
“Kenapa diam saja tidak menjawab?”, mas Dika kembali mengulang pertanyaan nya.
“Kamu pasti bingung ya?. Aku dan Eki sudah putus Yu, jadi bagaimana mau tidak jadi pacarku?”. Mas Dika kembali mengulang pertanyaan nya dengan senyum yang terpaksa dan raut wajah-wajah patah hati.
Mas Dika benar-benar membuatku tak bisa berkata apa-apa, entah apa yang sedang merasuki pikiran dan hatinya sehingga dia bisa melontarkan kata-kata seperti itu padaku.
Tenang hehehe
Slow Yu jangan kaget mukanya biasa saja jangan tegang gitu, aku hanya bercanda kok mana mungkin aku memacari adik ku sendiri. Mas Dika mulai mengelus-elus kepalaku dengan lembut.
Kenapa tidak mas?, kenapa bercanda mu menyakitkan ini mas?, andaikan saja tak bercanda aku juga pasti mau mas. Aku hanya diam tak bergeming mendengar semua ucapan mas Dika.
Aku hanya terdiam dan tak menghiraukann mas Dika, aku menunggu dia untuk bercerita sesuatu yang mengusik pikiranku beberapa hari terakhir ini.
“Sudah ya jangan terlalu di pikirkan ucapanku tadi, aku hanya bercanda. Anak kecil belajar aja yang rajin saja ya, nanti kalau ada kesulitan atau butuh sesuatu jangan sukan-sukan untuk mengabari ku”.
“Hay jangan cemberut dong kok diam aja sih ada pangeran tampan nih di depan mata masak diacuhkan saja”, mas Dika kembali berbicara dan mengangkat daguku yang tertunduk.
Sikap mas Dika yang memperlakukan ku seperti ini terkadang membuatku salah dalam mengartikan segala perhatiannya. Apapun segala tindakan dan ucapan sering kali membuatku lemah tak dapat melawan atau sekedar menjawab.
“Jadi adik yang cantik mau kemanakah kita hari ini?”
“Terserah mas mau kemana saja, tapi kalau boleh aku ingin pergi ke tempat yang tenang dan ada suara air di sana”.
“Siap tuan putri silahkan naik dulu”, aku lekas maik ke sepeda mas Dika.
“Jadi mau kemana kita mas?”
__ADS_1
“Kita jalan-jalan saja mengukur luas kota Malang biar ilmu fisika kamu semakin berguna”.
Benar saja yang dikatakan oleh mas Dika, kami hanya muter-muter kota Malang dari ujung ke ujung dan tidak punya tujuan yang jelas. Lelah dengan kegiatan yang tak berfaedah namun sangat menyenangkan ini akhirnya kami memutuskan untuk ke kampus saja.
Kampus tampak sepi sekali sehingga dapat mudah menemukan tempat parkir. Hanya ada beberapa mahasiswa di sana, karena memang sedang libur semester. Aku dan mas Dika memilih untuk beristirahat duduk di gazebo perpustakaan.
Saat liburan semester seperti ini suasana gazebo perpus benar-benar sepi dan sangat nyaman untuk merelaksasikan otak. Suara gemericik air mancur menambah syahdu suasana didukung dengan cuaca yang tak begitu panas kala itu.
Aku dan mas Dika duduk saling berhadapan di salah satu meja gazebo tersebut. Aku menunggu mas Dika untuk membuka suara menceritakan sesuatu yang sangat ingin aku ketahui darinya.
Beberapa menit berlalu tak ada satu katapun yang kami ucapkan, kami saling diam dan menyelami hati masing-masing. Terlihat wajah mas Dika sedih sekali seperti ada rasa sakit yang tidak dapat diungkapkan.
“Halo permisi ada orang disini?”, ucapku pada mas Dika mencoba memecah keheningan sejenak.
“Yu setelah lulus dari sini nanti kamu kemana?”, mas Dika mulai membuka obrolan diantara kami.
