Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Kntraksi


__ADS_3

“Mas perutku kok rasanya gak enak sekali, tiba-tiba kenceng tiba-tiba hilang”, ucapnya dengan cukup tenang dan belum sempat melepas mukenanya.


“Kalau menurut instruktur kelas ibu hamil kemarin ini gejala-gejala mau melahirkan”. Kini Rahayu mulai menarik nafas dalam-dalam kala merasakan gelombang cinta.


“Hah, terus kok malam duduk santai di situ sayang, ayo kita ke rumah sakit sekarang”. Ucap Andika yang mulai panik.


“Gak usah bubu-buru juga Mas, ini rasanya masih hilang-datang, hilang-datang”. Rahayu kembali mengatur nafasnya dan tersenyum.


“Kok gak buru-buru sih, ayo kita cari rumah sakit”.


“Menurut kelas ibu hamil yang aku baca mas, biasanya jika akan melahirkan akan merasakan kontraksi lebih dari delapan jam apa lagi ini kehamilan pertama”.


Kini Rahayu mulai membuka mukenanya melipat dan merapikan jilbabnya kembali.


“Emmm aduh Mas sakit”, desisnya dengan memegang perut buncitnya.


Andika begitu panik dibuatnya.


“Ya Allah sayang ini juga kan sudah mendekati hari perkiraan lahirnya baby, tahan ya tahan”. Andika memapah istrinya dan membawanya ke mobil.


“Duh Mas makin sakit ssshhhh...”. Desisnya dengan memegang perutnya dan mencoba mencari posisi kenyamanannya.


Panik.


Andika panik sampai bingung bagiamana cara menyalakan mobilnya.


“Astagfirullah ini kenapa mobil pake mogok segala”, ucapnya dengan memegang kepalanya.


“Mas jangan panik itu kuncinya belum kamu on kan”, jawab Rahayu dengan menahan rasa sakit yang ada di perutnya.


“Astagfirullah”. Kini Andika mulai menjalankan mobilnya dan memutar arah untuk kembali ke Malang, perjalan mereka ke Surabaya sudah setengah perjalanan.


“Mas kok puter balik sih, kan mau ke Royal”.


“Ya Allah sayang sudah mau lahiran gitu lo, kita ke rumah sakit ya?”. Bujuknya dengan mengelus lembut perut Rahayu.


“Tapi pentolnya gimana mas?, nanti kalau keburu anak kita lahir belum makan pentol jadi ileran gimana?”.


“Ah itu tidak akan mungkin sayang”.

__ADS_1


“Aduh mas kenceng lagi nih sakit....aduh...desisnya dengan menggigit bibir bawahnya”.


“Tuhkan kita balik lagi ya ke Malang, besok biar Mas minta tolong orang buat belikan pentolnya”.


“Mas kasihan anak kita kalau belum sempat makan pentol sudah lahiran”.


“Besok sayang, bagus dong kalau anak kita keburu lahir sekalian besok dia suruh cicipi”. Ucapannya dengan mode panik sesekali mengusap kening Rahayu yang mulai berkeringat.


“Mas...teriaknya aku mau minum haus sekali”.


“Haus ya bentar-bentar aku ambilkan minum dulu”. Mobil Andika menepi mengambil air mineral yang ia beli tadi setelah sholat dan menyerahkan pada istrinya.


“Ah aku gak mau minum yang ini, aku mau minumnya air mineral yang ada manis-manisnya biar anak kita nanti jadi manis”.


“Aduh sakit Mas”, ucapnya dengan sedikit mencengkram lengan suaminya.


Ya Allah udah mau lahiran masih saja protes, sama-sama airnya juga. Sungguh kesabaran Andik benar-benar di uji saat kehamilan istrinya.


“Ya sudah tunggu ya, nanti kalau ada minimarket kita berhenti sebentar beli air ya kamu mau”.


