Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Tugas


__ADS_3

Sesuai dengan randon acara yang sudah ditetapkan oleh panitia acara berakhir pukul tiga sore, semua peserta lekas mulai mempersiapkan diri menuju depan vila untuk menunggu truk jemputan.


Tidak lupa sebelum truk jemputan datang mereka mengabadikan setiap moment yang ada saat di vila sana.


“Gaes moment langka ni, foto yuk mumpung lagi kumpul, masih lusuh pula semua belum mandi”, Kapal acara menstruasi anggota yang lainnya.


“Siap ayo”, teriak kompak semua peserta.


“Sini aku mau pegang tas gunung biar kelihatan kalau habis dari bolang gitu”, ucap mas Dimas.


Segala macam pose foto sudah dilakukan dari mulai gaya formal sama gaya alai yang luar biasa, tak jarang beberapa peserta yang lain juga saling berfoto dengan circle masing-masing.


“Ingin sekali rasanya bisa foto berdua dengan mas Andika”, aku melamun membayangkan bisa foto dengan mas Dika, sebenarnya bisa saja jika aku mau memintanya hanya saja aku malu untuk mengajaknya foto.


“Yu sini foto dulu khususnya anak pertanian yang ikut acara ini”, Teriak Nina dengan melambaikan tangan padaku.


“Siap”, dengan senyum mengembang full di wajah aku menghampiri mereka.


Acara foto bersama khususnya anggota anak pertanian, ada sekitar sepuluh orang dengan berbagai angkatan di sana. Foto dimulai dengan gaya formal dan dilanjutkan dengan berbagai macam gaya sesuai hati mereka.


Aku masih mencuri pandangan ke mas Dika berharap mas Dika mengajakku untuk berfoto, tapi sepertinya harapanku sia-sia bahkan mas Dika tak melihatku sama sekali.


“Foto pemenang lomba dong, anggota voli anak pertanian kan menang kemarin”, pinta mas Dimas pada yang lain.


Anggota voli perwakilan anak pertanian lekas mengabadikan moment saat itu.


“Oh ya Rama dan Shinta foto juga dong buat kenang-kenangan”, Nina menyarankan memberikan saran.


Deg.


Foto bersama mas Dika? Apa mas Dika mau ucapku dalam hati.


“Ayo cepat buat kenang-kenangan”, ujar salah satu teman tim dokumentasi.


Mas Dika lekas maju ke depan, tanpa sepatah katapun dia hanya melihatku sejenak dan menganggukkan kepalanya. Aku hanya diam saja tak menangapi, aku takut salah mengartikan kode mas Dika.


“Ayo Yu cepat keburu truknya datang”, mas Dimas kembali berteriak.

__ADS_1


“iya ayo”,


Satu dua tiga cis foto diambil.


Mas Dika juga menyerahkan ponselnya untuk mengambil gambar dengan Hpnya begitu juga denganku benar-benar moment langka.


Beberapa waktu kemudian truk jemputan sudah datang seperti biasa peserta cewek dipersilahkan untuk naik dahulu ke atas truk di bantu oleh beberapa teman cowoknya untuk membawakan barang sekaligus menarik naik keatas.


Tak seperti saat berangkat yang penuh dengan canda tawa didalam truk, saat pulang peserta lebih banyak untuk diam tak banyak berbicara mereka lebih asik dan tengelam dengan ponsel masing-masing sambil bersandar di truk menikmati keindahan alam Batu.


***


Saat malam tiba aku tak kunjung bisa memejam mata, aku kembali melihat ponselku dan membuka galeri di sana. Melihat banyak sekali foto yang sudah kami lakukan bersama dengan teman-teman sesekali aku tersenyum melihat foto yang tampak lucu.


Aku terus menggeser galeri yang ada di ponselku dan berhenti saat melihat fotoku dan mas Dika yang berdiri berdampingan. Mas Dika tampak tersenyum begitu juga denganku yang pose senyum malu-malu. Ingin sekali rasanya aku mencetaknya hehe.


