Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Kepergian Andika


__ADS_3

“Maaf mbak tidak bisa, kalau tidak ada tiket tidak di perkenankan untuk bisa masuk ke dalam sana”.


“Sebentar saja pak, hanya sebentar saja ada hal yang harus saya sampaikan pada teman saya".


“Maaf mbak sekali lagi tidak boleh, jika ingin masuk dan menemui teman mbak sebaiknya mbak membeli tiket dulu.Tiket bisa di beli dengan on line atau off line". Petugas stasiun itu menunjukan loket penjualan tiket pada Rahayu.


“Pak tolonglah”, Rahayu meminta dengan sangat memelas di titik nadirnya.


“Sekali lagi maaf Mbak tidak bisa",


“Pak tolonglah pak, tolong saya ijinkan saya untuk masuk sebentar saja. hanya sepuluh menit saja pak tidak akan lebih saya berjanji".


"Saya hanya ingin bertemu sebentar dengan teman saya pak”. Rahayu kembali mengiba pada petugas stasiun dengan wajah yang sangat memelas.


Hanya saja semuanya sia-sia tak ada hasilnya.Petugas stasiun tersebut hanya menjalankan tugasnya dan tidak berani melanggar SOP yang sudah ada.


Beberapa saat kemudian terdengar suara dari petugas stasiun yang mengatakan bahwa kereta api dengan tujuan Jakarta akan berangkat sekarang. Penumpang di harapkan untuk bersiap-siap.


“Selamat pagi, penumpang yang kami hormati sesaat lagi kereta api Gaya Baru Malang selatan akan di berangkatkan dari stasiun kota baru Malang dengan tujuan akhir stasiun Pasar Senin Jakarta dengan pemberhentian Cirebon, Klaten, Kebumen akan segera di berangkatkan. Penumpang harap bersiap-siap.


Tubuhku seketika meremang mendengar instruksi petugas stasiun tersebut, mataku mulai berkaca-kaca butiran bening itu seakan tak bisa lagi aku bendung.


Tes


Air mata kembali membanjiri wajahku.


Aku tak bisa berfikir dengan jernih, aku tidak tau harus berbuat apa untuk bisa menemui mas Andika.


Aku melihat sekitar stasiun, mencari sosok mas Andika di tengah kerubutan penumpang yang akan berangkat.


Mataku tak berhenti mencari satu persatu penumpang yang akan berangkat.


“Mengapa banyak sekali penumpang yang akan berangkat, aku kesulitan untuk menemuka mas Andika”.


Aku kembali mencari mas Dika.


Ditengah kerumunan orang-orang yang hendak bepergian.


Aku kembali mencari, mencari sosok yang kucintai.


Mas kamu di mana?.

__ADS_1


Mataku kembali fokus untuk mencari.


Dan aku menemukannya.


Mas Andika itu mas Dika.


Postur tubuhnya, baju yang digunakannya aku hafal sekali, dan tas yang dipakai masih sama seperti yang biasanya dia pakai saat ke kampus.


Mas Andika tengah duduk di ruang tunggu sembari memainkan ponselnya terlihat sedang menunggu kehadiran seseorang.


Saat mendengar kembali instruksi dari petugas bandara mas Andika lekas berdiri dan mulai berjalan perlahan menuju tempat pesawat yang akan berangkat.


“Selamat pagi , penumpang yang kami hormati, selamat datang di kereta api Gaya baru Malang yang akan mengantar kita ke tujuan akhir stasiun Pasar Senin Jakarta. Perjalanan ini menempuh waktu tiga belas jam. Jika anda membutuhkan sesuatu atau informasi lainnya anda dapat menghubungi petugas yang sedang bertugas saat ini.


Selamat menikmati perjalanan anda.


Tott


Benar saja aku tidak salah orang itu adalah mas Andika, dan di sebelahnya adalah mbak Eki dan orang tuanya yang ikut mengantar keberangkatan mas Andika. Mereka berjalan beriringan menuju ruang pemberangkatan.


Kenapa harus ikut? bukankah mbak Eki harus menyelesaikan pendidikannya di sini? dia kan belum lulus.


