Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Perkataan Mbah Inah


__ADS_3

Setelah lelah menikmati pemandangan alun-alun kota Rahayu dan Reno lekas berpulang ke rumah, sepanjang perjalanan menuju rumah banyak harapan yang di sampaikan Reno pada Rahayu salah satunya ingin jika Rahayu berkenan untuk tidak bekerja lagi.


Rahayu masih menyanggupi bukan tanpa alasan selama ini sebagian besar biaya hidup keluarga ada andil besar tangan Rahayu di sana. Jika harus berhenti bekerja dengan tiba-tiba akan membuat gonjang-ganjing perekonomian keluargarganya.


“Ada satu hal lagi yang aku inginkan darimu sayang?”.


“Apa itu mas? Jika memungkinkan aku bisa memenuhi pasti akan aku usahakan”.


“Aku ingin anak darimu, aku ingin saat aku pergi nanti ada doa yang terus mengalir padaku, dan itu hanya bisa terjadi jika kita punya anak”. Reno tersenyum dan beberapa kali mencium punggung tangan Rahayu.


“Hus tidak boleh ngomong begitu kalau bicara yang baik-baik, urusan anak aku tidak bisa menjanjikan mas semua itu atas kuasa dan kehendaknya, jika memang Allah menginzinkan kita punya anak ya pasti lekas punya”.


Perbincangan mereka terhenti saat mobil reno memasuki pekarangan rumah Rahayu. Tenda-tenda sisa pesta masih ada belum di bongkar, beberapa barang sisa hajatan juga masih tersimpan di sembarang tempat belum sempat di rapikan kembali.


“Loh cah ayu cah bagus manten anyar dari mana?”, sapa tetangga samping rumahku yang biasa kami panggil mabh Inah.


Mbah inah merupakan sesepuh desa Rahayu, beliau tinggal sebatang kara karena tidak mempunyai sanak saudara. Mbah Inah juga tidak menikah hingga usianya sudah sangat sepuh. Selama ini mbah Inah bertahan hidup dari belas kasih tetangga sekitar yang saling bergantian memberi makan jika ada kelebihan rizki.


Pada desa kami mbah Inah terkenal sebagai sesepuh yang di hormati warga, kerap banyak orang yang datang meminta doa pada mbah Inah, mabh Inah begitu alim dan kental jiwa jawanya.


“Dari alun-alun kota mbah, keluar sebentar cari udara segar”, jawabku pada mbah inah dan menuju ke arah beliau untuk mencium tangannya, sedangkan mas Reno langsung masuk tak mengikuti aku.


“Wah nduk manten anyar (baru) seharusnya tidak keluar rumah sebelum sepasaran (satu minggu), kalaupun ada hal yang penting dan sangat mendesak keluarnya juga tidak boleh hanya berdua, harus ada saudara yang turut mengantar”. Tutur Mbah Inah kala itu.


“Kenapa mbah”. Tanyaku dengan penasaran.


“Ah tidak ada apa-apa, semoga gusti Allah slalau menjaga di setiap langkahmu”. Mbah Inah mengelus kepalaku dan membacakan beberapa doa untukku.


Aku tak mengerti tentang perkataan mabh Inah larangan tidak boleh keluar rumah sebelum sepasaran sedang ibuku sendiri juga tidak melarang. Jika memang berbahaya pasti ibu dan bapak tadi akan melarang. Aku bergegas untuk masuk ke dalam rumah menyusul mas Reno.


“Assalamualaikum”. Sapaku pada ibu dan beberapa orang yang masih ada di ruang tamu.


“Waalikumsalam, Yu tadi ada paket katanya untuk kamu di tarus Nadia di kamarmu”.

__ADS_1


“Dari siapa bu?”. Tanyaku penasaran.


“Ibu tidak tau coba saja buka sana”.


Tanpa pikir panjang aku bergegas menuju kamar tidak sabar ingin membuka paket tersebut. Sesampainya di kamar aku sudah melihat mas Reno merebahkan diri di kasur dengan menggunakan kaos sederahana dan celana kolor.


“Yang nama pengirimnya tidak ada, coba buka dulu kali aja dari sahabat kamu waktu kuliah dulu”. Mas Reno menyerahkan satu paket berwara pink tersebut padaku.


