
Suara hantaman dua benda keras beralun dengan begitu kerasnya, membuat seketika pengemudi kendaraan tersebut keluar dari mobil masing-masing.
“Heh! Bisa nyetir nggak sih!, dulu bikin SIMnya dimana?, keluar!”. Bentak sepasang suami istri paruh baya penuh dengan amarah.
“Maaf Pak, saya buru-buru”.
“Kamu pikir kamu saja yang buru-buru, saya juga! Kelakuan anak muda seperti kamu ini yang bikin banyak kecelakaan terjadi di jalan, ayo cepat minggir keluar!”.
Andika lekas meminggirkan mobilnya di minimarket terdekat, sedangkan Rahayu tampak manyun kesal tapi juga bersyukur tidak terjadi hal-hal yang di luar keinginan. Jujur Rahayu syok mendengar suara dentuman antar mobil tersebut. Seketika bayangan Reno hinggap di kepalanya.
Rahayu membayangkan kejadian beberapa tahun yang lalu ketika kecelakaan terjadi pada Reno. Alhamdulillah, Allah masih sayang dengan mereka, hanya benturan kecil karena Andika tak fokus ketika mengemudi.
Keduanya menghampiri sepasang suami istri paruh baya yang tampak mengamati keadaan mobil mereka, sesekali tangan mereka menunjuk bagian-bagian yang rusak.
“Lihat mobil saya jadi seperti ini!”.
“Maaf Pak, maa saya benar-benar minta maaf atas segala kelalaian saya”.
“Untung saja kepala saya aman”, Jawabnya dengan kesal.
“Iya Pak, mohon maaf atas kelalaian suami saya pak”.
“Saya tidak mau tahu, saya mau kita selesaikan semua ini sekarang juga”.
“Baik Pak, baik”.
“Ayo kita sekarang ke kantor polisi”. Tawarnya dengan nada yang berapi-api, rasanya siap untuk memangsa Andika saat itu juga.
“Pak, tidak perlu ke kantor polisi mari kita selesaikan secara kekeluargaan saja. Saya mengakui saya bersalah”.
“Tidak bisa, saya tidak suka penyelesaian secara kekeluargaan karena saya sudah berkeluarga”.
Kan jadi ngasal jawabnya.
“Pak, mohon maaf kita damai saja ya Pak, saya menyadari saya memang salah karena terlalu buru-buru dan tak fokus sepanjang perjalanan”.
“Masih muda kok sudah gelambyar pikirannya, gak fokus”.
“Fokus saya ke dia pak, saya lagi mengagumi indahnya cintaan yang maha Kuasa”. Tunjuk Andika pada sang istri.
“Ya Allah mas, bisa-bisanya saat tegang kayak gini kok malah bikin lelucon yang garing, mana orangnya udah kayak kebakaran jenggot gitu”, Ucap Rahayu dalam hati.
“Pokoknya saya mau di selesaikan semua ini dengan jalur hukum!”.
“Pak kasihanilah kami Pak, kami pengantin baru yang hendak merangkai indahnya merajut kasih bersama sandaran hati. Kami juga ingin lekas mencetak penerus bangsa demi kedaulatan tanah air ini pak”.
__ADS_1
“Marilah kita selesaikan secara kekeluargaan saja”.
Andika menunjukan wajah memelasnya, dengan tangan yang menangkup di dada.
Sementara Rahayu menahan tawa dengan tingkah sang suami, bisa-bisanya malah mengarang indah.
“Mari pak kita cari bengkel terdekat sini, saya akan tanggung jawab semua kerusakan mobil bapak”.
Pria paruh baya tersebut tampak melirik sang istri, sekaan meminta persetujuan dari pasangannya.
“Ya sudahlah Pak, kasin juga pengantin baru sepertinya lagi anget-angetnya tuh kayak gak pernah muda aja”.
Jawabnya dengan pelan dan datar.
“Baik, karena menurut wanita yang saya sayangi begitu maka kita cari bengkel terdekat”.
Kedua pasangan benda generasi tersebut mengendarai mobil masing-masing mencari keberadaan bengkel terdekat.
