
Kini hari-hari Rahayu di hiasi dengan mual dan muntah yang tiada habisnya, tubuh kecilnya begitu lemas tak berdaya kela menghadapi kehamilan pertamanya ini. Tak seperti wanita pada umumnya yang masih bisa beraktivitas kecil, Rahayu benar-benar teler di kehamilan pertamanya.
Tak tega dengan kondisi sang menantu membuat Mama tergerak hatinya untuk merawat Rahayu, Mama akan datang pagi-pagi sekali sebelum Andika berangkat ke kampus. Mama mempersiapkan segala kebutuhan baik untuk Andika dan Rahayu. Mama akan pulang ketika Andika sudah sampai mengajar.
Mama juga membawa serta ART nya untuk membantu Rahayu kala mama tak bisa datang ke rumah mereka. Semua keluarga begitu sigap dalam menjaga Rahayu, hal ini membuat Merisa semakin kesal di buatnya. Merisa tak lagi punya celah untuk datang ke rumah Rahayu. Dengan tegas mama selalu menolak kehadiran nya jika sedang berkunjung dengan alasan Rahayu butuh istirahat dulu.
***
Tiga bulan sudah sejak di nyatakan hamil, kini kondisinya berangsur membaik dan semakin kuat menjalani aktivitas seperti biasanya, meskipun untuk menyelesaikan tugas domestik di rumah Mama mertuanya menganugerahkan Art nya untuk tinggal bersama dengan Rahayu dan Andika. Mbah Minah salah satu orang kepercayaan Mama yang sudah dua puluh lima tahun lebih mengabdi di rumah Mama Andika turut serta merawat Andika dari kecil.
Tak jarang Rahayu sedikit sungkan kala meminta bantuan dari mbah Minah karena beda usia mereka yang sangat jauh. Meskipun mbah Minah sudah cukup umur namun mbah Minah masih sangat cekatan dalam membantu mengurus rumah. Tak jarang mbah Minah juga bercerita tentang masa kecil Andika pada Rahayu yang kadang membuatnya tertawa bahagia. Mbah Minah juga banyak memberikan nasihat tentang kehidupan dan cara-cara mengatasi kehamilan.
Mama berpesan pada mbah Minah untuk benar-benar menjaga Rahayu kalau Andika sedang tidak di rumah, Mama juga berpesan untuk tidak menerima tamu dulu selain yang sudah di kenal selama kondisi Rahayu belum benar-benar fit. Benar sekali tindakan Mama yang begitu over protektif sangat melindungi Rahayu dari niat jahat Mersa yang berkali-kali gagal untuk masuk rumah itu.
***
Malam harinya tepat jam dua belas malam, Rahayu terbangun dari tidurnya, matanya menerjap-nerjap melihat jam dinding di kamarnya. Rahayu menatap wajah Andika dengan cukup lama kemudian mengguncang-guncangkan tubuhnya dengan pelan.
“Mas bangun mas...”. Panggilnya dengan begitu manja sekali.
“Mas ayolah bangun aku lapar sekali”, ucapnya kembali masih dengan mode manja yang teramat sangat hingga mengusik ketenangan Andika.
Mendengar suara istrinya yang begitu manja dan mendayu-dayu membuat Andika tak kuasa dan membuka matanya.
“Iya sayang ada apa?”. Jawabnya dengan suara serak khas bangun tidur.
“Lapar Mas aku mau makan, jawabnya dengan lembut sekali.
__ADS_1
“Ya udah ayok, Mas temani makan di bawah”, jawab Andika dengan meregangkan otot-ototnya mengumpulkan semua nyawanya.
“Tapi aku mau makan seblak mas”.
“Ok besok Mas belikan sekarang tidur dulu ya sayang, lihat tuh jam dua belas malam. Mas ngantuk sekali”. Andika mencoba menidurkan badan Rahayu.
Sedang Rahayu menolak untuk itu, ia merajuk dan tak mau memandang Andika.
“Aku lapar sekarang, maunya makan seblak”. Jawabnya dengan manyun dan membelakangi Andika.
“Belikan sekarang Mas, aku mohon belikan ini baby kita yang minta, iya kan sayang?”, jawab Rahayu dengan mengelus-elus perutnya yang mulai sedikit berisi.