“Duh kok gemeteran ya rasanya, paket dari mana coba? Perasaan gak kirim undangan ke anak-anak deh”. Batin Rahayu dalam hati.


Paketan tersebut lumayan besar dengan sampul bagian luar warna pink, saat membuka sampul peratama Rahayu kecewa karena ada sampul berikutnya di dalamnya begitulah seterusnya hingga tersisa satu kotak kecil dari paket tersebut.


Sebua kotak berwarna merah dan sepucuk surat.


Rahayu memberanikan diri untuk membuka kotak merah tersebut.


Dan...


Sebuah cincin bermata satu dengan ukiran nama A&R di dalamnya.


Seketika hati Rahayu merasakan nyeri yang teramat sangat.


Jemari lentik tersebut memberanikan diri untuk membuka secarik kertas pembungkus cincin tersebut.


“Assalamualaikum Rahayu, bagaimana kabarmu? Maafkan aku yang telah lama menghilang, maafkan aku yang baru menemuimu sekarang, sesuatu hal buruk terjadi padaku selama setahun terakhir.


Maafkan aku, pengecut yang baru bisa menemukanmu setalah sekian lama menunggu.


Andai kamu mengizinkan aku akan segera datang ke rumahmu untuk meminta izin orang taumu.


Jika berkenan tolong hubungi no ku 08585752567.


Deg deg deg

__ADS_1


Tak terasa tangan Rahayu bergetar membaca pesan itu.


“Ya Allah apa yang terjadi padanya”. Ucap Rahayu dalam hati.


Dari kata-kata yang di tulis saja Rahayu sudah dapat menyimpulkan jika paket tersebut dari masa lalunya Andika.


“Bagaimana bisa dia tau alamat rumahku sedang aku tak pernah memberi taunya, bagaimana bisa dia hadir kembali saat hati ini sudah kuperjuangkan untuk meneriama kasih yang lainnya”. Aku melamun merangaki beberapa benang yang kusut di otakku mencoba untuk menjabarkannya kembali.


“Dari siapa sayang?” Tanya mas Reno yang sedang melihat beberapa album memory di kamar Rahayu.


“Ah ini mas benar dugaan kamu dari teman lamaku dulu”.


Rahayu lekas memasukan kado pernikahan tersebut beserta kotaknya dan menyimpannya di lemari. Rahayu tidak berniat untuk menghungungi Andika kembali, bukankah dia sekarang sudah berstatus istri orang.


“Apa sayang kadonya?”.


“Cincin mas”. Jawabku dengan hati-hati aku tak ingin ada kebohongan dalam rumah tanggaku.


“Cincin?”. Tanya mas Reno yang terlihat heran.


Perhatian Reno teralihkah tak menghiraukan kado tersebut. Kini perhatiannya berpusat pada gambar pria yang ada di foto album Rahayu. Foto itu terpajang begitu banyaknya di sana dengan gaya yang beraneka ragam. Yang membuat hati Reno penasaran adalah kenapa disetiap moment foto pria tersebut slalu berada di samping Rahayu, bahkan sorot matanya beberapa kali tertangkap kamera memperhatikan Rahayu.


Reno kembali membuka lembaran demi lembaran foto album kenangan tersebut, hatinya semakin dongkol, rona wajah cemburu berapi-api melihat beberapa foto tersebut tercetak hanya Rahayu dan pria tersebut. Ya mereka sedang foto berdua meskipun tidak dengan gaya mesra tapi sorot mata kedua pemuda dalam foto tersebut sudah menunjukan suatu ikatan kedekatan.


“Oh ya sayang siapa laki-laki ini?”. Mas Reno menujuk satu orang pria dalam foto tersebut.


“Itu temanku mas, kakak tingkatku dulu”.


“Sepertinya wajahnya tidak asing”. Mas Reno mencoba mengingat-ingat foto tersebut.


“Iya mas kalian pernah ketemu dulu saat ada acara di Batu, kita memberikan persembahan drama ala-ala Rama, Shinta dan Rahwana”.


“Kenapa banyak sekali foto kalian berdua di sini?”.

__ADS_1


“Ah tidak ada apa-apa mas hanya untuk koleksi saja?”.


“Koleksi? Apa kalian pernah memiliki buhungan?”. Tanya mas Reno dengan sorot mata yang tajam seperti elang.


__ADS_2