik sudah jadi janda”. Dan masih banyak lagi kata-kata yang terucap oleh peziarah yang datang.


Sesampainya di pemakaman tangis Rahayu kembali pecah untuk kesekian kalinya, Rahayu sungguh menyesal telah menyianyiakan waktu yang ada saat bersama Reno yang hanya sebentar saja.


Sepeninggalan orang-orang yang mengantarkan Reno ke tempat peristirahatan yang terakhir Rahayu masih enggan untuk pulang. Rahayu kembali tersungkur di atas nisan sang suami.


“Mas tunggu aku di sana ya”.


Rahayu menunjuk satu tempat kosong di sebelah makam Reno.


“Mas kamu yang tenang ya di sana, semoga Allah mengampuni segala dosa-dosa kamu. Kamu orang baik mas. Aku bersaksi itu”.


“Sudah ya nak jangan menangis terus kasihan Reno, kita pulang ya’.


Ibu meraih tangan Rahayu dan kembali memapahnya untuk membantu berjalan dan membawanya pulang.


***


Sesampainya di rumah buda Reno keluarga besar masih berkumpul di sana termasuk orang tua Rahayu. Beberapa anggota keluarga yang lain masak mempersiapkan makanan untuk makan bersama karena dari kemari malam sejak kabar Reno kecelakaan di terima oleh pihak keluarga. Keluarga belum ada yang makan sama sekali.


Bujuk ayah Reno pada menantunya yang terlihat begitu kelelahan tidak tidur semalaman.


“Rahayu di sini saja yah, Rahayu belum siap untuk ke kamar. Bayangan mas Reno masih begitu jelas tergambar di sana’.


‘Baiklah kalau begitu ayah mengantar bunda istirahat dulu ya, sepertinya bunda sangat kelelahan tensinya juga naik banyak pikiran dan kaget.


Rahayu hanya menganggukkan kepala saja.


Rahayu duduk di ruang tengah dengan beberapa adiknya yang menemani tak ada sepatah katapun yang di ucapkan matanya menatap ke depan namun tak tau apa yang menjadi fokus pandangannya. Pandangannya begitu hampa dan merana.


“Nak makanannya sudah siap, makan dulu ya”.


Ibu datang menepuk punggung Rahayu membuyarkan lamunan anaknya yang sudah ke mana-mana.


Ibu Rahayu menyerahkan satu piring nasi dengan sayur sop dan lauk ayam goreng lengkap dengan tahun dan tempe, tak lupa bude mengantar makanan juga untuk bunda Reno yang masih di kamar.

__ADS_1


Semua keluarga berkumpul di ruang tengah menikmati makanan yang ada, sekilas Rahayu melirik makanan yang sudah di siapkan ibunya.


Matanya kembali berair tak kala melihat sayur sop. Rahayu teringat akan kejahilannya pada Reno beberapa hari yang lalu, dengan sengaja dia menambahkan satu sendok makan garap di atas mangkuk sop yang di hidangkan pada Reno. Bukan kemarahan yang di dapat tapi malah pujian yang iya terima.


“Masakan ini indah sayang, biar aku yang mengabiskan seperti saat aku menutup aib kamu dengan sempurna”.


“Pengorbanan getir di lidahku baru terasa saat istri cantikku tidak ikut merasakan getir yang aku rasakan”.


Tes


Air mata Rahayu kembali jatuh tak kala mengingat sepenggal kenangannya bersama dengan Reno mengingat setiap kata-kata yang di ucapkannya dengan sempurna.


“Lo kenapa nak? Apa masakannya tidak enak”.


Rahayu tak sanggup untuk berbicara hanya mempu menggelengkan kepala saja.


“Kenapa? Ibu suapin ya?”.


Ibu meraih mangkuk yang ada di pangkuan Rahayu dan menyuapi anak sulungnya dengan begitu sabarnya.


Air mata Rahayu tak berhenti mengalir saat satu suapan mendarat di mulutnya.


“Kenapa mbak? Di makan dulu ya biar tidak sakit”.


Kali ini adik Rahayu menepuk-nepuk punggung mbaknya mencoba menguatkan.


“Aku teringat mas Reno, beberapa hari yang lalau aku masak sop dan rasanya asin sekali, aku sengaja menambahkan banyak garan di dalamnya”.


Rahayu tak mampu meneruskan kata-katanya begitu juga makannya, Rahayu tak kuasa menelan sup tersebut.


Keluarga yang menyaksikan turut menangis di buatnya. Beberapa saat kemudian semua keluarga sudah selesai dengan makannya. Bude dan bulek Rahayu merapikan semua sisa makanan yang ada sedang sebagian yang lain beristirahat mengelar tikar di ruang tengah.


Sedangkan Rahayu akhirnya tertidur meringkuk di depan tv, anggota keluarga yang melihatnya menatap dengan kasihan.


“Kasihan sekali Rahayu dengan umur semuda itu sudah menjadi janda”.


Tak terasa kedua orang tua Rahayu yang menyaksikan anaknya tertidur meringkuk di kursi turut meneteskan air mata.

__ADS_1


Ya bapak Rahayu laki-laki yang dari tadi mencoba tegar dengan kepergian menantu pertamanya kini pertahanannya goyah ketika melihat anak perempuannya. Sudut matanya berair memandang pilu wajah ayu Rahayu yang tertidur meringkuk di atas kursi.


__ADS_2