Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Kuiz


__ADS_3

Hari senin pun tiba aku kembali menjalankan rutinitas kehidupanku seperti biasa, aku bangun pagi-pagi sekali, bahkan lebih pagi dari hari biasanya sebelum berangkat ke kampus aku ke rumah ibu kos terlebih dahulu untuk mengambil setrikaan yang menumpuk setelah beberapa hari aku tinggalkan waktu mengikuti lomba.


Keranjang setrikaan benar-benar penuh membuat mood ku pagi ini sedikit terganggu, aku lelah sekali setelah menempuh perjalan jauh kemarin tapi aku harus lekas menyelesaikan kewajiban ku terlebih dahulu.


Aku memutuskan untuk menyetrika baju ibu kos ku terlebih dahulu sambil menunggu jam berangkat kuliah nanti. Satu per satu baju aku rapikan dan aku setrika hingga licin, dalam hati berangan seandainya aku kaya aku tidak akan bersusah-susah seperti ini, saat pagi datang aku hanya akan memikirkan outfit apa yang akan aku gunakan untuk ke kampus hari ini dan makanan apa yang bisa kupilih untuk sarapan hari ini.


Setelah semua setrikaan baju tertata rapi semua, aku kembali merebahkan tubuhku sambil membaca-baca sedikit materi yang akan dipelajari hari ini. Hari ini ini ada kuis bahasa ingris dan ekonomi pertanian dua mata pelajaran yang aku benci terutama bahasa inggris. Tadi malam setelah pulang dari kampus aku sudah mati-matian belajar namun tetap saja aku tak mampu memahaminya.


Aku paling tidak suka dengan mata kuliah bahasa inggris, aku punya masa lalu yang buruk dengan pelajaran satu ini, dulu aku mendapat pelajaran bahasa inggris pertama kali saat aku kelas 5 SD, saat SD aku adalah murid yang berprestasi aku selalu menjadi juara kelas di sekolahku.


Belum ada guru bahasa inggris waktu itu di sekolah jadi pihak sekolah mengambil guru dari luar untuk mengajar bahas inggris di kelasku. Saat itu guru memberi tugas di buku LKS yang harus di kerjakan siswanya, aku benar-benar asing dengan bahasa inggris dan aku tidak tertarik untuk mempelajarinya.


Beberapa teman sekolahku sedikit banyak sudah mengenal bahasa inggris mereka mengikuti bimbel di luar sekolah, meskipun disekolah belum ada pelajaran bahasa inggris tapi orang tua mereka sudah mempersiapkan lebih awal.


Aku tidak menyalahkan orang tuaku yang tidak mampu untuk mengirim ku mengikuti bimbel di luar sekolah, memang keadaan keluarga kami yang kurang membuat gerak kami terbatas, yang paling utama untuk makan, makan dan makan saja sudah alhamdulilah.


Aku mendapat nilai 20 kala itu sedangkan teman-temanku nilainya di atas 80, aku benar-benar malu karena biasanya nilaiku selalu yang tertinggi dikelas. Karena nilaiku terendah guru menyuruhku untuk membaca soal-soal tadi dengan keras dan aku tak bisa membacanya dengan baik dan benar. Semua teman-teman menertawakan ku dengan nilai tersebut sejak saat itu aku sangat membenci bahasa inggris.

__ADS_1


Aku tidak pernah mau lagi belajar bahasa inggris saat SMP dan SMA juga aku sama sekali tidak tertarik dengan bahasa inggris. Kalian tanya bagaimana aku saat menyelesaikan ujian? Tentunya aku mencontek teman-temanku yang berada di sekitar bangku saat ujian, aku menukar dengan memberi contekan saat pelajaran yang berbau hitungan. Kali ini sepertinya aku hanya bisa pasrah dengan takdir Allah aku tidak bisa mengandalkan siapa-siapa.


Jam menunjukan pukul 09.30 aku lekas berangkat ke kampus kuliah akan dimulai pukul 10.00 kali ini aku tidak membawa donat dan molen saat ke kampus, aku masih sangat lelah untuk berjualan.


