Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
67


__ADS_3

Aku tak menjawab pertanyaan mas Andika berusaha untuk mengalihkan perhatiannya ke hal yang lain. Gimana bisa aku jawab pertanyaan macam itu aku sudah sangat malu dibuatnya.


Lelah seharian jalan-jalan menghabiskan waktu bersama kami memutuskan untuk istirahat sejenak duduk di pelantaran mall “ngemper” biar lebih merakyat kata Rahayu.


“Kenapa sih mas kok lihatin aku terus, pindah pandangan sana ke yang lain”. Ucapku pada mas Dika dengan sedikit salah tingkah.


“Ngak bisa ke lain hati tau, udah mentok sama kamu dari dulu gak ada yang berubah. Jadi kapan aku boleh main ke rumah kamu, ketemu orang tua kamu? Kalau besok gimana atau nanti sekalian aku antar pulang bagaimana?”.


“Ya jalani aja dulu mas, nikmati prosesnya kita juga baru ketemu lagi”. Ucapku pada mas Dika karena sejujurnya aku harus lekas membereskan satu hal yang harus diselesaikan.


“Ya pengen kenalan sama orang tua kamu dan kelurga kamu Yu, sekalian mau ngucapin terimakasih”.


“Terima kasih? Buat apa?”. Tanyaku dengan heran.


“Terima kasih. Ya harus terima kasih pada bapak dan ibu kamu karena sudah melahirkan dan menjaga wanita yang sangat cantik seperti bidadari. Surganya Andika yang sangat cantik dan indah sekali”.


“Jadi gak sabar kan pengen segera menghalalkan mu. Yaallah gemes banget lucu kecil imut-imut”. Mas Dika mencubit pipiku dengan mesra.


“Duh sakit mas, sakit sekali jangan begini terus nanti pipiku lower”. Ucapku dengan sedikit menunjukan muka mayun. Sebenarnya aku suka sekali mode seperti ini ahh.


“Duh jangan gitu Yu, ekspresimu membuatku berekspektasi lebih”.


"Lebih? ah sudahlah". tak jadi ku teruskan pertanyaan itu.


“Mas pulang yuk”. BujukKu pada mas Dika karena waktu juga sudah hampir petang.


“Kenapa buru-buru pulang bahkan aku belum puas bertemu denganmu”.


“Aku harus pulang mas, lusa cutiku sudah habis aku harus menyisakan sedikit waktuku untuk orang tuaku”.

__ADS_1


“Aku antar ya”. Tawar mas Dika dengan sedikit nada memaksa.


“Tidak mas, untuk saat ini jangan dulu”.


“Kenapa? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan”.


Aku hanya menggelengkan kepalaku saja.


“Katakan jangan ada yang di tutup’i kisah kita sudah cukup banyak lika-likunya Yu”. Ucap Mas Dika dengan mengusap lembut punggung tanganku.


“Hanya mengkhawatirkan tentang kita kedepannya nanti bagaimana mas. Bukankah orang tua mas Dika sudah menjodohkan dengan mbak Eki, wanita pilihan mama papa mas Dika. Aku takut kita tidak direstui. Ada juga sesuatu yang harus diselesaikan dulu sebelumnya mas”.Ucapku pada mas Dika.


“Kita akan menikah Yu tentu dengan semua restu keluarga kita, baik dari orang tuaku maupun dari orang tuamu. Aku tidak akan mengajakmu untuk kawin lari jika salah satu dari kelurga kita ada yang tidak merestui. Tapi aku akan berusaha untuk sekuat tenaga menyakinkan baik orang tuamu maupun orang tuaku untuk merestui hubungan kita”. Mas Dika kembali menggenggam tanganku dengan lembut.


“Jika kita bersungguh-sungguh pasti orang tua kita akan memilih kebahagian untuk kita, jadi tolong untuk jangan pernah putus doa biar hati orang tua kita slalu lembut dan merestui hubungan kita”.


“Trimakasih ya mas untuk semuanya”. Ucapku pada mas Dika.


