Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Berjumpa Kembali 2


__ADS_3

Sedang yang mempunyai nama masih diam mematung tak berkutik dan tak memberikan reaksi apa-apa. Antara terkejut dan tidak mempercayai akan sosok yang ada di depannya. Matanya masih tertuju pada objek indah di depannya tanpa berkedip sama sekali dan dengan mulut yang terbuka.


“Mas Andika?”. Rahayu kembali membuka suaranya.


“Iya”. Jawabnya dengan gelagapan masih tak percaya.


“Rahayu benarkah itu kamu?”. Tanyanya dengan terbata-bata.


“Iya mas, aku Rahayu”. dengan memberikan senyum termanis yang dia punya.


“Ya Allah istri orang kenapa cantik sekali”. Ucap Andika dalam hati masi dengan tatapan terpesona melihat wanita di depannya.


Sejurus kemudian konsentrasinya kembali.


“Silahkan duduk Yu, silahkan’. Kini nada bicaranya kembali melunak seperti Andika yang Rahayu kenal. Dengan penuh sopan mempersilakan untuk duduk.


“Trimakasih mas, eh pak”.


“Mas saja”, ucapnya dengan memberikan senyum yang takkalah manisnya.


“Harusnya sayang saja juga boleh”. Tentu saja itu hanya di Andika dan Allah saja yang tahu.


“Ada apa Yu ke sini?”.


“Mau ngumpulin tugas dari dosenku mas?”.


“Tugas?”. Ucap Andika dengan kaget hingga tak menyadari dengan apa yang di lakukan beberapa hari yang lalu ketika memberi tugas pada salah sat mahasiswinya.


“Ini pak”. Rahayu kembali memanggilnya pak, rasanya tak etis jika dengan dosennya memanggil mas.


Rahayu pun menyerahkan map putih yang berisikan tugasnya pada sang dosen.


Andia meraih map tersebut, masih dengan tatapan yang tak percaya.


“Jadi kamu kuliah lagi Yu?”.


Rahayu hanya menganggukkan kepala saja, mengiyakan pertanyaan sang dosen.


“Jadi puspita itu kamu?”.


Rahayu kembali menganggukkan kepalanya saja.


Antara bahagia dan dan malu yang kini di rasakan Reno, betapa tidak dia sudah mengerjai Rahayu dengan begitu sengaja nya.


“Jadi bagaimana pak Dika, apa tugas saya masih di terima? Atau saya harus mendapat tugas baru?”.


“Ataukah saya harus benar-benar memilih opsi yang ke dua?”.


“Opsi yang kedua?. Andika kembali bertanya pada Rahayu.

__ADS_1


“Ya opsi yang kedua harus membantu bapak memikirkan beban hidup yang sedang bapak rasakan sekarang”.


Andika tersenyum mendengar itu, sungguh malu sekali, rasanya ingin tenggelam saja dan tiada.


“Pak saya sudah berusaha dengan segala kemampuan saya yang ada untuk mengerjakan tugas itu, itu tugas di luar yang seharusnya saya kerjakan. Bahkan bapak juga belum mengajarkan tugas ini”.


Andika kembali memberikan senyum termanis yang dia punya pada wanita di depannya.


Kalian tanya Rahayu bagaimana?


Rahayu salah tingkah dibuatnya, hanya saja segala keyakinan sepenuh hatinya dia gunakan untuk mengingat Reno agar tidak goyah.


“Apa kam kesulitan mengerjakan tugas ini?”.


Rahayu kembali menganggukkan kepalanya, benar-benar seperti kucing yang menurut betul dengan pemiliknya.


“Maafkan aku memberikan tugas diluar kapasitas yang seharusnya, aku hanya ingin melatih semua mahasiswaku untuk disiplin dan tanggung jawab saja”. Elak Andika memberikan alasan.


Rahayu kembali menganggukkan kepalanya.


“Bagian mana yang membuatmu merasakan kesulitan dalam tugas ini?”.


“Semuanya”.


Keduanya kembali saling menatap tak sengaja.


Deg deg deg.


“Wahai hati tenanglah dia istri orang”. Andika mencoba menenangkan kembali pikirannya.


“Baiklah, mari kita bahas tentang kasus ini, kebetulan aku sedang kosong, bagaimana dengan kamu?”.


“Sama”.


