Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Pimnas


__ADS_3

Selamat pagi Yogja selamat datang medan perang yang kami persiapkan selama berbulan-bulan, Alhamdulilah perjalanan yang sangat panjang dan melelahkan berakhir, aku sampai di universitas Muhamadiyah Yogyakarta beserta rombongan dengan selamat.


Pagi kami dimulai dengan acara penyambutan peserta pimnas yang dibuka oleh rektor UMY, seluruh peserta perwakilan dari berbagai universitas se Indonesia berkumpul bersama di salah satu lapangan yang telah ditentukan panitia.


Aku berjalan beriringan bersama dengan perwakilan-perwakilan dari Universitas kami, aku mencari tempat duduk yang paling strategis utuk menyaksikan acara sambutan peserta ini.Aku duduk bersebelahan dengan mas Andika dan mbak Sarah.


Acara persembahan penyambutan peserta dilakukan dengan tarian-tarian daerah persembahan dari mahasiswa-mahasiswa UMY, kemudian dilanjutkan dengan acara pertunjukan seni lainnya, dan yang paling di tunggu-tunggu pembukaan resmi pimnas ke-25 resmi dibuka ditandai dengan dipukulnya suara gong oleh rektor UMY.


Dung dung “Acara pekan kreativitas mahasiswa ke 25 resmi di buka” ujar rektor UNY kala itu.


Disambut dengan riuh suara tepuk tangan semua peserta lomba yang datang, suasana tampak begitu ramai dan meriah sekali, semua peserta yang datang tampak bersuka cita sebelum kami berkompetisi setelah ini.


Setelah acara pembukaan dan penyambutan peserta pimnas, aku dan mbak sarah bergegas untuk mencari ruangan yang akan kami gunakan untuk persentasi. Kami berjalan berkeliling kampus mencari satu persatu ruangan sesuai arahan dari panitia. Mas Andika dan mas Dimas ada di belakang membawa segala perlengkapan untuk kami persentasi nanti.


“lantai 3 teman-teman ruangan kita” seru mas Andika yang kemudian berjalan mendahului kami.


“ok siap” jawab kami kompak.


Benar saja yang dikatakan mas Andika tempat kami persentasi ada dilantai 3, dalam satu kelas ini terdapat sekitar 20 lebih kelompok yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, untuk menentukan kelompok yang akan persentasi terlebih dahulu digunakan sistim undian yang berarti kami tidak akan tau secara pasti kapan dan urutan berapa kelompok kita akan persentasi.


Berada dalam satu ruangan dengan berbagai peserta dari universitas lainnya merupakan suatu kebahagian tersendiri yang aku rasakan, menggunakan almamater kebanggan. Riuh semua sibuk mempersiapkan diri dan kelompok masing-masing, suasana tampak tegang, aura-aura kompetisi sangat terasa.


“Monggo pak ketua silahkan ambil no undiannya”, goda mas Dimas pada mas Andika sambil mempersilahkan mas Andika untuk maju ke depan dan menundukan badan.


“Dik jangan lupa doa dulu, semoga kita bukan peserta yang pertama dan yang terakhir saat persentasi nanti” mbak Sarah menambah’i.


“Mas aku padamu” ucapku pada mas Andika.


Spontan semua melihatku dan menjawab “padamu?”.


Eh iya maksudku padamu mas Andika ku wakilkan kelompok kita.


“Dasar anak kecil” jawab mas Andika.


Semua perwakilan kelompok dalam satu ruangan tersebut maju ke depan untuk mengambil no undian, mas Andika dengan wajah gantengnya lekas maju ke depan untuk mengambil no undian.


“Alhamdulilah Yupiter persentasi di hari pertama mendapat undian no 5”

__ADS_1


Terlihat mas Andika yang senyum-senyum sambil menunjukan angka 5 pada kami.


Setelah semua perwakilan kelompok mengambil undian presentasi dimulai, kelompok 1 mulai mempersiapkan diri, kami mulai berdiskusi kembali untuk mematangkan persiapan kami. Seperti yang sudah kami pelajari beberapa hari sebelum keberangkatan ke sini.


Beberapa jam kemudian tibalah saat kelompok kami yang akan persentasi, suasana tampak tegang, ada rasa takut dan nervous saat mulai memaparkan materi yang kami bawakan. Sebelum mulai tak lupa kami berdoa terlebih dahulu kemudian bergandengan tangan untuk saling menguatkan.


