
Sebelum berangkat aku kembali melihat penampilanku pada cermin, memakai dress warna pink muda polos dengan satu hiasan bros di bagian dada sebelah kanan dan tangan sedikit berbentuk balon serta ikat pinggang yang ku sematkan pada dress tersebut membuat kesan elegan pada diriku, tidak ada pernak pernik yang berlebih serta di padukan dengan jilbab pasmina. Dress ini menggambarkan diriku Rahayu yang sederhana.
Sepanjang perjalanan menuju hotel aku sibuk menata hati, mengumpulkan segenap keberanianku untuk menyapa mas Andika nanti saat bertemu. Gelisah bahagia dan tegang semua berkumpul menjadi satu.
Sesampainya di Hotel aku lekas menuju lobi, rupanya kedatangan alumni sudah di sambut khusus oleh pihak hotel.
“Selamat malam, apa di sini benar tempat acara temu alumni universitas Braw?”. Tanyaku pada petugas yang sedang berada di lobi hotel tersebut.
“Betul bu acara berada di lantai dua, mohon maaf dengan ibu siapa?”. Tanya petugas tersebut karena akan mencocokan dengan daftar nama peserta temu alumni yang hadir.
“Dengan Puspita Rahayu pertanian 2011”. Jawabku dengan sopan pada petugas tersebut.
“Oh ibu Puspita Rahayu, silahkan masuk bu”. Petugas tersebut mempersilahkan masuk dan memberikan sovenir yang sudah dibuat khusus oleh panitia penyelanggara.
Sebenarnya aku ragu untuk datang ke acara temu alumni ini karena dari beberapa sahabatku angkatan 2011 tidak ada yang bisa datang termasuk Sari dan Nina yang sedang mempersiapkan diri menghitung hari menjelang pernikahan mereka.
Kuberanikan untuk melangkahkan kaki menuju tempat acara tersebut, dengan langkah yang berat bercampur-campur aku berdoa sepenuh hati semoga hari ini takdir berpihak padaku untuk mempertemukan dengan cinta pertamaku.
Benar saja dugaanku sebelumnya dari beberapa alumni yang datang angkatan 2011 sangat sedikit yang menghadiri acara ini. Yang lebih membuatku canggung adalah beberapa dari mereka bukan circleku dulu saat kuliah.
Sebagian besar yang datang adalah angkatan 2010 maklum dari dulu angkatan ini terkenal paling solid di antara angkatan yang lain.
Sedangkan teman-teman 2011 hanya beberapa saja yang datang.
Jadi teringat akan geng-geng yang ada di 2011 kala itu.
Jadi dulu dalam kelas kami di Kelas C terbagi menjadi beberapa geng ada geng blackberry, geng ustazah, geng barbie dan geng kami geng pelo. Geng blackberry yang beranggotakan anak-anak orang kaya mereka yang berada dalam barisan geng ini adalah kaum-kaum kaya raya anak-anak pemilih perusahaan.
Geng ustadzah merupakan geng yang beranggotakan mereka-mereka calon istri soleha, geng ini memiliki ciri khas memakai gamis dengan jilbab yang besar dan panjang. Tutur kata mereka sangat sopan-sopan serta rajin memberikan dakwah ke beberapa mahasiswa yang lainnya.
Geng barbie dalam geng barbie ini beranggotakan mereka anak-anak yang suka berdandan. Geng ini memiliki ciri khas baju, jilbab, tas, sepatu dan aksesoris yang ada pada diri mereka sesuai dengan perkembangan mode. Mereka berasal dari kalangan berada tapi tak sekaya geng blackberry. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak petinggi dari Unilever, Petrokimia dan beberapa perusahan besar lainnya, hobinya ke salon, shopping dan makan-makan di cafe.
