
Surabaya.
Di Hotel Surabaya Andika sedang berdiskusi dengan beberapa dosen lainnya untuk membahas program kerja dan evaluasi kinerja selama setahun ini. Sebenarnya Andika tidak ke Jogja melainkan hanya ke Surabaya, sengaja ia mengatakan kota tujuannya Jogja dengan sedikit keras agar Merisa mendengarnya. Andika sudah merasakan hawa-hawa tak enak dengan perilaku Merisa padanya.
Beberapa menit saat diskusi dimulai, tiba-tiba ponsel Andika berdering.
Andika cukup terkejut karena tak biasanya bapak mertuanya menghubunginya di jam kerja jika bukan untuk menyampaikan sesuatu yang penting. Andika lekas mohon izin untuk mengangkat teleponnya.
“Permisi maaf saya jawab telon sebentar ya”. Pamitnya pada dosen-dosen yang ada di raung tersebut.
“Silahkan pak”.
“Iya Pak, ada apa?’, tanyanya dengan cukup khawatir saat itu.
“Kamu di mana nak Dika?, tadi bapak sedang berkunjung ke rumah kalian, tiba-tiba bapak lihat Rahayu sedang pingsan di kursi ruang tamu”. Tutur bapak menejelaskan kejadian yang ada.
“Saya di Surabaya pak, kebetulan sedang ada tugas”.
“Bapak dan Ibu sedang di jalan membawa Rahayu ke rumah sakit”.
Terdengar sekilas suara Ibu yang tampak panik dengan memanggil-manggil nama Rahayu.
Seketika tubuh Andika tercengang seluruh tubuhnya bergetar hebat, membayangkan segala kemungkinan buruk terjadi pada istrinya. Tanpa Andika sadari ponselnya hampir terjatuh dari genggamannya.
“Bapak membawa Rahayu ke rumah sakit Unisma nak, kamu cepat menyusul ya!”.
“Baik pak, saya akan langsung ke sana sekarang juga, titip Rahayu ya pak’, suara Andika sudah bergetar menunjukan bawa ia sedang tidak baik-baik saja.
Panggilan berakhir sudah, beberapa teman yang sedang berdiskusi menatap Andika dengan penuh tanda tanya kenapa Andika sampai gemetaran seperti itu.
“Maaf sepertinya saya harus pulang sekarang, istri saya sedang di larikan ke rumah sakit dan kondisinya masih belum sadarkan diri dari beberapa waktu yang lalu. Saya mohon ijin untuk pulang lebih dahulu”. Ucapnya dengan rasa sukan tidak enak karena meninggalkan tanggung jawabnya dan melimpahkan pada rekan-rekan kerjanya.
Tapi mau bagaimanapun bagi Andika, Rahayu adalah yang paling utama dalam hidupnya, ia akan rela melakukan apapun untuk istrinya tercinta.
Melihat kepanikan yang di rasakan Andika beberapa rekan kerjanya tanpa ragu memberikan ijin Andika untuk pulang lebih dulu. Toh urusan pekerjaan nanti bisa di jelaskan di kampus yang kiranya memang benar-benar tidak bisa di wakilkan pengerjaanya.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama Andika lekas berkemas membawa serta semua barang bawaannya, memasukan dengan asal ke dalam koper dan berlari menuju parkiran hotel.
***
Satu jam kemudian tibalah Andika di Unisma, Andika mengendarai mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi membelah tol Surabaya Malang pagi itu.
Sesampainya di Igd Andika lekas berlari mencari keberadaan istrinya, wajahnya benar-benar panik takut terjadi sesuatu hal yang buruk pada Rahayu.
Beberapa saat kemudian tangan Ibu melambai-lambaikan pada Andika menunjukan jika Rahayu sedang berada dalam kamar tersebut.
“Ibu bagaimana keadaan Rahayu?”, tanya Andika dengan paniknya sesekali ia tambak mencabik-cabik rambutnya merasa lalai dalam menjaga istrinya hingga pingsan dan tak tahu orang.
“Rahayu sedang dalam penanganan, tenanglah nak”, jawab bapak dengan menyodorkan sebotol air mineral pada Andika yang tampak ngos-ngosan berlari mencari keberadaan istrinya.
Andika meraih botol mineral itu dan meneguknya hingga habis tak tersisa.