“Bismillah ya bisa bisa bisa”


Kami maju sesuai arahan yang panitia berikan, aku mulai mempersiapkan buku untuk menulis segala pertanyaan yang diberikan penguji, mas Andika mulai memasang FD di leptop untuk menampilkan power point kami, mas Dimas mulai menata-nata produk cincau Evervesen kami, mbak Sarah mulai menyampaikan materi pertama.


Persentasi berjalan sekitar 15 menit, kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dilakukan oleh tim juri penguji. Pertanyaan juri pertama di jawab dengan sangat cepat dan detail oleh mas Andika. Pertanyaan selanjutnya kami jawab secara bergantian sesuai skema yang kami siapkan sebelumnya.


Pertanyaan terakhir dari juri tentang harga pokok produksi dan harga jual produk serta kelayakan usaha kami, kali ini aku yang akan menjawab.


“Harga jual produk kami sebesar 5000 per kemasan, untuk kelayakan usaha kami dapat dikatakan layak dengan jangka waktu pengembalian modal (payback period) selama 5 bulan kerja”.


Persentasi berakhir mas Andika mulai menutup persentasi kelompok kami dengan salam, semua pertanyaan yang diberikan oleh juri mampu kami jawab dengan semaksimal mungkin.


Acara dilanjutkan dengan pameran poster dan produk hasil karya peserta lomba, pameran poster dilakukan di aula yang sangat besar, acara kali lebih santai. Tempat pameran poster ini dibagi sesuai dengan jenis PKM yang dikut’i, di lorong pertama terdapat seluruh peserta PKM kewirausahaan, di lorong ke dua tempat peserta PKM penelitian begitu seterusnya. Semua peserta mulai memasang hasil karya mereka, membuat dekorasi semenarik mungkin agar banyak yang mengunjungi stand mereka.


“Yu kamu pernah lihat boneka bisa ngomong tidak?” tanya mas Andika padaku.


“Ha boneka bisa ngomong? Belum mas, emang ada ya?” jawabku.


“Ada mau lihat tidak?” tawaran sambil mengedipkan satu mata membuat hatiku semakin ambyar di buatnya.


“Emang boleh mas?”


“ya boleh lah, ayo” ajak mas Andika


“Titip stand dulu ya teman-teman, aku mau bawa Rahayu jalan-jalan sebentar lihat pameran”


“Rahayu saja yang di ajak”ucap mbak Sarah


“Ya kan ini pimnas yang pertama Rahayu, pasti dia belum pernah lihat pameran yang kayak gini”


“Halah modus” jawab mas Dimas.

__ADS_1


Mas Andika langsung menarik tanganku dan mengajak untuk berkeliling melihat poster-poster dari kelompok lainnya.


Kami berjalan berdua, tidak saling bergandengan tangan tapi sudah lebih dari cukup bagiku, tidak mungkin juga bergandengan tangan karena ini bukan arena menebar kasih.


“Mana mas katanya ada boneka yang bisa ngomong?”


“Iya bentar tunggu dulu, kita jalan sambil kita cari” jawab mas Andika.


Dalam perjalanan mencari boneka yang bisa ngomong kita berhenti sejenak di stan peserta yang membuat bolu coklat warna-warni, kami singgah sejenak di situ untuk melihat hasil karya mereka, kami di persilahkan mencicipi beberapa bolu yang lucu-lucu itu.


Kali ini mas Andika mencoba bolu coklat yang berbentuk babi tidur, duh mas gak tega mau makannya, lucu sekali sih dia.


“Iya lucu, tapi masih lucu kamu” katanya


Hem sambil melotot aku jawab mas Andika.


“Iya lucu sekali sih, makan bolu coklat kecil aja belepotan gini, mulutnya kecil sekali sih jadi pengen”


“pengen apa mas?”


“hem pengen nih” mas Andika mengusap mulutku yang banyak coklatnya di ujung mulut.


“pengen bersih’in ini”


Seketika wajahku memerah.


Kami terus melanjutkan jalan kami mengelilingi stand-stand pameran poster yang ada dalam aula tersebut, sampai akhirnya kami menemukan boneka yang bisa ngomong seperti yang dikatakan mas Andika tadi.


Boneka ini karya dari salah satu mahasiswa universitas di jawa timur, nama produk mereka “boneka ajaib” yaitu boneka yang ada running teks nya, boneka ini bisa mengungkapkan perasaan, dengan cara custom tulisan sehingga bisa muncul tulisan pada boneka tersebut.


“Boleh kak di coba kalau mau mengungkapkan perasaan atau membuat tulisan” tawar peserta pemilik boneka ajab.


“Boleh mbak”


“Mau di kasih tulisan apa mas” tanyaku pada mas Andika.


“Kalau aku cinta sama kamu gimana?”

__ADS_1


__ADS_2