
Aku mempercepat jalanku menuju kosan, untuk hari ini aku memutuskan untuk bolos kuliah saja, percuma juga masuk pikiranku tidak pada tempatnya, mataku juga tidak bisa berhenti mengeluarkan butiran bening yang ada nanti kan jadi bahan gunjingan orang-orag di kampus.
Aku semakin mempercepat langkahku menuju kosan, aku ingin lekas menuju kamar menumpahkan segala sesak di dada yang begitu membuncah. Sesampainya di kamar aku lekas menghempaskan tubuhku di atas kasur dengan keras aku semakin menangis, menangis sejadi-jadinya. Ku kunci pintu kamar rapat-rapat agar tidak menimbulkan banyak pertanyaan pada tetangga kamar.
Pernahkah kalian merasakan sesuatu yang hilang?
Sesuatu yang tidak dapat kita genggam kembali?, merasakan gemuruh didalam dada yang luar biasa dahsyatnya. Sesuatu yang membuat langkah tidak tenang, dengan memikirkan segala angan dan impian yang telah hilang.
Hingga membuat hati dan pikiran begitu penuh, membuat emosi didalam dada kian sesak dan meluap-luap. Merasakan hampa yang tiada tara. Hari ini aku kehilangan dia.
Aku kehilangan dia. Dia yang memberiku kebahagiaan sebelumnya, kehilangan dia yang beberapa waktu ini terus membersamai hari-hariku. Aku kehilangan dia, dia yang memberiku segala kemewahan yang tak pernah aku dapatkan selama ini.
Dia yang memeprdulikanku selama ini sudah hilang dia pergi, aku yang mengusirnya aku yang membuatnya dia menjauh, aku yang membuatnya terluka dengan segenap perkataanku yang menyakitkan.
Tidak ada lagi yang membonceng ku mengajakku jalan-jalan, tidak ada lagi yang membantuku belajar, tidak ada lagi yang memperdulikan ku. Sekarang semua sudah terlanjur menyesal pun rasanya tak ada gunanya.
Aku menangis dan terus menangis meratapi keputusanku.
***
Beberapa hari setelah kejadian itu aku semakin tak semangat untuk ke kampus tidak ada energi positif yang aku miliki, rasanya sungguh berbeda. Aku juga tidak pernah melihat mas Dika beberapa waktu ini. Sudah tidak ada hubungan lagi diantara kami bahkan kata teman saja sudah tak pantas.
“Dimanapun mas semoga kebaikan selalu menyertaimu, aku tau kamu orang baik dan kamu orang pintar tak susah untuk orang bisa menyukai dan menyayangimu”. Doa tulus yang slalu ku ucapkan setiap harinya.
Ternyata begini menyakitkannya tidak saling bertegur sapa dengan orang yang kita cintai, kesepian dan merana rasanya. Aku masih sering menangis jika teringat dengan mas Dika, dia masih hidup dia ada di sekitarku tapi aku tidak bisa menyentuhnya bahkan memanggil namanya saja sudah tidak berani.
__ADS_1
***
Sore itu mading di lantai tiga begitu penuh dengan beberapa mahasiswa yang ingin melihat isi pengumuman tersebut. Aku lekas menuju ke gerombolan mahasiswa tersebut. Aku ikut bergerombol dan membaca pengumuman mading tersebut ternyata akan ada pensi ulang tahun jurusan “praha”, aku tidak begitu berminat dengan acara tersebut. Aku lekas melewati lorong lantai tiga menyusuri setiap lab yang pernah aku tempati bersama dengan mas Dika.
Lab biologi pertama kali berkenalan dengan mas Dika dan menjadi praktikannya, berkeliling lab biologi melihat seisi ruangan tersebut semua memori itu terlintas dan menari-nari di pikiranku.
Lab agrokimia tempat ku menghabiskan waktu dengan mas Dika selama berbulan-bulan ketika mengerjakan pkm pimnas, di lab agrokimia kami semakin dekat sekali tiada hari tanpa bertemu dengan mas Dika kala itu, mesti sibuk dan melelahkan aku bahagia sekali bisa dekat dengan dia dalam waktu yang lama. Entah hanya modus atau memang tuntutan tugas tapi dalam mengerjakan pkm pimnas kemari aku lebih banyak kebagian tugas bersama mas Dika.
