Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
64


__ADS_3

“Kenapa mas Dika jadi pamer badan seperti ini, sengaja apa bagaimana? Huft”. Kesal Rahayu dalam hati karena merasa matanya ternoda dengan pemandangan yang tak seharusnya dia lihat.


Jarak antara hotel tempat mas Andika menginap denganku tidak terlalu jauh hanya membutuhkan waktu sepuluh meit saja sudah sampai.


“Makasih ya mas sudah mau nganter aku kembali”. Ucap Rahayu dengan menundukkan badannya sebagai ucapan rasa terimakasih.


“Ah kamu masih saja seperti dulu Yu”. Andika terpana melihat tingkah Rahayu yang masih sama seperti dulu ketika diantarkan pulang.


“Yu sebenarnya aku belum mau pulang, aku ingin menikmati malam denganmu, aku ingin berbicara banyak hal denganmu”. Ucap mas Dika yang enggan untuk beranjak.


“Sudah malam mas tidak baik untuk rasanya wanita dan lelaki masih berdua saja. Jawabku pada mas Andika sebenarnya aku juga masih kangen sekali, aku ingin bertanya banyak hal  padanya tentang kehidupan beberapa tahun terakhir ini.


“Baiklah aku pulang, sampai ketemu besok berjanjilah jangan pergi dulu sebelum aku datang kembali menjemputmu”. Ucap mas Dika dengan ciri khasnya mengusap-usap kepalaku.


Aku hanya mengagungkan n kepala saja dengan diiringi senyum termanis yang aku punya. Sebenarnya aku tak sampai hati untuk menyuruh mas Dika kembali pulang, namun waktu sudah sangat larut. Sangat tidak direkomendasikan dua orang berbeda jenis masih ada interaksi.


Mas Andika mulai berjalan kembali menuju mobil yang terparkir di pelantsran hotel.


Rasanya terlalu sayang untuk pulang dan menyudahi pertemuan ini, hati dan pikiran menolak untuk meninggalkan satu dan yang lainnya. Namun apa daya status mereka memaksa harus menyudahi pertemuan malam itu.


Rahayu tidak kunjung masuk kedalam kamar menunggu mobil Andika hingga hilang dari pengelihatan.


Sepanjang perjalanan menuju kamar hotel tak henti-hentinya Rahayu menebar senyum. Senyum bahagia hal yang sudah dicita-citakan selama bertahun-tahun akhirnya terwujud, meski mereka berdua belum mengetahui status masing-masing.


Memasuki kamar aku lekas merebahkan tubuhku di atas kasur yang empuk. Hari ini cukup melelahkan namun lebih dari cukup membuat hati yang lama gersang layu kembali menjadi hidup.


Ya rasanya aku seperti hidup kembali setelah sekian lama mati suri. Aku kembali merasakan berdebar dan bahagia seutuhnya.


Sementara itu Andika yang berada diluar sana tak sepenuhnya meniggalkan hotel tersebut. Dia kembali mengamati hotel tempat Rahayu menginap. Andika kembali menunjukan rasa sayangnya dengan mengirimkan makanan untuk Rahayu lewat seorang kurir.


Andika ingin memastikan Rahayu tidak kelaparan hingga pagi menjelang esok, karena berdasarkan pengalaman pribadinya Andika juga tidak bisa makan dari tadi siang membayangkan pertemuannya dengan Rahayu malam ini.


Dengan mengirimkan makanan pada Rahayu setidaknya bisa membuat tidurnya lebih nyaman tanpa merasakan kelaparan.


“Mbak permisi ada kiriman makanan”. Ucap seorang kurir yang mengirimkan makanan pada Rahayu dan menunggu dilobi hotel.

__ADS_1


“Tapi saya tidak pesan makanan mas”. Jawab Rahayu pada kurir tersebut.


“Tapi ini sudah di bayar mas”, maaf mas tapi saya tidak melakukan transaksi sama sekali malam ini.


“Ini sudah dibayar mbak atas nama nyonya Andika Rahayu”, kurir tersebut menyerahkan struk pembayarannya.


“Rahayu saja pak tidak pakai nyonya Andika”. Jawab Rahayu pada kurir tersebut, meskipun tidak bisa di pungkiri hatinya berbunga-bungan namanya disebut sebagai nyonya Andika.


