Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Menjauh


__ADS_3

Beberapa hari berlalu semenjak kedatangan mbak Eki waktu itu aku berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari mas Dika. Kami tidak lagi saling berkomunikasi satu sama lain.


Mas Andika atau mas sholeh laki-laki yang selalu aku puja bertahta di tempat tertinggi di hatiku kini benar-benar harus ku relakan untuk pergi. Aku tidak banyak berharap untuk menjadi pasangannya tapi setidaknya dekat dengan dia cukup menambah energi dalam hidupku.


Sekarang aku harus bersiap untuk kehilangan semuanya. Mas Andika dia terlalu mahal untuk ku kenal apalagi untuk mengisi ruang kosong dalam hidupku. Haruskah aku benar-benar menjauhi mas Dika dan membuatnya membenciku?.


Beberapa saat ketika aku termenung, terlintas di pikiranku wajah mas Dika yang sedang bersedih seperti ada rasa yang sukar untuk definisikan. Aku ingin melihat mas Dika seperti beberapa waktu yang lalu, mas Dika yang ganteng, rapi dan keren. Mas Dika yang banyak disukai oleh semua wanita yang melihatnya.


***


Hari senin telah tiba seperti biasa aku menjalankan segudang tanggung jawabku sebelum berangkat menuju kampus. Aku yang terjaga hingga sepertiga malam tak kunjung untuk dapat memejamkan mata sehingga pagi harinya semuanya menjadi berantakan. Aku kesiangan saat bangun tidur.


Aku mulai berkemas bersiap-siap untuk ke kampus, pagi ini kuliah ilmu tanah ruang kelas ada di lantai enam. Seperti biasa aku berjalan menuju ke kampus namun aku tak sempat singgah sebentar di gazebo perpus seperti yang biasa aku lakukan saat pagi.


Aku langsung bergegas menuju gedung F tempatku kelas pagi ini, karena waktu sudah mendekati kelas dimulai aku memutuskan untuk naik lift saja.


Terlihat banyak sekali mahasiswa yang sedang mengantri di lantai dasar untuk menuju ruang kuliah masing-masing, aku lekas menuju gerombolan antrian tersebut agar lekas sampai di kelas. Tampak ada beberapa mahasiswa yang sedang mengantri sambil membaca buku ada yang saling bercanda dengan teman satu sama lainnya. Seperti biasa aku selalu sendiri.


Saat mendekati pintu lift aku melihat seseorang yang sedang menganggu pikiranku beberapa hari ini, iya aku melihat mas Dika di sana sepertinya pegi ini dia juga ada kuliah. Mas Dika yang bersebelahan dengan mbak Eki sedang menunggu lift untuk naik ke atas, menyadari hal itu aku lekas bergegas untuk pergi dan naik tangga saja.


Belum sempat badanku berbalik arah mataku dan mas Dika bertemu, aku lekas memutus tatapan itu dan lekas berlari menuju tangga.

__ADS_1


“Rahayu tunggu sebentar”, teriak mas Dika padaku. Aku berusaha untuk tidak tinggal dan tetap melanjutkan langkahku menuju tangga.


“Tunggu sebentar”, kali ini mas Dika mulai lari dan mengejar ku.


“Iya mas ada apa?”, jawabku padanya tanpa berani menatap wajahnya.


“Kamu mau kemana? Bukankah kelas ada di atas? Kenapa tidak naik lift saja?”. Tanya mas Dika mencegah langkahku.


“Aku mau naik tangga saja mas sekalian olah raga”.


“Jangan bohong, ada apa?”, mas Dika sama sekali tidak percaya dengan ucapanku.


“Sudahlah Dika biarkan saja dia kalau mau naik tangga kenapa juga harus dicegah itu hak asasi dia”, mbak Eki ikut memberikan tanggapannya tak lupa dengan tatapan mata mengintimidasi, aku yang sudah mengerti dengan ari kode tatapan mata itu lekas berpamitan untuk naik tangga.


