
Malam harinya Rahayu sudah di pindahkan ke ruang rawat, dengan setia Andika menunggui dan tak beranjak sama sekali dari kamar itu. Ibu dan bapak kembali pulang tidak menginap mengingat di rumah masih ada adik-adik Rahayu yang masih kecil dan butuh pengawasan. Jika keadaannya stabil seperti ini kemungkinan besok sore sudah di perkenankan untuk kembali pulang.
Tak lupa Ibu membagi kabar bahagia ini pada Bunda Reno dan keluarga yang ada, bukan tanpa alasan Bunda dan keluarga Reno sudah seperti keluarga sendiri meskipun Reno sudah tidak ada. Bunda dan Ayah turut berbahagia atas kehamilan Rahayu. Mereka begitu antusias menunggu kehadiran cucu di antara keluarga mereka.
Begitu juga dengan orang tua Andika yang tak kalah hebohnya, bahkan Mama dan Papa sudah bersiap untuk membuat syukuran di rumah Andika nanti ketika Rahayu pulang dari rumah sakit. Mereka sengaja tak menjenguk Rahayu bukan tak peduli pada kehamilan mantunya hanya saja mereka sedang mempersiapkan surprise untuk calon cucunya.
Semalam penuh Andika terjaga memandang dengan lekat wajah istrinya yang begitu cantik alami tanpa polesan, entah mengapa hati Andika tak pernah terusik sama sekali dengan wanita lain sejak pertemuan pertama mereka dulu. Tangannya membelai dengan lembut rambut indah istri nya yang tergerai tak lupa beberapa kali mencium keningnya sebagai ungkapan rasa terimakasih sudah bersedia mengandung penerusnya.
***
Pagi harinya dokter visit untuk memeriksa keadaan Rahayu, sebelum dokter datang perawat memberikan benda pipih kecil pada Rahayu untuk meyakinkan diagnosa bahwa Rahayu sedang hamil. Benar saja setelah melakukan tes urin pagi itu terdapat dua garis merah yang menunjukan bahwa Rahayu benar-benar hamil.
Saat dokter visit dan memeriksa keadaan Rahayu, Andika meminta pada sang dokter untuk melakukan USG, Andika ingin melihat secara langsung bagaimana kondisi calon anaknya. Tak berselang lama dokter pun membawa Rahayu dan Andika untuk melakukan USG, dalam layar monitor yang ada terlihat ada bintik kecil sekali.
“Ini ya Pak Bu janinnya, masih sebesar biji kacang”. Terang dokter wanita paruh baya pada mereka.
Keduanya tersenyum kala melihat adanya kehidupan baru di perut Rahayu, tangan Andika tak pernah melepaskan tangan istrinya selama proses USG berlangsung, tak henti-hentinya pula Andika mengucap syukur pada sang kuasa atas rezeki yang Allah titipkan pada mereka berdua.
“Baik bu, karena kondisinya cukup baik dan stabil jadi Ibu Rahayu di perkenankan untuk pulang, nanti saya akan meresepkan vitamin dan jangan lupa kontrol setiap bulannya”. Ucap dokter kandungan tersebut.
“Baik Dokter trimakasih”.
***
Rumah Rahayu dan Andika.
Di kediaman Rahayu dan Andika sudah di hebohkan acara penyambutan kepulangan Rahayu dari rumah sakit. Mama berinisiatif untuk melakukan tasyakuran kecil-kecilan dengan mengundang beberapa tetangga terdekat yang ada di sekitar rumah Andika untuk membagi kebahagian. Tak lupa mama juga mengundang Merisa yang kebetulan rumahnya berhadapan langsung dengan rumah Rahayu.
__ADS_1
Bunda dan Ayah Reno turut serta ke rumah Rahayu, selain untuk merayakan kehamilan Rahayu, ayah Reno dan papa Andika merupakan sabahat dan rekan bisnis jadi sekalian ada yang perlu mereka bahas.
***
Sore harinya Rahayu dan Andika bersiap untuk pulang ke rumah, sepanjang perjalanan menuju rumah Rahayu begitu bingung kenapa mertuanya tak datang untuk menjenguknya, bahkan tak menanyakan kabarnya walau hanya lewat sambungan telfon.