“Aku tidak tau mas mau kemana?, aku hanya bisa berdoa dan berharap setelah lulus dari sini nanti aku bisa mengubah kehidupan keluargaku menjadi lebih baik dalam segala hal terutama dalam ekonomi, aku ingin mensejahterakan kehidupan mereka, untuk caranya seperti apa aku tidak tau, aku hanya berharap suatu saat nanti diberi kesempatan untuk bisa mendapat pekerjaan yang gajinya besar udah gitu aja”.
Mas Dika hanya menganggukkan kepalanya saja sepertinya dia mengerti maksudku.
“Cita-cita orang seperti aku ini simpel mas tidak neko-neko, tidak berharap bisa punya pabrik atau tambang batu bara, aku hanya ingin kehidupan yang lebih baik saja, kehidupan yang cukup, cukup dalam segala hal”, aku tersenyum pada mas Dika.
“Mas Dika sendiri cita-citanya mau jadi apa?”
“Cita-citaku sederhana Yu pengen jadi imam kamu udah gitu aja”, sambil menatap wajahku dengan tangan bertopang dagu menambah imut di wajahnya saja.
Uhuk uhuk aku tersedak mendengar jawaban mas Dika. Gusti Allah paring’i kuat hati ini diperlakukan seperti ini terus menerus.
__ADS_1
“Santai santai kalem minum dulu”, ucapnya menenangkan sambil menyodorkan botol mineral padaku.
Bagaimana bisa tenang kalau begini terus jika sepanengku semakin meronta-ronta mas ucapku dalam hati.
“Aku ingin jadi pembalap hehe”
“Pemuda berbadan gelap, tapi sayangnya kulitku putih hehehe bercanda”, ucapnya.
“Aku ingin menjadi pakar pertanian Yu, aku ingin mengembangkan pertanian organik agar di minati banyak orang dan aku juga ingin menjadi mentri pertanian, tapi orang tua ku tidak ada yang setuju dengan cita-citaku mereka ingin aku melanjutkan usaha yang selama ini mereka rintis dan menjadi dosen di sini.
“Menurut orang tuaku pertanian organik itu tidak potensial jika dikembangkan di wilayah Indonesia, masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan pertanian konvensional degan media tanah. Padahal jika pertanian organik dikembangkan semua orang dapat menjadi petani tanpa harus memiliki lahan yang luas terlebih dahulu.”
Aku menganggukkan kepala mencoba mencerna sedikit demi sedikit cerita mas Dika.
“Aku juga ingin sekolah lagi Yu setalah ini, jika diberi kesempatan aku ingin terjun di dunia politik. Aku ingin memperbaiki kebijakan-kebijakan yang selama ini tidak relevan dengan masyarakat kita. Aku ingin lebih dekat dengan masyarakat mendengar setiap keluh kesah dan aspirasinya”.
“Tapi aku juga ingin menjadi pengusaha untuk mempersiapkan masa tuaku nanti, karena untuk jadi pejabat hanya bisa dilakukan dalam beberapa tahun saja, namun aku juga akan tetap menjadi dosen di sini nanti untuk mewujudkan harapan orang tuaku. Oh ya satu hal lagi cita-citaku yang harus terealisasi”
“Apa mas?”.
“Aku ingin menikah dan punya anak, aku ingin menikah dengan orang yang aku sayang’i menjalani hari-hariku dengannya menghabiskan seluruh usiaku dengannya dan mempunyai anak-anak yang lucu-lucu dan menggemaskan”.
“Ye itu sih harapan semua orang mas”. Jawabku dengan sewot, andai saja kamu mengerti mas aku siap mewujudkan harapanmu yang terakhir itu.
“Terima kasih ya sudah mau mendengarkan keluh kesahku”.
“Iya dong kitakan saudara jadi harus saling berbagi”. Begini kah wajah ketika seorang pria patah hati? Kusut benar.
__ADS_1
Siang itu mas Dika cerita banyak hal tentang harapan-harapannya di masa yang akan datang tapi masih sama dia tidak membahas sedikitpun tentang urusan hati. Entah mengapa aku merasa ada yang berbeda pada mas Dika sekalipun dia di sini dan banyak cerita tentang banyak hal tapi ada rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan.