Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Rumah Baru


__ADS_3

Lima hari sudah, Rahayu dan Andika menikmati masa-masa indah bulan madu mereka di Bali, tibalah saatnya mereka kembali menjalankan rutinitas seperti biasanya. Rahayu akan turut serta untuk tinggal di Malang menemani Andika.


Beberapa bulan yang lalu setelah melamar Rahayu, Andika diam-diam membeli sebuah rumah yang tak jauh dari tempat Rahayu tinggal. Andika membeli rumah di kawasan elit Permata Jingga masih satu kawasan perumahan dengan rumah yang mendiang berikan pada Rahayu hanya saja berbeda klaster.


Andika ingin memberikan yang terbaik untuk istrinya, rumah di desain khusus sesuai dengan karakter dan kepribadian Rahayu.


***


Malang


Andika dan Rahayu sudah tiba di Permata Jingga, Rahayu berfikir mereka akan tinggal di rumah orang tua Anika di kawasan Ijen ternyata salah. Mobil Andika berbelok ke arah Permata Jingga kini Rahayu berfikir mungkin di rumah yang dulu ia tempati.


Ternyata salah juga.


Rahayu dan Andika mulai masuk di klaster awal perumahan tersebut dan berbelok pada arah yang berbeda dengan rumah yang ia tempati dulu. Tibalah mereka di salah satu rumah yang bernuansa putih dengan pagar yang warna senada dengan cat rumah itu. Rumah yang cukup luas dengan halaman yang tertata sempurna di bagian depan dan sisi sampingnya, simpel tapi terlihat sangat elegan.


“Bagus sekali mas rumahnya”. Rahayu begitu takjub dengan rumah yang ada di depannya, benar-benar sesuai dengan keinginannya tidak terlalu besar namun cukup leluasa setiap detailnya.


Di tambah lagi dengan taman yang begitu tertata rapi, semakin menambah kesan asri rumah ini.


“Apa kamu menyukainya sayang?’, Tanya Andika dengan menggandeng dan membawanya masuk ke dalam rumah.


“Iya mas, aku suka, tapi rumah siapa ini? Kenapa kita ke sini?, bukankah rumahku di sebelah sana?”. Tangannya terulur menunjuk arah klaster rumah yang ia tempati ketika menempuh magister beberapa bulan yang lalu.


“Ini rumah milikmu sayang, aku membeli rumah ini untuk tempat tinggal kita dan anak-anak nanti”.


Rahayu tersenyum hangat dan memeluk suaminya.

__ADS_1


“Makasih ya mas”, ucapnya lirih.


Rupanya tak hanya itu, Andika juga sudah menyiapkan beberapa deretan tanaman hias yang begitu indah di taman rumahnya agar Rahayu betah ketika tinggal di sana, di bagian sisi sebelah taman terdapat kolam ikan yang berukuran tidak terlalu luas namu indah sekali setiap sudut penataannya.


Rahayu berkaca-kaca melihat suaminya. Terkadang masih tak percaya dengan apa yang sudah mereka lalui selama ini, seorang upik abu benar-benar bersanding dengan pangeran impiannya setelah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan. Dahulu Rahayu berfikir cintanya pada Andika bagaikan bumi dan langit yang tak bisa bersatu berjarak dengan banyak sekali lapisan.


Rahayu memeluk suaminya dengan haru, air matanya lolos begitu saja membasahi lengan baju Andika.


Andika tersenyum membalas pelukan sang istri.


“Terimakasih untuk semuanya mas, yang aku inginkan saat ini semoga Allah slalu menjaga cinta kita hingga maut memisahkan, semoga ketentraman slalu menghiasi perjalanan cinta kita bersama”.


“Ayo kita masuk kedalam sayang”, ajaknya dengan menarik lembut tangan istrinya.


Mereka berdua berjalan menuju rumah tersebut, Rahayu begitu takjub dengan penataan dalam rumah tersebut, furniture yang di gunakan hingga cat tembok yang di aplikasikan benar-benar sesuai dengan yang ia harapkan.