“Silahkan diterima mbak”. Kurir tersebut menyerahkan sebungkus kantong plastik yang berisi makanan, minuman dan beberapa cemilan lainnya.


“Baik pak trimakasih, saya terim makanannya”. Rahayu lekas berlalu dari lobi tersebut dan membawa bungkusan plastik tersebut menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar Rahayu lekas mencari ponselnya bermaksud untuk menanyakan pada Andika tentang kiriman makanan tersebut, namun saat menemukan ponselnya Rahayu dibuat tersenyum dengan pean yang dikirim oleh Andika.


“Dimakan ya biar tidak kelaparan, aku tau kamu pasti belum makan dari tadi siang”. Isi pesan yang dikirim Andika pada Rahayu.


“Ah sok tau kamu mas, tapi terima kasih ya atas kirimannya”. Jawab Rahayu dengan wajah tersenyum bahagia.


“Selamat makan Rahayu, kita makan dengan menu yang sama namun tempat berbeda”. Pesan dari Andika yang disertai dengan foto menu makanan yang siap dimakannya.


Aku bergegas membuka bungkusan makanan tersebut rupanya benar-benar sama nasi goreng dengan bentuk love. Mas Dika memang romantis. Rahayu mulai makan nasi goreng tersebut dengan senyum yang tak berhenti mengembang di bibirnya.


“Makasih ya mas kiriman makanannya, memang benar aku lapar sekali karena dari tasi siang tidak sempat makan terlalu excited menyiapkan hati untuk malam ini”.


“Sama-sama Shinta kamu kenyang Rama juga senang. Lekas istirahat jangan malam-malam tidurnya besok aku akan menjemputmu”.


Ya besok Rama akan kembali menjemput Shinta dan mengambilnya dari Rahwana.


Aku tak lagi membalas pesan dari mas Dika, tubuhku begitu lelah dengan segala aktivitas hari ini yang cukup menguras pikiran dan hati. Sebenarnya lebih ke persiapan hati, mempersiapkan semuanya melapangkannya jika ada sesuatu yang tak terduga.


Rupanya jika hati dan pikiran sedang dalam mode bahagia akan lebih mudah untuk memejamkan mata. Aku terjaga hingga pagi rasanya aku tak butuh mimpi lagi karena kenyataan sudah didepan mata dan aku merasakannya.


***


Keesokan harinya setelah melakukan aktivitas sebagai seorang muslim pada umumnya aku tak langsung mandi karena hari ini masih cuti juga dan aku sedang tidak berada di rumah jadi aku bebas. Aku kembali merebahkan tubuhku di atas kasur. Beberapa saat kemudian ponselku berbunyi.

__ADS_1


Berdering..


Berdering...


“Assalamualaikum bu ada apa?”. Tanyaku pada ibu yang dari semalam seakan meneror dengan menanyakan keberadaanku terus menerus.


“Waalaikumsalam nak, bagaimana apa pekerjaanmu sudah selesai hari ini?”.


“Sepertinya belum bu, nanti kalau dirasa pekerjaan sudah selesai semua aku akan langsung pulang bu”. Jawabku pada ibu.


“Katanya cuti nak kenapa masih harus kerja terus? Mana harus keluar kota pula, kapan menemani ibu”. Tutur ibu yang mulai protes karena selama cuti aku lebih banyak menghabiskan waktu dikamar tidak banyak berinteraksi dengan ibu bapak, aku takut ditanya-tanya ibu bapak prihal rencana pernikahan.


“Oh iya bu aku akan lekas pulang setelah semuanya selesai”.


Panggilan berakhir.


“Maaf ya bu ini lebih penting dari pekerjaan ini urusan hati yang belum selesai”.


Setelah mengakhiri  percakapan dengan ibunya, ponselku kembali berdering.


Mas Andika pagi sekali.


“Assalamualaikum mas ada apa?”.


“Waalaikumsalam aku sudah didepan hotel, jalan yuk”.


Hah sepagi ini bahkan aku belum mandi dan bersih-bersih badan.


“Aku siap-siap dulu ya mas”.


Aku bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap-siap bertemu dengan mas Andika.


Jalan-jalan dengan mas Andika pada pagi hari membuat mood semakin baik bahkan lebih baik dari kemarin.


“Kalau seperti ini apa juga dikatakan selingkuh ya?”

__ADS_1


__ADS_2