“Pak, sekali lagi mohn maaf atas kelalaian saya, saya sedang buru-buru mengejar jam terbang pesawat, ini kartu nama saya. Bapak bisa menghubungi kapanpun untuk biaya perbaikannya, tapi tolong ijinkan saya pergi sekarang. Saya berjanji akan bertanggung jawab”.
“Bagaimana saya bisa percaya dengan ucapanmu?”.
Andika menyerahkan amplop coklat padanya.
Pria paruh baya tersebut lekas memakai kacamatanya, membaca nama yang tertera dalam kartu nama tersebut. “Andika Putra Maharaja, SP, MP Dosen Universitas Braw Malang.
“Baik kalau begitu, jika kamu tidak tanggung jawab dengan ucapanmu bersiaplah”.
“Baik pak trimakasih atas kesadarannya, kami berdua pamit dulu”.
Andika dan Rahayu bersalaman pada mereka berdua.
Mobil Andika tidak terllau parah hanya saja lecet sedikit bagian depannya, sedangkan mobil bapak tersebut bagian belakangnya ada yang retak.
Beberapa langkah kemudian.
“Le”, teriaknya pada Andika, sontak membuat pasnagan pengantin tersebut secara bersamaan menengok kembali ke belakang.
“Jangan lupa, cetak sebanyak mungkin penerus bangsa dan negara ini’, ucapnya dengan tertawa.
“Siap pak”, Andika melambaikan tangannya yang di susul dengan cubitan mesra sang istri di perutnya.
***
Sesampainya di Bali Andika dan Rahayu lekas menuju hotel yang di siapkan Bunda. Sepanjang perjalanan dari lobi hotel hingga kamar tangan Andika tak pernah lekas dari Rahayu kedua pasangan pengantin ini benar-benar sedang menikmati indahnya pacaran setelah halal.
__ADS_1
Ceklek.
Memasuki kamar tersebut, keduanya di suguhi pemandangan yang luar biasa. Kamar yang sudah di hias khusus, sedemikian rupa ala-ala honeymoon.
“Masayaallah Bunda”. Mata Rahayu berkaca-kaca mengingat semua kebaikan Bunda padanya selama ini.
Dulu Bunda juga mempersiapkan hadiah khusus seperti ini untuk Rahayu dan Reno, hanya saja takdir tak sampai. Oleh karena itu Bunda tak ingin menunda lagi untuk memberikan hadian seperti ini pada Rahayu sekarang.
“Sini sayang kopernya”, Andika meraih koper sang di bawa Rahayu dan meletakkan di lemari pakaian.
Sedang Rahayu tampak berkeliling melihat isi kamar tersebut.
Rahayu membuka pintu yang terhubung langsung dengan area kolam hotel tersebut, sungguh indah sekali.
Hotel dengan nuansa alam, lengkap dengan segala fasilitas dan kemewahannya.
“Sayang, nanti pokoknya aku mau nanti sampai pagi”.
“Sampai pagi?”. Rahayu merotasi matanya mendengar permintaan Andika.
“Iya pokoknya aku mau sampai pagi”, jawabnya dengan santai dan memeluk pinggang sang istri.
“Memang tidak capek habis perjalanan jauh, kena musibah juga tadi”.
“Ya mana ada capek di kamus pengantin baru untuk hal itu”.
Rahayu tersenyum lalu mengecup singkat sudut bibir Andika kemudian lari menuju kamar mandi.
Sedang Andika masih mematung di tempat merasakan istri kecilnya yang mulai meresahkan.
“Sayang awas kamu ya”, teriaknya beberapa saat setelah Rahayu berada di dalam kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam.
Sementara Rahayu yang berada di dalam kamar mandi tertawa membayangkan wajah suaminya yang tak simetris ketika sedang melongo mendapat serangan dadakan.
Setengah jam kemudian Rahayu sudah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk karena tak membawa baju. Tangannya lekas meraih koper yang di bekali oleh bunda.
Rahayu mengeluarkan satu persatu baju yang ada di dalam koper tersebut.
“Kok bajunya model seperti ini semua”.
Bunda memasukan semua baju dinas yang mereka beli dulu ketika jalan-jalan bersama Rahayu di Surabaya.
“Kenapa sayang?”,
“Mas, isi kopernya baju model begini semua”. Tunjuk Rahayu dengan memberikan beberapa potong baju tersebut pada Andika.
__ADS_1