Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Lari


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian berlalu kami masih disibukan dengan serangkaian acara menuju pimnas. Aku dan mas Andika masih sering bertemu begitu juga dengan anggota yang lainnnya. Kami membuat produk dan menyusun laporan secara bersama-sama.


Hari ini tepatnya hari minggu, tidak seperti hari biasanya, kelompok kami memutuskan untuk istirahat sejenak dari rutinitas menuju PIMNAS.


Aku berencana akan berolahraga di kampus, lari-lari kecil dan mengikuti senam. Aku bangun pagi-pagi sekali bersiap menuju kampus, menggunakan training sragam SMA dan kaos yang diberiakn saat ospek kemarin.


Udara Malang pagi ini terasa sangat sejuk, dengan tanaman disekeliling kampus yang menambah indah pemandangan. Aku mulai berjalan biasa tanpa lari-lari sambil menikmati pemandangan yang bagus di sekitar kampus.


“Hay cewek, sendirian saja” sapa seseorang di samping ku dengan sedikit menyenggol pundak ku.


Aku tak berani menoleh takut, aku mempercepat lariku untuk menhindarinya.


“Eh tunggu kok lari sih” Ucapnya sedikit berteriak.


Aku masih bergeming tidak berani menoleh pada sumber suara yang ada.


“yu tunggu” semakin berteriak dengan kencang.


Akhirnya ku beranikan diri untuk menoleh nya.


“Hiya ternyata mas Andika ya” aku senyum-senyum sendiri melihatnya.


“ye emang kamu kira siapa coba” mas Andika tampak mengejar aku dan semakin mendekat.


“Tunggu” ucapnya


Aku semakin berlalari dengan segenap kekutan yang ada.


“Hayo balapan yuk mas”


“Iya ayo, tapi tunggu dulu kamu curang sudah lari duluan”


Akhirnya aku menunggu mas Andika.


“Ayok kalau mau balapan, nanti yang kalah harus mau melakukan apapun yang di minta pemenang ya?” ujarnya memberi tawaran.


“ye apa’an sih mas, enak aja yang kalah harus belikan sarapan saja ya” tawarku padanya,


Eh tunggu belikan sarapan, emang aku ada uang? Batinku dalam hati, ah traktir molen sama donat aja kali ya.


“Apa’an olahraga aja belum udah kepikiran sarapan dulu” jawab mas Andika

__ADS_1


“Pokoknya yang kalah harus ikut yang menang, udah gitu aja titik”


“Apa'an tawaran kok maksa” sejak satu kelompok dengan mas Andika dalam PIMNAS kami memang sedikit lebih akrab dari sebelumnya.


“Persiapan ya, kita lari dari fakultas Kedokteran sampai depan lobi rektorat siapa yang sampai duluan dia yang menang, dan yang kalah harus bersedia menurut’i perintah yang menang, tidak ada penawaran lets go”


Kami mulai berlalu berdua menuju lobi rektorat, aku berhail menempati posisi pertama, mas Andika masih jauh dibelakang. Aku seneng sekali dengan nada mengejek aku menoleh ke belakang melihatnya.


Tanpa aku sangka, rupanya dia langsung berlari dengan sangat kencang hingga mampu menyusul ku padahal jarak kami sangat jauh sebelumnya.


“Ye aku menang” begitulah teriakannya sambil melambaikan tangannya padaku.


Aku mulai resah, duh mas Andika minta apa ya nanti? semoga tidak aneh-aneh.


“Aku menang jadi kamu harus mau mengikuti semua perintahku hari ini”


“Apa’an semua perintah? Banyak dong”. Aku tampak berfikir.


“Pertama kamu harus ikut sarapn denganku, kedua kamu harus menemani aku jalan hari ini” perintah mas Andika padaku.


Karena aku kalah dalam pertandingan ini, jadi semua perintah mas Andika adalah sabda bagiku yang harus segera dilaksanakan.


“Lari aja baru sekali putaran udah ngajak sarapan” ledekku kembali padanya.