Benar-benar apes pagi ini sudah bangun kesiangan harus naik tangga pula untuk ke lantai enam, dengan nafas yang terengah-engah dan beberapa keringat yang mulai muncul di keningku. Sungguh pagi yang sangat merusak mood ku.


Sesampainya di depan kelas lantai enam aku lekas merapikan jilbabku yang sedikit berantakan karena aku harus lari-lari naik tangga biar tidak telat. Kali ini aku tak memilih duduk di kursi paling depan karena kelas sudah dimulai dan aku sedikit terlambat, untungnya masih diizinkan untuk mengikuti mata kuliah ini. Aku duduk di kursi belakang dengan pikiran yang sedang entah kemana tidak fokus sama sekali.


Kelas dimulai dosen menjelaskan panjang lebar tentang materi hari ini tapi tidak ada satupun kata yang nyantol di otakku. Beberapa kali Nina dan Sari menggoyangkan-goyangkan tanganku agar lebih fokus tapi sepertinya tak berhasil karena aku lebih asik bayang-bayang semu.


Empat puluh lima menit berlalu dosen lekas mengakhiri kelas, mahasiswa lekas berebut untuk keluar kelas, aku lebih memilih tinggal sebentar mengunggu sampai keadaan lebih sepi, aku juga berharap dengan aku tak langsung turun ke bawah aku tidak akan bertemu dengan mas Dika.

__ADS_1


Setelah dirasa sepi aku lekas bergegas untuk keluar kelas, aku melangkah dengan gontai, aku akan turun dengan tangga saja untuk memperlambat waktu. Aku juga tidak ingin ke perpus aku hanya ingin menyendiri. Saat memasuki nak tangga ke satu tiba-tiba di sana sudah ada sosok yang sangat aku hindari beberapa hari ini.


“Yu tunggu aku mau bicara sama kamu”, rupanya mas Dika mengerti alur kehadiranku bahwa aku tidak akan naik lift dia menungguku di pertengahan anak tangga.


“Ada apa mas aku sedang sibuk”, ucapku dengan ketus.


“Sibuk apa? Ada tugas kah ayo aku bantu”, mas Dika menawarkan diri untuk membantuku dengan senyum semanis-manisnya, senyum yang beberapa hari ini sudah tidak pernah aku lihat.


“Tidak mas terimakasih, aku bisa sendiri”.


“Kamu kenapa Yu? Sepertinya akhir-akhir ini kamu terus menghindari ku, apa aku ada salah padamu?”, mas Andika mulai menunjukan wajah sedihnya, aku masih tak bergeming tak berani menatap matanya.


“Yu ada apa? Kalau ada apa-apa tolong bilang sama aku, aku bisa bantu apa?”


“Tidak ada apa-apa mas aku hanya ingin sendiri saja, aku ingin belajar lebih mandiri”.


“Tidak Rahayu yang aku kenal tidak seperti ini ada apa coba katakan sama aku”.


“Baiklah akan aku katakan, aku tidak suka mas Dika terlalu dekat denganku banyak laki-laki yang mencoba mendekatiku tidak berani karena mas Dika slalu saja berada di dekatku”, dengan nada sedikit keras dan penuh penekanan aku mengucapkan hal itu pada mas Dika.


“Aku juga selama ini hanya memanfaatkan mas Dika untuk membantuku, membantu mengerjakan tugas,membantuku hingga aku bisa menjadi juara pimnas membantu memejamkan HP padaku dan satu lagi menjadi supir gratis ku”, aku mengatakan semua itu dengan nada yang tinggi dan menggebu-gebu.

__ADS_1


“Aku kira selama ini pertemanan kita tulus Yu, aku sudah menganggap kamu seperti adikku sendiri”, tampak wajah mas Andika yang sangat kecewa dan sedih.


Aku berlalu tanpa sepatah katapun meninggalkan mas Dika yang masih mematung di sana. Aku berlari menuruni anak tangga dengan terisak-isak, jahat sekali aku sampai bisa mengeluarkan kat-kata seperti itu pada orang sebaik mas Dika. Aku masih menangis menangis disepanjang anak tangga. Aku tak memperdulikan dengan beberapa orang yang melihatku menangis.


__ADS_2