“Mas aku rindu, aku kangen kamu usilin, aku kangen saat kamu mengacak-acak kerudungku dan pasti aku akan memasang wajah kesel saat itu, tapi taukah kau sebenarnya isi hatiku mas? Aku senang sekali dengan perlakuanmu itu mas”.
Lab komputasi dan analisis sistem kami menghabiskan banyak waktu disini menuju pimnas, kamu mengajarkan banyak hal mas padaku, mengajarkan sesuatu yang tidak diketahui oleh mahasiswa seangkatanku.
Aku masih terus berjalan di lorong ketiga, dari belakang terdengar suara teriakan memanggilku.
“Rahayu tunggu kamu mau kemana?,”. Aku lekas menoleh ke sumber suara tersebut.
“Kamu itu jadi mahasiswa kayak kupu-kupu aja sekarang, kuliah pulang-kuliah pulang main-main dulu lah kita nikmati masa-masa indah ini sebelum nanti ruwet gendong anak”, goda Susi padaku.
“Lagi gak niat main bastie aku males”, ucapku dengan nada yang malas.
“Lagi patah hati kan?, tenang Yu cowok di kampus ini banyak, banyak banget malah kamu tinggal pilih aja mana yang kamu mau, kamu kan cantik”, ucap Nina mencoba menghiburku.
“Tapi orang yang aku pilih tidak memilihku”, ucapku dengan sendu.
“Kenapa tidak memilih kamu? Aku tidak tau dia siapa? Tapi sesama wanita aku sendiri mengagumi kecantikan dan kepribadianmu Yu”, Nina dan Sarah mengatakan pendapat meraka.
__ADS_1
“Iya kamu itu cantik, baik hati, ramah, tamah dan hemat satu sih yang kurang sepertinya kamu kurang tinggi”, ejek Nina melepas keheningan dan ketegangan diantara obrolan mereka.
“Eh Yu serius nih tanya, emang ada laki-laki yang menolak kamu hingga kamu patah hati kayak gini?”
“Dih gak nolak juga sih, aku juga tidak menyatakan cinta, aku haya berusaha untuk menjaga jarak dan menghindari dia demi kesejahteraan dan kedamaian hidup kami”.
“Terus kenapa harus menjaga jarak segala?”
“Karena kita beda keyakinan”, jawabku pada dua orang yang sangat kepo ini.
“Beda keyakinan? Serius kamu mencintai orang non islam?”. Tampak wajah Nina dan Sari begitu terkejut mendengar penuturan ku.
“Iya beda keyakinan, aku yakin suka sama dia, tapi dia tidak yakin suka sama aku”. Jawabku sambil lekas bergegas meninggalkan mereka.
“Rahayu awas kamu ya”, mereka berdua masih saja mengejar ku dan memukulku dengan buku.
Kami tertawa bersama, sejenak rasa sedihku hilang saat bersama mereka.
“Nanti malam jam tujuh ada acara pensi di depan fakultas, kita datang yuk semua angkatan boleh datang tanpa terkecuali, acara pensi ulang tahun fakultas, kan lumayan sapa tau nanti bsa ketemu jodoh gitu, ada banyak makanan juga katanya. Oh ya satu ada ada pameran-pameran produk dari mahasiswa-mahasiswa kreatif juga katanya”. Nina mencoba mempromosikan acara praha pada dua sahabatnya tersebut.
“Baju apa kabar bastie? Aku takut salah kostum?”.
“Bebas gaes yang penting sopan, tidak harus pakai kebaya atau jubah kok yang penting tidak terbuka-buka nanti dikira mau sedekah”, jawab Nina dengan senyum.
Aku masih diam saja menyaksikan perdebatan diantara dua sahabatku ini.
__ADS_1
“Nanti harus datang, aku tidak terima alasan apapun jam tujuh harus sudah siap aku jemput kalian, tunggu aja di gang depan kis masing-masing”, instruksi dari Nina.