Aku yang tak kunjung merasakan kantuk memutuskan untuk menyetrika baju saja sudah tiga hari juga pasti banyak. Aku lekas ke bawah mengambil setrikaan yang memang sengaja ibu kos taruh didepan tangga agar aku tak perlu kerumahnya untuk mengambil setrikaan.


Satu persatu baju aku setrika dengan licin, tanpa terasa waktu sudah menunjukan tengah malam. Aku lekas beranjak untuk merebahkan tubuhku di atas kasur, sebelum menutup mata aku kembali membuka galeri ponselku dan melihat fotoku dan mas dika kembali.


***


Keesokan harinya seperti biasa aku bangun pagi-pagi sekali dan menyiapkan segala peralatan untuk berjualan dan kelas hari ini. Hari ini ada kelas bahasa Inggris meskipun malas sekali rasanya untuk melangkahkan kaki ke sana tapi aku harus berangkat, aku tidak mungkin untuk menghindari bahasa Inggris terus menerus.


Kelas dimulai selama empat puluh lima menit, dosen memberikan tugas pada mahasiswa untuk dikerjakan dan dikumpulkan minggu depan.


“Anak-anak tugas kali ini silahkan untuk membuat majalah dalam bahasa Inggris, topiknya bebas tentang isu-isu yang sedang hangat dibahas saat ini”


“huhu” jawab anak-anak kompak didalam kelas.


Beru saja ingin mencoba mencintai bahasa Inggris sudah dibuat merana kembali.


Aku lekas menuju perpustakaan seperti biasanya, langkahku terasa lesu dan tak semangat, aku bingung memulai dari mana mengerjakannya. Jangankan membuat artikel membuat satu kalimat saja aku membutuhkan waktu yang sangat lama, ingin rasanya aku tengelam saja.


Kenapa aku tak pandai bahasa inggris?kenapa aku harus bertemu bahasa Inggris sepanjang hidupku? Aku masih ngomel-ngomel sendiri tidak jelas.


Tiga jam berlalu aku masih di perpustakaan, aku juga belum menemukan inspirasi sama sekali untuk membuat apa?

__ADS_1


“Oh ternyata disini kamu sekarang kalau mengerjakan tugas”, mas Dika lekas menggeser kursi dan duduk di sebelahku tanpa bertanya terlebih dahulu apakah aku mengijinkannya atau tidak.


“Oh mas Dika iya mas disini, mas Dika ngapain?” tanyaku padanya.


“Mau cari buku lah masak mau nyari kamu” jawabnya dengan senyum.


“Kamu ngapain? Dari tadi aku perhatikan kusut banget tuh muka”


“Aku gak ngapa-ngapain baca -baca aja”


“Bukannya kamu dapat tugas ya bikin arikel dalam bahasa inggris?”


Dih nih orang kok tau aja sih habis lihat di air kembang apa tau banget setiap aku ada kesulitan.


“Iya mas, kok tau”


“Ya tau lah, sini aku bantu”, karena pikiran sudah buntu dan sudah lelah aku menerima tawaran mas Dika untuk membantuku mengerjakan tugas besar ini. Berbeda denganku mas Dika tampak dengan mudah sekali mengerjakannya.


Mas Dika meminta aku menentukan topik nya saja selanjutnya dia yang bantu mengerjakan. Hampir sembilan puluh persen tugas besar ini karya mas Dika. Aku hanya tersenyum kagum melihatnya.


“Nanti jangan lupa tulis namaku ya di sini”, mas Dika menunjuk sampul tugas besar tersebut sambil mengedipkan satu matanya.


“ya mana boleh mas itu kan tugasku”


“Tapi kan aku yang mengerjakan” mas Dika membantah, aku tau dia hanya menggoda tapi aku senang sekali digoda olehnya.


“Mas bolehkah aku bertanya sesuatu?”


“Boleh satu pertanyaan lima ribu”


“Ih aku beneran nih”


“Jadi lagi mode serius?”


“Boleh silahkan tanya saja”


“Mas Dika kenapa baik sekali sama aku?”

__ADS_1


__ADS_2