Rahayu sedih pikirannya menerka-nerka, apa selama ini ada salah atas sikap dan tutur katanya pada mertuanya hingga mereka tak datang untuk menjenguk. Rahayu tak berani menanyakan hal ini pada Andika takut membuatnya tersinggung. Pikirannya sibuk menduga-duga.
Lima belas menit perjalanan dari rumah sakit ke rumah mereka, kini tibalah mobil mereka memasuki halaman rumah. Rahayu mulai bingung ketika mendapati rumahnya dengan pintu terbuka dan banyak orang.
“Assalamualaikum”, sapanya dengan di gandeng oleh Andika untuk masuk ke dalam rumah.
“Wassalamu'alaikum”, dengan kompak semua orang yang ada dalam ruang tamu tersebut menjawab.
Rahayu begitu kaget kala melihat banyak tetangga yang ada di ruang tamu rumahnya serta banyak sekali hidangan kecil di tengah-tengah mereka.
Rahayu membalas pelukan sang mama, tak berselang lama bunda juga turut keluar dari ruang tengah dan turut serta memeluk Rahayu.
“Selamat ya sayang sudah mau jadi ibu”. ucap bunda Reno dengan mengelus perut rata Rahayu.
“Terimakasih semuanya”, mata Rahayu berkaca-kaca dengan kejutan yang di berikan mama mertuanya. Segala pikiran buruk Rahayu pada Mama mertuanya terpatahkan sudah, rupanya kini dia mengerti mengapa mama tak datang menjenguknya, mama sedang sibuk mempersiapkan ini semuanya.
Acara syukuran kecil-kecilan ini dilaksanakan dengan membaca doa-doa bersama untuk keselamatan Rahayu beserta calon bayinya.
Satu jam kemudian acara doa bersama untuk mendoakan Rahayu dan calon anaknya selesai sudah. Tetangga satu persatu mulai undur diri untuk berpamitan pulang. Tak lupa Mama memberikan bingkisan pada mereka yang datang.
Merisa baru pulang dari Jogja, dengan wajah yang begitu cemberut turun dari taxi on line yang mengantarkannya. Merisa begitu kesal tiga hari di Jogja mencari keberadaan Andika yang tak kunjung di temukan, akhirnya ia memutuskan untuk pulang dengan kecewa.
__ADS_1
Sesampainya di depan rumah, Merisa di buat bingung dengan pemandangan yang ada di depannya.
“Kenapa banyak orang yang keluar dari rumah Andika dan Rahayu”, ucapnya dalam hati dengan mengamati satu persatu orang yang keluar dan membawa bingkisan.
Merisa mengurungkan niatnya untuk memasuki rumahnya, ia memberhentikan salah satu gerombolan tetangga yang melintasi rumahnya.
“Bu maaf, ada acara apa di rumah Rahayu?”.
“Oh itu mbak acara sukuran kehamilan mbak Rahayu”, jawab tetangga tersebut dengan melanjutkan langkahnya.
“Apa? Hamil?!”. Ucap Merisa dengan begitu terkejutnya.
“Bukankah mereka baru saja menikahnya, kenapa sudah hamil?”.
Merisa *******-***** bajunya, ia semakin kesal hari itu sudah jauh-jauh ke Jogja tidak bisa bertemu dengan Andika, eh sampai rumah dapat kabar jika Rahayu hamil.
Rasa kesalnya kian memuncak kala melihat Andika dan Rahayu yang sedang bergandengan di depan rumah untuk mengantarkan para tetangga yang pulang.
“Hah! Andika di rumah? Bukannya dia di Jogja?”.
“Jadi kalian mempermainkanku?”, gerutu Merisa dalam hati.
Sorot matanya menatap rumah Rahayu dengan penuh kebencian karena kebohongan mereka beberapa hari yang lalu.
Sementara itu, Rahayu dan Andika yang melihat kehadirannya merisa di rumahnya lekas mengambil satu bingkisan untuk membaginya pada Merisa. Andika meminta tolong pada Mamanya untuk mengantarkan bingkisan tersebut ke rumah Merisa.
Tangan Rahayu melambai-lambai menyapanya dari sebrang sana.
__ADS_1
Dengan senyum yang kecut Merisa membalas lambaian tangan tersebut.