Foto pernikahan beberapa bulan yang lalu.


“Ya Allah mas fotonya?”, Rahayu menutup mulutnya menahan tawa melihat foto tersebut.


Wajah mereka dalam foto tersebut begitu memancarkan kebahagian yang luar biasa, seakan mendapat kejutan dari sang pencipta tentang hidupnya. Senyum merekah di antara keduanya. Hanya saja kostum yang mereka gunakan tidak selayaknya foto pengantin pada umumnya. Andika yang menggunakan baju koko dan Rahayu yang menggunakan kebaya namun dengan riasan yang tak beraturan akibat banyak terkena air mata.


“Biarlah sayang, biar menjadi kenangan terindah yang akan aku ceritakan pada anak cucu kita nanti, ayo kita ke kamar sekarang”.


Rahayu mengalungkan keduanya mulai menaiki anak tangga satu persatu yang ada di dalam rumah tersebut,


Ceklek

__ADS_1


Keduanya masuk ke dalam kamar, Rahayu menghentikan langkahnya ketika memasuki kamar tersebut, lagi-lagi Rahayu di buat takjub dengan kejutan yang di berikan Andika. Dalam kamar itu terdapat banyak sekali foto-foto Rahayu ketika masih kuliah sarjana dulu. Rupanya diam-diam Andika mengambil gambar di setiap moment yang pernah mereka lalui bersama.


Foto Rahayu ketika awal mengikuti praktikum, foto ketika lomba pimnas, foto ketika di Batu jalan-jalan ke Cuban Rondo dan masih banyak lainnya nya. Tak jarang dari beberapa foto tersebut menampilkan wajah Rahayu yang sedang manyun, sedang kesal ada pula beberapa yang sedang bersedih. Semua di bingkai oleh Andika dalam bingkai yang berukuran cukup besar dan terpanjang indah di dinding kamar mereka.  Foto ini sekaan sebagai sejarah perjalanan panjang kisah cinta mereka.


Rahayu berjalan keluar dari balkon kamar, terdapat kaca yang cukup besar sebagai penghubung antara kamar dan balkon.


“Mas ini sangat indah sekali”, ucapnya ketika berada dalam balkon tersebut dan menghirup udara di sana.


“Aku sudah menduga kamu akan suka sekali sayang dengan rumah ini”. Kini tangan Andika melingkar di perut ramping istrinya, memeluk dengan damai tubuh kecil wanita yang sangat ia sayangi.


Rahayu tersenyum membalikan tubuhnya pada sang suami, tangannya terulur memeluk leher Andika.


“Trimakasih ya mas, untuk semuanya”, ucapnya dengan lirih dan senyum indah yang mengukir wajahnya.


“Sayang tidak perlu berlebihan dengan banyak sekali mengatakan terimakasih padaku, semua yang ku berikan padamu saat ini dan seterusnya tidak ada yang gratis”.


“Tidak gratis?, terus aku harus bayar dengan apa mas?”, keluh Rahayu yang merasa kesal dengan suaminya.


“Bayar dengan kasih sayangmu yang tulus sayang, temani aku di kala susah maupun senang dan jadilah ibu untuk anak-anak kita”.


Blus pipi Rahayu memerah, tanpa suaminya minta Rahayu pasti akan melakukan itu semua dengan senang hati.


Andika mulai merapatkan tubuhnya, mencium bibir lembut istrinya. Sayang bibirmu sangat indah sekali aku begitu candu merasakan kenikmatan di sana.


Pipi Rahayu memerah.


Andika mulai mengangkat tubuh mungil sang istri melangkah menuju ke ranjang. Sedang Rahayu mengalungkan tangannya ke leher suaminya, senyum terukir begitu indah di antara wajah keduanya, mata yang tak berhenti saling memandang satu sama lain.

__ADS_1


Seakan mengerti apa yang akan terjadi setelah ini, Rahayu memasrahkan tubuhnya pada sang suami bukankah ini bagian dari ibadah yang nikmat di dunia.


__ADS_2