Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
62


__ADS_3

Mas Dika menarik tanganku membawa pergi ke taman hotel. Tak ada perlawanan aku mengikuti setiap langkahnya dengan hati yang tak dapat terdefinisi bahagia gugup semua bercampur menjadi satu. Untuk pertama kali tanganku berpegangan dengan mas Andika.


“Rahayu...Rahayu adikku kamu sudah dewasa sekarang semakin cantik”.


.


“Rahayuku”.


Mas Andika memegang kedua pundakku dan merengkuhku dalam pelukannya.


“Rahayu Ku aku merindukanmu...”


“Aku sangat-sangat merindukanmu”


“Jangan pernah lagi menyuruhku pergi karena aku ingin pulang ke rumahku”.


“Kamulah rumahku”.


Keberadaan mas Andika yang begitu dekat dengan tubuhku membuatku kaget, sayangnya aku tak mampu melawan semua itu. Aku bahkan membalas pelukan mas Andika , menikmati setiap rasa ini menyandarkan kepalaku pada dada lebar yang telah lama kurindukan. Mataku berkaca-kaca.


Mas Andika..


Mas Andika sudah kembali kini aku menyentuhnya.


“Aku juga merindukanmu mas”. Ucapku dalam hati karena tak ada tenaga untuk mengucapkannya, mulutku terkunci rapat menikmati pelukan yang sangat kurindukan selama bertahun-tahun.


Kami berpelukan cukup lama dalam diam tidak ada kata-kata yang terucap, kami sibuk dengan pikiran masing-masing yang entahlah hanya kami yang bisa merasakannya.


Aku tidak ingin berpisah lagi, aku ingin selamanya seperti ini. Butir beningku tidak dapat ku bendung mereka berurai begitu saja membasahi punggung mas Dika.


Masih dalam diam, kami berpelukan cukup lama melepas kerinduan yang terdalam.


“Yu aku sangat merindukanmu, sangat-sangat merindukanmu, aku menunggumu cukup lama”. Ucap mas Dika memecah keheningan di antara kami.


Aku sedikit mengendurkan pelukanku dan memberanikan diri menatap wajahnya.


“Aku juga sangat merindukanmu mas, aku minta maaf dengan segala sikap-sikapku dulu. Aku menyesal mas benar-benar menyesal”.


“Bolehkah aku berkata jujur padamu”. Mata mas Dika berkaca-kaca dan menyentuh kepalaku. Aku hanya menganggukkan kepalaku saja pertanda menyetujui ucapannya.


“Aku mencintaimu Rahayu”.


“Aku sungguh mencintaimu dari awal kita bertemu”.


Aku hanya mampu menganggukkan kepalaku saja.


Mas Dika kembali memelukku membawaku ke dalam kehangatan tubuhnya. Aku sungguh menikmati keadaan ini.

__ADS_1


“Tuhan penantianku terbayar lunas”. Hati kami masih satu meskipun sudah berjarak cukup lama.


Kami berdua kembali menangis dalam diam. Tangis haru bahagia semuanya melebur menjadi satu malam itu.


Bulan dan bintang tampak malu-malu menunjukan wujudnya seakan menjadi saksi pertemuan kembali dua insan yang sudah lama terpisah oleh jarak dan waktu. Bahkan hujan tak mau kalah turut hadir membasahi mereka berdua. Seakan-akan semesta mendukung pertemuan mereka.


Hujan semakin deras kami tak kunjung beranjak dari taman hotel tersebut. Keadaan taman sudah sepi tak ada orang satupun di sana. Semua tamu sudah beristirahat dikamar masing-masing. Hanya ada Rahayu dan Andika, hanya ada mereka berdua saja.


Mas Andika mendekapku dengan sangat erat. Aku tak mampu menolak tubuhku terasa kaku, aku menikmati sentuhan ini.


“Rahayu ku suaranya lembut seakan mencerminkan kerinduannya yang lama terpendam”. Bisik mas Dika lirih di telingaku.


Deg.


Deg.


“Rahayuku”.


Mas Andika mengecup keningku dengan sangat lembut dan pelan. Aku terbuai menikmatinya. Ini pengalaman pertamaku disentuh lelaki selama ini.


Aku membiarkan mas Andika melakukannya tanpa ada sedikitpun penolakan yang kuberikan.


Setelah lama mencium keningku mas Dika kembali menatapku dalam-dalam. Tidak banyak kata yang terucap kami lebih banyak diam saling menikmati sentuhan dan meluapkan segala kerinduan yang memuncak.