Namun bukannya tenang Andika justru semakin gelisah kala melihat jam yang melingkar dalam pergelangannya.
“Ibu ini sudah lebih dari satu jam Rahayu pingsan, kenapa tak kunjung sadarkan diri juga?”. Matanya berkaca-kaca kala melihat di balim ruang berkaca dokter sedang memeriksa istrinya.
Pikiran Andika begitu kacau memikirkan segala sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya, bukan tanpa alasan Rahayu merupakan penderita asma Andika takut dengan itu, kaa kalau-kalau asmanya kambuh dengan tiba-tiba.
Setengah jam kemudian, dandanan Andika sudah tidak beraturan lagi, rambutnya berantakan terlalu banyak ia jambak-jambak sendiri, bajunya lungset karena beberapa kali meringkuk menjinjit mencari posisi ternyaman sambil menunggu kabar istrinya, dasinya sudah ia longgarkan sedari tadi, entah mengapa menunggu kabar Rahayu dari dokter yang tak kunjung keluar membuatnya bertingkah tidak karuan di lar kendalinya.
Beberapa menit kemudian, pintu terbuka terlihat seorang dokter sedang keluar dari ruangan tersebut, semua orang yang ada di bali pintu lekas menghampiri dokter tersebut.
“Dokter bagaiman dengan kondisi istri saya?, Tanya Andika dengan begitu paniknya.
Dokter wanita tersebut membuka maskernya dan tersenyum ramah pada semua yang ada di depannya.
“Jangan panik, mual, muntah dan pusing yang berlebih hingga pingsan memang sering terjadi di awal kehamilan seperti ini”.
“Hamil dokter?, siapa yang hamil”. Tanya Andika yang tampak terkejut dengan penuturan dokter di depannya.
“Ibu Rahayu sedang hamil pak, kehamilannya memasuki usia lima Minggu”.
__ADS_1
Andika masih diam bengong dengan mulut yang terbuka, seakan tak percaya dengan ucapan yang ia dengar baru saja.
Beberapa detik kemudian.
“Dokter benarkah istri saya hamil?”. Kini wajah Andika berubah dari yang panik menjadi bahagia tak terkira.
“Benar pak, untuk memastikan lebih lanjut mari kita lakukan USG nanti, sekarang pasien sudah sadarkan diri dan boleh untuk di jenguk, hanya saja harus bergantian ya jenguknya karena pasien butuh waktu untuk istirahat yang cukup”.
“Baik dokter trimakasih”. Ucap Andika.
“Yes”, begitulah kata-kata yang terlontar dari mulut Andika ketika dokter berlalu meninggalkan mereka. Terlampau bahagia hingga Andika tak menyadari dia berjoget-joget jingkrak-jingkrak kala mendengar kabar kehamilan istrinya.
“Selamat ya nak Dika”. ucap Ibu membuyarkan euforia kebahagian Andika, dan kemudian ia tersadar jika di depan mertuanya.
“Maaf bu Andika terlalu berbahagia”, ucapnya lirih merasa tidak enak dengan mertuanya yang harus menyaksikan tingkahnya yang begitu absolut.
“Masuklah dulu nak, sepertinya Rahayu akan sangat bahagia dengan kedatanganmu”.
Dengan senang hati Andika lekas memasuki ruangan istrinya sepanjang perjalanan langkahnya menuju ranjang istrinya tak henti-henti senyum merekah dalam bibirnya.
Andika merentangkan tangannya di hadapan sang istri, sedang Rahayu tampak malau-malu menerima pelukan suaminya.
“Sayang trimakasih ya”, ucapnya lembut dengan membelai kepala istrinya tak lupa Andika memberikan kecupan manis di kening Rahayu.
“Trimakasih untuk apa mas?, harusnya aku yang meminta maaf karena aku kamu haru meninggalkan tugas begitu saja”.
“Tidak sayang, bagiku tidak ada yang lebih penting selain kamu dan anak kita”.
“Anak kita?”, tanya Rahayu dengan mengerutkan keningnya.
“Iya anak kita yang sekarang ada di sini”. jawab Andika dengan mengelus lembut perut istrinya yang terlihat masih sangat rata tersebut.
“Benarkah mas? Aku hamil?”.
Andika hanya menganggukkan kepalanya dan kembali memeluk istrinya dengan perasaan yang mengharu biru.
__ADS_1