Banyak sekali pertanyaan yang hinggap di kepalaku.


Dan orang tua mereka?.


Iya itu orang tua mbak Eki dan mas Dika juga ikut mengantar.


Aku kembali mencoba berteriak sekuat tenagaku, sekencang-kencangnya.


Berharap salah satu di antara mereka ada yang mendengarnya.


Mas Andika... mas Andika aku Rahayu, aku datang.


Aku masih saja berteriak memanggil mas Andika.


Mas Dika, mas aku di sini aku Rahayu.


“Mbak tolong jangan berisik mengganggu ketenangan pengunjung stadiun saja”. Petugas stasiun itu mencoba menghentikan suara teriakanku, sayangnya aku tak peduli aku kembali memanggil nama mas Dika bahkan dengan lebih kencang lagi.


Mas Andika, mas Dika. Mas ini aku Rahayu, mas dengarkanlah.

__ADS_1


Tapi sayangnya rencanaku tak berhasil, bukan mas Andika yang mendengar teriakanku, bukan juga orang tua mas Andika atau orang tua mbak Eki tapi mbak Eki, iya mbak Eki yang mendengar teriakanku.


Kemudian mbak Eki berbalik badan dan menatapku dengan tajam seperti kobaran perang yang siap untuk dilakukan. Mbak Eki juga memberiku sinyal untuk diam dan tutup mulut dan pergi menjauh dari kami.


Begitulah kira-kira instruksi mbak Eki lewat tangannya.


Tangannya yang melambaikan menyuruh pergi.


Tapi aku tak peduli dengan ancaman mak lampir.


“Mas Andika mas tolong mas lihat ke belakang, aku ada di sini menyusulmu”.


Aku berteriak di sisa-sisa suaraku yang masih ada namun sudah tidak begitu jelas.


Mas Andika hampir saja menoleh kebelakang saat namanya ku panggil di sisa-sisa suaraku, tapi kedua orang tua mbak Eki menghalangi, entah sengaja atau tidak aku tak tau.


Aku lelah, aku sangat lelah. Mas Andika benar-benar tidak menyadari keberadaan ku yang datang ke stadiun untuk menemuinya di sana.


Mas Andika, mas aku minta maaf untuk semuanya, aku menyesal, aku juga ingin mengucapkan banyak terimakasih padamu untuk semua bantuanmu selama ini.


Punggung mas Adika semakin lama semakin menjauh, dia benar-benar tidak mendengarku sama sekali, dan mbak Eki sepertinya tidak mau memberi tahu mas Dika jika aku datang.


Aku kembali menangis.


Mas Dika aku minta maaf mas, mas aku menyesal mas, mas aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu dari awal kita bertemu dulu.


“Mbak tolong diam jangan buat keributan di sini, mbak jadi tontonan orang”. Petugas stasiun mencoba mengingatkan padaku.


Aku tak peduli.


Aku semakin menangis di tempat itu, Tubuhku bergetar hebat hingga aku tak mampu menopang beban dalam tubuhku. Aku tersungkur ke lantai dan masih menangis. Aku memeluk tubuhku sendiri dengan butiran bening yang semakin deras membasahi pipi.


Sekilas di tengah tangisanku terlintas moment-moment saat bersama dengan mas Dika dulu kembali muncul. Sosoknya yang penolong dan tutur katanya yang penyejuk.


Terlintas bayangan saat kami pertama kali bertemu, saat kami mengikuti lomba pekan kreatifitas mahasiswa, saat kami makan bakso, menghabiskan waktu hanya sekedar untuk mengukur padatnya jalanan kota Malang yang terik. Terlintas pula bayangan saat aku dengan tega menyuruhnya untuk menjauh dariku.


Rasa sesal dan bersalah bersatu menjadi satu semakin membuat tubuhku tak berdaya hanya untuk sekedar berdiri aku tak mampu.


Cinta pertamaku sudah pergi, mas Dika sudah tidak di sini lagi, cinta pertamaku kandas layu sebelum sempat bersemi dan tumbuh bersama. Aku dan mas Andika berpisah dalam perasaan yang tersakiti.


Mas Andika aku sayang kamu.

__ADS_1


💔


__ADS_2