“Tidak perlu berterimakasih Yu, karena hidup memang tempat untuk berjuang dan mencapai tujuan. Dan tujuanku tak pernah berubah sejak pertama bertemu denganmu. Tujuanku hanya satu hidup denganmu menghabiskan seluruh sisa hidupku denganmu hingga janahnya bersamamu”.


“Makasih ya mas untuk semuanya”. Ucapku dengan haru.


“Duh kok terima kasih lagi sih, aku juga menginginkanmu, bahkan mungkin begitu sangat menginginkanmu. Mari kita berjuang bersama-sama untuk tujuan baik ini”. Mas Dika tak melepas sedikitpun genggaman tangan kami dan mengelus lembut punggung tanganku.


Aku terharu dibuatnya dadaku naik turun bahagia tiada terkira.


*Sangat tidak romantis karena percakapan tersebut dilakukan di emper mall, bukan di cafe-cafe atau tempat-tempat yang romantis. Bukan karena tidak punya uang tapi karena memang takdir mengijinkannya begitu adanya.


“Aku akan buktikan rasa sayang dan cintaku ini Yu dengan memperjuangkanmu baik pada orang tuaku maupun pada orang tuamu nanti”.

__ADS_1


“Aku pulang boleh ya mas, jika takdir memang berpihak pada kita kita akan bertemu dan berjodoh”.


Mas Dika hanya menganggukkan kepalanya saja pertanda menyetujui permintaanku. Meskipun ada perasaan berat dan tak rela karena aku tidak mau di antar.


Kami berdua berjalan menuju parkiran, mas Dika kembali membukakan pintu untukku terlebih dahulu. Manis sekali diperlakukan seperti seorang permaisuri.


Mobil mas Dika mulai berjalan kembali membelah jalanan Kota Malang menuju hotel tempat ku menginap. Sepanjang perjalanan kami bernyanyi bersama lagu-lagu romantis.


“Kemesraan ini janganlah cepat berlalu”.


“Kemesraan ini inginku kenang slalu”.


“Hatiku damai”.


“Jiwaku tentram di sampingmu”.


***


Aku mulai mengemas baju-baju yang kubawa dan memasukannya dalam tas. Jarak antara Malang dan kota tempat kelahiranku tidak terlalu lama butuh waktu sekitar dua jam saja sudah sampai.


Di sepanjang perjalanan aku mengingat tentang pertemuanku dengan mas Andika. Ciuman pertama kami dan beberapa kenangan-kenangan yang dulu pernah kita lalui bersama serta moment-moment indah yang dua hari ini kami lalui bersama. Hatiku cukup menghangat mengingat semua itu. Aku seakan hidup kembali menjadi Rahayu yang dulu. Rahayu yang mempunyai cinta.


Tiba-tiba aku ingat dengan mas Reno. Aku harus tegas dan lekas memberi kepastian hubunganku dengan mas Reno. Sepulang dari menghabiskan cuti ini aku akan mengatakan semuanya pada mas Reno. Aku akan menolak lamarannya. Apakah harus ku tolak sekarang saja sebelum mas Reno berekspektasi lebih pada hubungan ini. Sebelum mas Reno kembali menjemputku besok.


Baiknya aku kirimkan pesan saja pada mas Reno. Sepertinya memang sangat tidak adil aku mempermainkan perasaanya. Memang terlihat pengecut tapi ini cara paling cepat untuk tidak menggantungkan perasaanya terlalu lama.


“Assalamualaikum mas Reno, maaf mengganggu waktumu terkait dengan pertanyaan kamu beberapa hari yang lalu aku akan menjawabnya sekarang. Mohon maaf mas aku tidak bisa menerima lamaran kamu, aku tidak bersedia menjadi istri dan ibu untuk anak-anakmu. Banyak hal yang menjadi pertimbanganku. Aku ingin kita menjadi teman baik saja atau saudara. Tolong carilah wanita yang lebih baik dariku untuk menjadi pendamping hidupmu yang mencintaimu dengan tulus lahir dan batin. Terima kasih untuk perasaanmu selama ini. Tapi maaf aku tidak bisa menerimanya lebih. Maaf aku hanya mampu memberikan jawaban melalui pesan wa ini”.


Jeng... jeng...

__ADS_1


__ADS_2