Andika masih enggan untuk beranjak dari kasurnya menimbang-nimbang mencari seblak di mana jam segini.
“Mas ayolah, katanya cinta, katanya sayang”. Kini Rahayu berganti mode dusel mendekat di pelukan Andika. Sesekali Rahayu mencium singkat sudut bibir suaminya demi semangkuk seblak yang berkuah panas membayangkan saja sudah membuat air liurnya hampir menetes.
Andika yang mendapat serangan dadakan tersebut lekas melebarkan matanya, membuka matanya dengan sempurna kesadarannya langsung kembali seratus persen.
“Baiklah kalau begitu mas belikan, tunggu ya sayangku”, Andika mulai berdiri dan membalas ciuman istrinya.
Andika berdiri dari ranjangnya dan kembali menatap jam dinding di kamarnya.
“Sayang benar-benar ingin makan seblak kah? Tidak bisakah di tunda besok saja makannya? Lihat sayang ini jam dua belas malam, kira-kira adakah yang jual seblak jam segini?, Mas harus beli di mana? Apa Mbak Kunti sudah jualan jam segini?”. Andika berjongkok menghadap istrinya memohon untuk tidak menyuruhnya membeli seblak tengah malam begini.
“Ya sudah kalau gak mau gak papa, giliran bikinnya saja rajin sekali, giliran sudah jadi anaknya di minta tolong belikan seblak saja tidak mau!, padahal ini yang mau anaknya bukan aku!. Rahayu kembali merajuk kini dengan menutupi semua tubuhnya dengan selimut.
“Baiklah nak, Papa akan carikan seblak untukmu sayang demi kamu dan Mama, Papa rela keluyuran tengah malam cari seblak”. Andika mengelus perut istrinya yang tertutup selimut.
__ADS_1
“Sayang kalau mas nanti ketemu mbak Kunti bagaimana?”, tanyanya masih mencoba memohon keringanan agar tak keluyuran tengah malam mencari seblak.
“Ya ajak kenalan sekalian kenapa mas”. jawabnya dengan jutek.
Andika masih mondar-mandir di dalam kamar, memikirkan di mana orang yang berjualan seblak jam segini.
“Mas Dika memang gak benar-benar sayang sama aku, di suruh beli seblak saja tak mau hiks hiks hiks”. Rahayu menangis tersedu-sedu.
“Ya Allah padahal cuma seblak doang”. Batin Andika dalam hatinya.
Andika semakin kalang kabut dan resah kala Rahayu tak kunjung untuk menghentikan tangisnya bahkan semakin menjadi-jadi seperti anak kecil yangs sedang meminta permen pada ayahnya.
“Iya sayang aku berangkat dulu ya”.
Rahayu duduk di depan TV ruang tengah menunggu kepulangan Andika mencari seblak, tak lupa ia mengambil beberapa cemilan sehat yang sudah di sediakan khusus oleh mama mertuanya. Tak terasa Rahayu menghabiskan satu bungkus roti tawar dengan keju.
***
Apa yang lebih menjengkelkan dari ini, di bangunkan tengah malam dan di suruh mencari seblak. Andika mencari kesana kemari penjual seblak yang masih buka. Hasilnya nihil tak menemukan sama sekali penjual yang masih buka.
Kini Andika menjalankan mobilnya menuju pusat kota Batu berharap di sana ada yang berjualan seblak dan masih buka. Setalah menempuh perjalanan hampir empat puluh menit akhirnya Andika menemukan orang yang berjualan seblak dan masih buka. Warung tempat nongkrong kaula muda yang buka 24 jam di kawasan alun-alun kota Batu.
Andika memesan dua bungkus seblak dengan level nol, agar istrinya tidak sakit perut nantinya. Dengan sigap setelah mendapatkan seblak tersebut ia segera pulang.
Sesampainya di rumah Rahayu menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman yang begitu membahagiakan membuat Andika lega rasanya ketika dapat menuruti keinginan istrinya.
“Ini sayang seblaknya”, Tangannya terulur memberikan bungkusan seblak tersebut.
__ADS_1
“Aku sudah kenyang mas, makan roti tawar habis satu bungkus”, jawabnya dengan begitu enteng dan melenggang ke kamar.
Andik nangis di pojokan dengan membawa bungkusan seblak di tangan.