Iya memang ganteng dan keren, tapi pacar orang lagian nanti orang yang lihat dikira lagi nemenin majikan jalan-jalan.


Kami tak lagi berlari, kami berjalan dari lobi rektorat menuju fakultas Ekonomi dan kembali lagi ke lapangan rektorat.


Meskipun aku sudah mencoba meminimalisir perasaan ku sendiri tapi hatiku tetap saja kacau saat berdua dengan mas Andika seperti ini.


Ah ingin sekali rasanya aku mengandeng tangannya.


“Yu lapar ah, udah yuk saran aja, kamu pernah gak makan nasi lengko?”


“Nasi lengko?” jawabku


“Iya nasi lengko di belakang sana” sambil menujukan arah tempat pejual nasi lengko.


“Ayuk ah, enak kok, kamu gak alergi makanan tertentu kan” mas Andika memperjelas pertanyaanya.


“Aku pemakan segalanya mas” jawabku sambil nyengir kuda.

__ADS_1


Kami berangkat menuju tempat nasi lengko yang berada di belakang kampus, ruapanya nasi lengko itu merupakan perpaduan nasi dengan berbagai sayuran dan lauk seperti tahu goreng, tempe goreng dan tauge serta timun yang kemudian diberi sambal kecap apa petis.


“Yu kamu ada acara gak hari ini”


“Nonton yuk, gak bosen apa tiap hari liatin cincau terus” ajak mas Andika.


“Nonton?” jawabku sedikit bingung.


“Kenapa tidak sama mbak Eki saja mas?” ucapku dengan hati-hati.


“Eki lagi sibuk ada acara keluarga di rumahnya”


“Kamu gak ikut saja mas ke acara keluarga nya mas”


“Ya kali yu, aku siapa?”


“Kan pacarnya” jawab ku


“Pacarkan belum tentu jadi suami nanti”


Deg seketika hatiku berhenti berdetak, apa ini harapan untukku. Astaga bayangin apa sih aku, mereka kan pasangan ideal.


“Udah ah nonton aja yuk, tidak ada penolakan, aku antar kamu ganti baju dulu ke kos, manti aku ganti baju di pom bensin”


Jam menunjukan masih pukul 9 pagi, setelah mengantar aku ganti baju kami bergegas menuju bioskop, kali ini mas Andika berputar arah sengaja memilih bioskop yang jauh, padahal di samping kampus ada mall dan bioskop.


Mas Andika memilih mall di perbatasan kota yang lumayan jauh, agar saat kita sampai perbatas kota nanti bisokop sudah buka.


Setelah sampai di mall yang mewah, mas Andika lekas memarkirkan motornya, ini merupakan pengalaman pertamaku nonton dan masuk mall, sungguh terlihat sangat kampungan. Mas Andika yang menyadari halitu lantas menggandeng tanganku. Oh Tuhan jangan buwat hatiku semakin berantakan seperti ini.


“Mau nonton film apa? Horor, action atau roman”, tanya mas Andika.


“Terserah saja mas, aku makmum”


“Nonton horor aja ya” tawar mas Andika.


Aku hanya tersenyum, mengiyakan tawaran mas Andika, mesti sejujurnya aku takut horor.


Mas Andika lekas membeli dua tiket dan bebrapa makanan dan minuman khas bioskop popcron . Saat pintu bioskop sudah di buka kami lekas menuju ke dalam.


Tidak ada adegan gandengan tangan, aku berjalan mengikuti mas Andika di belakang layaknya menemani majikan jalan-jalan.

__ADS_1


Mas Andika memilih kursi yang ada di tengah biar lebih fokus nonton nya bisa menikmati setiap adegan yang ada.


Pernahkah kalian merasakan sesuatu yang sangat bahagia dan menyenangkan? melakukan aktivitas yang di senangi bersama seseorang yang terkasih.Wahai hati bersabarlah nikmati saja setiap rasa yang datang.


__ADS_2