Ya merela berdua akhirnya berdiskusi tentang kasus yang ada dalam jurnal tersebut. Andika menjelaskan secara detail tentang isu-isu permasalahan yang sedang di hadapi dalam kasus tersebut. Andika juga menjelaskan secara rinci bagaimana sistem jaringan saraf tiruan digunakan dalam kasus tersebut. Andika jga tahu betul jika Rahayu mengalami kesulitan dalam bahasa inggris, sehingga dia menerjemahkan setiap kata dalam jurnal tersebut dengan bahasa Indonesia.


Begitupun Rahayu dalam ruangan tersebut larut dalam bimbingan Andika yang menurutnya tidak ada yang berubah sama sekali dengan cara dia ketika mengajari dulu semuanya sama, cara bicaranya, gestur tubuhnya, cara pemikirannya masih sama yang membedakan hanya status mereka saat ini.


Rahayu tak lagi perawan melainkan seorang janda dan Andika tak mengetahui akan hal itu.


Tak terasa hampir dua jam mereka berdiskusi dalam rungan tersebut, Rahayu memang sedikit kesulitan dalam bahasa inggris tapi bisa mengikuti semua yang di ajarkan Andika dengan baik. Rahayu mencerna dengan begitu pahamnya setiap apa yang di paparkan sang dosen.


“Jadi bagiamana sdah paham?”.


“Sudah, trimakasih pak”.


“Saya permisi dulu”. Pamit Rahayu pada Andika.


“Silahkan”.

__ADS_1


Andika menatap punggung Rahayu dengan hati yang sulit di jelaskan, senang, sedih sema bercampur menjadi satu.


“Ya Allah cobaan orang mau move on kok ada saja”. Andika menjambak rambutnya dengan frustasi.


Sedang Rahayu melenggang keluar ruangan dengan begitu santainya, senyumnya mengembang sempurna di wajahnya karena tugas di terima dapat bonus di ajari sampai bisa.


***


Kini Rahayu berjalan seperti biasa, tak ada aktivitas lari-lari seperti waktu mengumpulkan tugas tadi, sesekali sepanjang jalan menuju parkiran Rahayu bernyanyi tentu dengan suara yang sangat pelan.


Sepanjang perjalanan menuju parkiran banyak sekali pertanyaan yang ada di kepalanya yang tak mungkin di tanyakan secara langsung pada yang bersangkutan.


“Sejak kapan mas Andika menjadi dosen?”.


“Kira-kira beban hidup seperti apa yang sedang mas Andika saat ini alami hingga membutuhkan bantuan dari orang untuk memikirkannya?”.


“Apakah mas Andika slalu bersikap seperti ini pada semua mahasiswanya?”.


Semua pertanyaan itu menari-nari begitu saja di atas kepala Rahayu, tanpa terasa dia sudah berada di parkiran.


Rahayu mengamati semua mobil yang ada di area parkiran tersebut. Matanya kembali memindai satu persatu mobil tersebut sayangnya dia sama sekali tak menemukan mobilnya.


“Dimana ya tadi mobilku, perasaan tadi taruh di sebah sini?”.


Rahayu melangkahkan kakinya menuju post satpam yang ada di samping parkiran tersebut.


“Pak mobil dengan plas W 3421 S warna putih di sebelah mana ya pak? Soalnya tadi saya parkir di situ” Rahayu bertanya pada satpam yang jaga area tersebut.


“Mobil itu maksudnya mbak?”. Satpam tersebut menunjuk satu mobil yang ada di samping post satpam.


“Iya pak”.


Rahayu bergegas membuka tas meraih kunci yang ada dan lekas menuju mobilnya.


Sesampainya di depan mobil Rahayu di kejutkan dengan suatu kejadian tak terduga.


“Astaga kenapa bisa kempes seperti ini?”.


Rahayu kembali berlari menuju post satpam tadi.


“Pak kenapa mobil saja jadi kempes semuanya?”.


“Lain kali kalau parkir jangan seenaknya saja, di sini kala parkir tidak sesuai dengan tempatnya resikonya ya ban pasti kempes”. Satpam tersebut menuturkan dengan nada yang datar.


“Ya mana aku tahu ada peraturan seperti itu, dari dulu kalau ke kampus kan aku jalan kaki”. Batin Rahayu dalam hati.


“Saya kan cuma nitip sebentar saja pak”.


“Sebentar? Dua jam lebih sebentar mbak?”. Ucap satpam tersebut dengan kesal dan meninggalkan Rahayu di samping mobilnya tanpa memberikan bantuan.

__ADS_1


Sementara Rahayu hanya mampu mengitari mobilnya dari depan ke belakang begitu saja terus tanpa berfikir mencari solusinya.


__ADS_2