Mas Anika kembali membelai kepala dan wajahku sesuatu yang sudah lama tidak aku rasakan adalah “belaian tangan mas Dika pada kepalaku”,


Perlahan namun pasti mas Andika mendekatkan wajahnya. Mas Andika memberikanku kesempatan untuk menolaknya. Tapi sayangnya tubuhku tak mampu menolak. Tubuhku juga seolah-olah menginginkannya.


Tujuh senti.


Lima senti.


Tiga senti.


Aku masih terdiam tak menghindar sama sekali.


Dan..


Cup


Bibir kami bersentuhan, reflek aku memejamkan mata menikmati moment tersebut. Aku terbuai oleh keadaan.


Aku menikmati ciuman pertama itu.


“Yaallah maaf aku ciuman dengan orang yang belum menjadi suamiku, maafkan hambamu ini”.


Sentuhan bibir lembut, hangat dan kenyal mas Andika merupakan sentuhan pertama yang kurasakan dalam hidupku.

__ADS_1


Perlahan mas Andika membuka bibirnya dan menyentuh bibirku yang tertutup rapat. Menyentuh dengan lembut hingga membuatku reflek membuka mulutku dan mulai membalas pelan.


Jantung kami berdebar sangat hebat lebih cepat dari biasanya. Hingga terasa satu sama lain. Antara ingin meneruskan dan ingin menghentikan dengan segera.


Mas Andika mulai melepaskan diri dan mengalihkan pandangannya. Kami berdua salah tingkah setelah itu.


Aku hanya tertunduk malu. Debaran jantung kami berdua masih bergejolak . Rasa malu grogi semua menjadi satu kala itu.


“Bagaimana bisa aku melakukan ini dengan mas Andika, sedangkan dengan mas Reno bersentuhan tangan saja aku merasa sangat risih dan sekuat tenaga untuk menghindar”. Ucap Rahayu dalam hati.


Mereka berdua hanya mampu terdiam dalam beberapa saat, sama-sama salah tingkah.


Pertemuan pertama kali setelah beberapa tahun terpisah dibayar dengan begini. Sebenarnya salah tapi ini enak.


Mereka berdua memang sudah dewasa, laki-laki dan wanita normal pada umumnya, tapi ini merupakan pengalaman pertama mereka berdua.


“Jadi bagaimana rasanya adik kecilku?”. Tanya Andika menggoda Rahayu untuk mengurangi rasa canggung diantara mereka berdua.


Aku tak mampu menjawab apa-apa, wajahku sudah terlampau merah oleh perbuatannya. Aku hanya mencubit pinggang mas Dika. Sesuatu yang dulu sering aku lakukan ketika dia menggodaku.


“Yaallah maafkan kami, kami tidak macam-macam hanya satu macam saja”. Ucap Rahayu dalam hati berkali-kali.


Maklum sebenarnya mereka berdua orang yang baik-baik hanya saja perasaan mereka yang begitu sangat merindu satu sama lain hingga terbawa oleh suasana.


“Nagih gak? Kalau nagih came on”. Ucap Andika dengan senyum licik menggoda Rahayu.


Rahayu semakin keras mencubit dan memukul punggung Andika, tentunya cubitan sayang.


“Ah malu”. Rahayu menutup muka dengan kedua tangannya.


Meski terasa sedikit sakit tapi Andika menikmati pukulan Rahayu sesuatu yang memang sangat dia rindukan ketika menggoda Rahayu dulu.


Andika kini meraih tangan Rahayu yang dingin dan menggenggamnya karena guyuran hujan yang telah lama membasahi tubuh mereka.


“Jujur aku hanya melakukannya denganmu ini pertama bagiku”. Ucap Andika semakin menggenggam tangan Rahayu.


“Sama”.


“Apa kamu masih merasakan hal yang sama saat dingin biduran?”. Tanya Andika yang mulai khawatir dengan Rahayu mengingat Rahayu dulu sering biduran ketika terkena hawa dingin.


Aku hanya menggelengkan kepala.


Mereka duduk bersama saling bersandar di kursi taman hotel menatap langit yang masih menurunkan air hujan.


Hati Rahayu dan Andika ❤️


*Pernahkah kalian merasakan jatuh cinta secitna-cinyanya sama seseorang hingga tak dapat berkata-kata saat berada didekatnya?.

__ADS_1


__ADS_2