__ADS_1
Geng pelo adalah geng ku dengan beberapa teman-teman yang lain, beranggotakan sembilan orang, dua di antaranya adalah penerima beasiswa bidik misi sedangkan yang lainnya adalah anak-anak petani dan pedagang. Geng ini tak memiliki ciri khas tertentu kami mengalir mengikuti arus, untuk urusan makan kami biasanya “mengirit” tapi di satu waktu kami juga makan-makan di cafe. Untuk urusan baju tidak ada yang menjadi ciri khas terkadang kami memakai celana terkadang kami memakai rok tergantung mana yang kering dan bersih waktu itu.
Aku menghela nafas panjang semakin memasuki ruangan tersebut aku semakin tak mengenal mereka yang datang. Diantara mereka sibuk sendiri-sendiri dengan teman-temanya dulu, yang lebih bikin nyesek tidak ada yang mengenaliku.
“Tau gak aku jauh-jauh dari Semarang ikut acara ini untuk apa coba?”, terdengar suara wanita yang sedang berbincang-bincang dengan sahabatnya.
“Kalau aku sih ingin Ketemuan Andika sudah lama tau dia menghilang tidak ada jejak sama sekali”.P
“Iya sama aku juga pengen ketemu Andika, kira-kira masih sama Eki tidak ya? Kalau tidak aku siap jadi penggantinya”.
Kebanyakan yang datang adalah angkatan 2010 maklum mereka datang hanya ingin berjumpa dengan ketua himpunan mereka saja.
“Enak saja mau ngambil Andikaku, aku nunggu lama tau”. Ucapku dalam hati yang mendadak kesal dengan perkataan mereka.
Pandanganku tak berhenti melihat ke arah pintu masuk, aku ingin memastikan mas Andika sudah datang atau belum. Hatiku semakin gusar karena sampai selama ini mas Dika juga belum muncul ke permukaan.
Aku kembali berdiri dan mengambil minuman yang berada di meja sebrang sana.
Ketika itu aku masih mengantri minuman kemudian aku berbalik arah, yang terjadi adalah aku melihatnya.
Pangeranku.
pangeranku telah tiba.
Ya akhirnya aku bisa melihat mas Andika. Tapi tunggu siapa wanita yang berada di sampingnya itu?.
Sepertinya penantianku sia-sia. Aku menghela nafas kasar melihatnya datang dengan wanita lain yang tak ku kenal.
“Teman-teman Andika sudah datang”.
“Kahim 2010 sudah datang”.
__ADS_1
“Orang ganteng datang, ayo kesana”. Begitulah ucapan mereka yang datang dalam acara temu alumni di ruangan tersebut.
Mereka semua lekas berbondong-bondong menghampiri mas Andika. Semua tampak bahagia dan antusias menyambut kedatangan mas Andika.
Sedangkan aku?
Aku kecewa.
Meski kecewa aku masih berusaha untuk tetap melihatnya, sekilas aku bisa melihatnya namun hanya sekilas saja karena tubuhku yang kecil dan pendek meskipun sudah memakai hells.
Tampak Sekilas mas Andika memakai baju senada dengan baju yang ku gunakan saat ini. Kemeja dengan warna pink muda kalem dipadukan dengan bawahan celana warna hitam.
Sayangnya bajunya juga senada dengan wanita di sampingnya itu.
Hatiku begitu kacau melihat kenyataan yang ada bahwa ada wanita lain di sisinya, meski aku sendiri belum tau dia siapa?.
Tapi hatiku cukup kecewa dan merana.
Aku begitu sangat merindukannya.
Sangat merindukannya.
Tapi siapa wanita itu?.
Beberapa kali pertanyaan itu ku ulang dan tak kutemukan jawabannya.
Di tengah rasa kecewaku, aku masih terus menatap mas Andika meskipun dari kejauhan setidaknya masih dalam ruang yang sama. Sedangkan mas Andika tampak sibuk berbicara dengan beberapa teman-temannya. Aku masih saja terpatung menatapnya tak ingin sedikitpun mengalihkan pandanganku, dan.
Tiba-tiba saja mata kami bertemu.
Jeng jeng.
__ADS_1