Aku berjalanan menuju gedung D di lantai tiga dengan langkah gontai menaiki satu persatu anak tangga dengan wajah yang sudah masam, sepertinya aku sudah kalah sebelum berperang. Aku mulai memasuki kelasku dan mencari tempat duduk yang berada di ujung kali aja nanti ada yang berbaik hati untuk memberiku contekan.


“Baik semua selamat pagi, sudah siap untuk kuis hari ini” ucap bu Rizka selaku dosen bahasa inggris di kelasku.


“Belum siap bu”. Semua mahasiswa menjawab. Bu Rizka hanya tersenyum menanggapinya.


Suara gaduh mulai terdengar semua mahasiswa saling menggeser tempat duduk masing-masing, aku benar-benar takut dengan nasibku, kuis dalam mata kuliah ini memegang 25% dari nilai di akhir semester nanti.


Soal ujian di bagi terdiri dari 25 soal pilihan ganda dan 10 soal essai. Seperti bayanganku hanya mampu mengangguk-anggukkan kepalaku tanpa tau maksud dari soal tersebut. Jangankan untuk membuat jawaban “ngawur” arti soalnya saja aku tidak tau sama sekali aku mengutuk diriku sendiri.


Kepalaku berputar-putar menoleh samping kanan dan kiri semua tampak khusuk mengerjakannya. Untuk soal pilihan ganda aku memilih dengan banyak-banyak baca sholawat, aku akan memilih satu huruf saat sholawat itu habis. Untuk soal essai aku menulis kembali soal yang ada karena aku benar-benar tidak mengerti sama sekali.


90 menit berlalu kuis selesai. Aku menghela nafas sangat panjang ketika melangkah mengumpulkan ke dosen. Aku benar-benar pasrah sepasrah-pasrahnya.

__ADS_1


***


Satu minggu berlalu, hari ini pembagian nilai kuis kemarin. Aku menatap hasil kuisku dengan tatapan hampa kejadian beberapa tahun lalu terulang kembali kali ini aku mendapat nilai 30. Aku begitu galau aku sudah berusaha utuk belajar semampuku tapi memang dasar pondasinya dari awal sudah tidak kuat sudah pasti roboh.


Aku beranjak menuju perpustakaan berharap bisa pandai setelah keluar dari sana. Seperti biasa aku memilih tempat duduk paling pojok, aku kembali membuka hasil kuis hari ini, tanpa terasa air mata ku mengalir. Aku berasa benar-benar menjadi orang yang bodoh sudah kuliah mendapat beasiswa tapi tidak bisa memberikan yang terbaik.


Aku terus menangis sesenggukan di ujung perpus depan komputer yang tertutup sekat-sekat. Aku begitu malu dengan diriku sendiri, aku takut jika seperti ini terus akan berimbas pada beasiswa yang ku peroleh di sini.


Aku sudah berjanji pada diriku sendiri dan kedua orang tuaku untuk belajar lebih baik berusaha lebih keras agar bisa mengubah kehidupan keluarga kami kelak.


Hampir semua dosen mata kuliah disini menggunakan bahasa inggris saat di power point membuatku harus mengartikan satu persatu demi memahami maknanya. Aku juga baru tau ternyata di sini jika mau daftar wisuda kelak harus mengikuti tes tofl dengan sekor minimal 500. Bagaimana aku bisa memperbaiki perekonomian keluarga? aku sendiri tak yakin bisa lulus dengan melewati tofl 500.


Hihi hihihi hihihi aku terus menangis tersedu-sedu menangisi kebodohanku sendiri. Aku tidak peduli jika ada orang yang mendengar tangisku ini, aku terus menangis bahkan semakin terisak-isak. Mungkin orang akan beranggapan “pasti habis putus cinta” aku tidak peduli, aku hanya ingin melampiaskan kekecewaanku pada diriku sendiri.


Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk punggungku dari belakang.


“Kenapa kamu menangis?”

__ADS_1


__ADS_2