Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Novel Baru Jingga


__ADS_3

Bagaimana bisa pernikahan sudah di rencanakan dan siap untuk dilaksanakan harus kacau seperti ini?”. Ucap Pak Angga laki-laki paruh baya yang sedang duduk di ruang keluarga dengan raut wajah penuh kebingungan di kediaman sahabatnya.


Semua anggota inti dalam keluarga tersebut hanya diam membisu tak dapat memberikan jawaban sama sekali.


Bu Lia hanya bisa menangis sesenggukan memikirkan kemana anak gadisnya yang hilang di hari pernikahannya.


“Aku tidak mau tahu, kalian harus tanggung jawab dengan kejadian ini! Aku tak mau malu dengan undangan yang suah datang”, suara pak Angga semakin dingin kala mendapat laporan jika Dahlia telah melarikan diri di hari pernikahannya.


Diam.


Diam, semuanya tak ada yang bisa memberikan jawaban atas hilangnya Dahlia.


Sementara Fajar tersenyum penuh kemenangan, akhirnya ia bisa terbebas dari permintaan konyol sang Papa yang ingin menikahkannya dengan anak sahabatnya.


Masih dalam ruangan yang sama, tiba-tiba Jingga datang membawakan satu baki yang berisi melati segar dan beberapa bunga lainnya, melintas menuju kamar Dahlia. Jingga benar-benar tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Ia dengan begitu tenangnya melangkah menuju kamar majikannya. Karena yang ia tahu semalam di tugaskan untuk merangkai melati dan meletakkan di kamar Dahlia.


“Tunggu!”. Seru pak Angga yang menghentikan langkah Jingga menuju kamar Dahlia.


“Saya tuan”, jawabnya dengan menundukkan kepalanya.


“Siapa kamu?”.

__ADS_1


“Saya Jingga tuan”.


“Dia asisten rumah tangga di rumah ini”. kini pak Hermawan mulai memberanikan diri membuka suaranya.


“Baiklah karena majikan kamu telah kabur di hari pernikahannya, maka mau tidak mau kamu harus menggantikannya untuk menikah dengan anak saya sekarang juga”. Titah pak Angga yang begitu saja keluar dari mulutnya dan membuat semua orang yang ada di ruangan tersebut menganga dan membulatkan mata secara sempurna.


“Saya tidak menerima penolakan apapun”.


“Pelayan cepat rias wajahnya, acara akan dimulai dua jam lagi”.


Dengan sigap semua MUA yang sudah di siapkan untuk merias Dahlia membawa Jingga ke dalam kamar untuk memoles wajahnya.


Sementara Jingga masih diam mematung mencoba mencerna setiap kata yang di ucapkan oleh pak Angga sahabat majikannya tersebut.


Dua jam kemudian.


“Saya terima nikah dan kawinnya Jingga Sekar Ayu Kemuning binti Bramantyo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seratus gram di bayar tunai”. Dengan satu tarikan nafas Fajar Dirgantara sudah sah menjadikan Jingga wanita yang sama sekali tidak ia kenal menjadi istrinya. Begitu pula sebaliknya Jingga gadis cantik itu juga sama sekali tidak mengenal Fajar yang kini menjadi suaminya.


Ini adalah pertemuan pertama mereka berdua. Pertemuan pertama yang sekaligus merubah status mereka menjadi sepasang suami istri.


Bagaimana para saksi? Tanya pak Hermawan yang saat itu menjadi wali nikah Jingga, karena Jingga anak yatim piatu dan tak memiliki sanak saudara.

__ADS_1


“SAH”.


“SAH”, dengan lantang semua orang yang ada dalam ruangan tersebut mengucapkannya.


Semua orang yang ada dalam ruangan tersebut lekas berdoa bersama, tak berselang lama, Jingga keluar dari kamar Dahlia yang di dampingi bu Lia dan juga bu Nadin, dengan balutan kebaya warna putih lengkap dengan jarik dan hiasan melati yang menjuntai di kepalanya. Bu Lia dan Bu Nadin lekas membawa Jingga ke depan Fajar.


Keduanya saling berhadapan dan bersentuhan untuk yang pertama kali, semua terasa begitu entahlah. Jingga dan Fajar saling bertukar cincin, suatu adegan yang membuat Jingga harus mencium tangan Fajar, yang kini telah menjadi suaminya, di balas dengan Fajar yang mencium kening Jingga sekilas. Keduanya tampak sangat canggung.


Tak ada senyuman di antara keduanya.


Acara di lanjutkan dengan pesta pernikahan yang mewah layaknya seperti negri dongeng di salah satu hotel bintang lima yang ada di Surabaya. Acara di hadiri cukup banyak sekali tamu undangan baik dari kolega pak Angga maupun pak Hermawan maklum keduanya sama-sama pengusaha terkenal di Surabaya.


Tak ada senyum tulus yang di pancarkan kedua mempelai yang sedang berada di atas pelaminan, tak ada interaksi yang berarti di antara keduanya sepanjang acara berlangsung. Hanya sesekali saja Fajar menyenggol lengan Jingga menyuruhnya untuk pura-pura tersenyum ketika ada tamu undangan yang mengajak mereka berdua untuk berfoto.


Menjelang tengah malam acara sudah selesai, tamu undangan sudah pulang hanya tinggal beberapa wedding organizer yang bertugas untuk merapikan sisa-sisa acara tersebut.


Fajar berlalu begitu saja meninggalkan Jingga di pelaminan tanpa sebuah kata maupun tindakan.


Sedangkan Jingga di buat bingung harus kemana dan apa setelah acara ini?.


Yuk teman-teman silahkan mampir ke sana.

__ADS_1



__ADS_2