Andika kembali menjalankan mobilnya, Rahayu sedikit tersenyum kala merasakan gelombang cinta itu hilang. Dia kembali menarik nafas dalam dan mengelus perutnya mengajak ngobrol sang anak dalam perut yang sudah siap untuk keluar.


Beberapa menit kemudian kontraksi itu hadir kembali, ia meringis menahan rasa sakit yang tak terkira.


“Sabar ya sayang, mas beli air dulu”, kini Andika turun dari mobil dan mencari air mineral yang ada manis-manisnya, menurut Rahayu air itu baik untuk kesehatan ibu dan anak berdasarkan klaim dan sponsornya yang ada.


“Minumlah sayang”, Andika membeli satu kardus buat jaga-jaga jika kurang di jalan.


“Mau aku nyuruh beli air buat minum bukan buat mandi”. Ucap Rahayu kala melihat suaminya membawa banyak sekali air mineral yang ada manis-manisnya.


Andika hanya tersenyum saja dan kembali menjalankan mobilnya.


Sepanjang perjalanan Rahayu memegang perutnya yang memberikan sensasi tersendiri dalam hidupnya.


“Mas pengen ke toilet”. Ucapnya kembali di tengah-tengah perjalanan yang jauh dari tempat pemberhentian.


“Ya Allah apa lagi ini”.


“Mas mau ke toilet sudah gak tahan lagi”.

__ADS_1


Panik


Panik


“Mau mau ke toilet, bukan mau keluar bayinya cepetan cari kamar mandi”, rengek Rahayu dengan menahan segala rasa mendera yang ada di perut dan tubuhnya.


Andika mulai memperlambat mobilnya mencari toilet umum di sepanjang perjalanan, namun sayangnya tak ada juga. Andika juga mencari keberadaan SPBU terdekat hanya saja masih sangat jauh dari jarak ia berada sekarang. Akhirnya ia memberanikan diri untuk berhenti di salah satu rumah warga untuk menumpang ke toilet.


Setelah meminta ijin dan menejelaskan keadaan istrinya, Andika dan Rahayu di persilahkan untuk masuk. Untungnya pemilik rumahnya baik. Mereka berdua akhirnya melanjutkan perjalanan kembali.


“Sayang gimana rasanya?”.Tanya Andika melirik istrinya kala mendapati sedikit tenang.


“Masih aman mas, tidak terlalu sering kontraksinya”.


Andika mulai bernafas lega dan kembali melanjutkan perjalanan mereka. Tak berselang lama.


“Aduh mas ihhh, kok malah sakit sekali mas uhhh”. Rintihnya dengan satu tangan memegang lengan Andika dan satunya memegang perutnya.


“Mas kok basah bajuku padahal baru aja dari toilet”.


Andika benar-benar panik, menurut buku yang pernah dia baca beberapa waktu lalu itu adalah air ketuban yang sudah pecah atau hanya sekedar merembes.


“Sabar ya sayang sabar”. Kini ia melanjutkan kembali dengan kecepatan tinggi.


TIN...TIN..TIN...


Berkali-kali Andika menyalakan klakson mobilnya mencoba membelah kemacetan.


“Ya Allah ini apa lagi kok tidak gerak sama sekali jalannya”.


TIN...TIN...TIN...


Tak sabar dengan kondisi yang ada, Andika lekas turun dari mobil dan melihat keadaan di depannya, rupanya sedang ada kecelakaan lalu lintas, polisi dan warga sekitar mulai membantu mengurai kemacetan yang ada.


“Astaga bagaimana ini?”.


Panik Andika mondar mandir mencari bantuan.


Sementara Rahayu dalam mobil mengusap-mengusap perutnya yang semakin kencang.

__ADS_1


“Pak...Pak Polisi saya bisa nebeng ke rumah sakit, istri saya mau lahiran”, ucapnya dengan wajah yang panik dan keringat memenuhi seluruh tubuhnya.


Nih baby benar-benar ngerjain bapaknya.


__ADS_2