
Trial pertama pembuatan cincau evervesen di lakukan hari ini tanpa kehadiran Rahayu, tidak ada sesuatu yang istimewa atau sulit, semua dapat dikerjakan dengan mudah, sesuai prosedur yang sudah di pelajari sebelumnya. Hanya saja terasa tidak lengkap, harusnya trial pertama dilakukan dengan formasi anggota yang full biar lebih afdol.
Untuk trial hari ini membutuhkan waktu hampir 2 jam untuk proses memasak cincaunya, selanjutnya dilakukan pengeringan hasil dari olahan daun cincau tersebut kemudian akan dilakukan pembentukan dan dijadikan evervesen.
Anggota yang datang hari ini tampak bahagia dan puas sekali dengan hasil trial pertama, beberapa hari kemudian akan diadakan trial kembali untuk mengukur tingkat kepadatan cincau saat sudah menjadi evervesen sebelum dilarutkan pada air.
“Gaes trial selanjutnya waktunya menyusul ya, nanti aku kabari lagi kapan nya”
“Siap bos” jawab kompak semua yang datang.
“Dika jangan lupa kabari Rahayu ya, kasian dia belum tau proses pembuatannya” sahut Dimas.
“Siap laksanakan”
***
Seperti biasanya Malang saat siang hari terasa sangat panas sekali, namun berbeda saat berada di dalam perpustakaan. Udara sejuk terasa damai dan hening. Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Aku mulai menyalakan komputer yang baisa aku gunakan di perpustakaan, rasanya seperti sudah menjadi komputer pribadi ku saja, karena setiap datang ke perpus komputer ini selalu aku gunakan. Letaknya berada di paling ujung membuatku merasa sangat nyaman tidak ada yang menggangu, meski menggunakan dalam waktu yang lama.
Aku mulai membuka kembali email ku, berharap ada email masuk dari mas Andika untuk memberi kabar kapan kami akan melakukan trial pertama. Namun sayangnya tidak ada email yang masuk.
Aku mencoba mencari beberapa literatur-literatur yang dibutuhkan dalam pembuatan PKM ini. Sesekali aku membuka email kembali, berharap ada email yang masuk, sayangnya tidak ada email yang masuk juga.
Rasanya aku sudah bosan mencari literatur-literatur yang di butuhkan, sudah terlalu banyak yang aku dapatkan. Terlalu banyak literatur bukan membuatku makin pandai, malah semakin membuatku bingung.
Aku biarkan komputer tetap menyala namun aku duduk dengan posisi kepala di atas meja.
“Ini sebenarnya jadi gak sih trial nya? Aku jadi tidak sih di ajakin ikut PKM, kok gak ada kabar
sama sekali?”Aku berbicara sendiri sambil memutar-mutar ballpoint warna biru yang pernah di pinjam mas Andika.
“Iya jadi kok trial nya, maaf ya aku lupa kasih kabar”
Suara siapa? Sepertinya tidak asing batin ku dalam hati. Aku bergegas menoleh ke belakang, dan benar saja mas Andika di belakang kursiku. Kaget dong tapi seneng dan pastinya mendadak jadi orang bodoh.
Mas Andika mulai menggeser kursi yang ada di bilik sebelah dan duduk disebelah ku.
“Kamu lagi ngapain”
“Saya saya mencari referensi tentang daun cincau”
“Kamu nunggu email dari ku ya? Maaf aku lupa kasih kabar, jadi sebenarnya hari ini trial jam 9 pagi tadi di lab Agrokimia”.
__ADS_1
“Wah sudah trial ya mas?gimana hasilnya? semua ikut?”
“Alhamdulilah hasilnya bagus sesuai dengan ekspektasi dan semuanya hadir”
“Maaf ya mas tidak bisa ikut, saya tidak tau”
“Pakai aku saja kenapa jangan saya”
Aku hanya mengangguk.
“Yu kamu sibuk tidak hari ini?”
“Em tidak mas, hari ini hanya mengerjakan satu tugas dosen saja dan sudah selesai. Apa ada yang bisa aku kerjakan? Atau aku carikan?”
“Oh tidak, tidak kalau tidak ada kegiatan. Kamu mau tidak ikut dengan ku?
“Ikut kemana?”
“Sudah ayo ikut saja”
Akhirnya aku memutuskan untuk ikut mas Andika, meski aku tidak tau mau pergi kemana. Kami berdua berjalan menuju parkiran yang berada di sebelah perpustakaan.
“Mas maaf kita mau ke mana?”
“Sudah ikut saja”
“Yang lain siapa? Kita pergi berdua saja”
Aku pasrah mengikuti langkah mas Andika.
“Rahayu sudah siap?, kita berangkat ya sekalian keliling Malang.
Selama 19 tahun aku hidup, ini pertama kalinya aku naik motor di bonceng cowok, dan yang bonceng seseorang yang istimewa. Berasa di bonceng pangeran naik kuda putih, meskipun pada kenyataanya naik sepeda beat warna putih.
Sepanjang perjalanan aku hanya bengong dan berfikir akan di bawa ke mana?.
Meski cuaca tampak terik tapi di bonceng orang yang tersayang semua tampak adem-adem saja.
Akhirnya sampailah kami pada tempat tujuan, aku tak tau ini di mana?
Tempatnya ramai seperti pasar, hingga aku menemukan tulisan Gajayana.
Oh ini pasti daerah Gajayana udah gitu aja beres. Di Sana seperti pasar banyak penjual baju, tas, sepatu, makanan dan berbagai keperluan kehidupan. Aku terus mengikuti langkah mas Andika, hingga dia berhenti di salah satu counter HP.
__ADS_1
“Yu aku mau beli Hp, tolong dong bantu pilihkan cari”
“Hp”
HP? Yang benar saja aku mana mengerti, aku tidak mengerti spesifikasi Hp atau tipe-tipe nya, bahkan merek nya saja aku tak tau.
“Maaf mas, sepertinya salah orang aku tidak mengerti” jawabku dengan jujur.
Mas Andika hanya tersenyum saja.
Mas Andika masih memilih-milih Hp yang akan di belinya.
“Yu bagus mana warna hitam atau merah?”
“Selera sih mas, sama saja”
“Kalau kamu suka yang mana?”
“Kalau aku sih ya, karena aku cewek aku suka yang merah” jawab ku.
“Ya udah pak yang merah saja”. Mas Andika membeli Hp tersebut. Kemudian kami berjalan-jalan berkeliling Gajayana, lumayan luas ya.
Sungguh sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya bisa berjalan berdua dengan mas Andika seperti ini. Bahkan masuk dalam agenda cita-citaku saja belu pernah.
Setelah lelah berjalan-jalan, kami beristirahat sejenak disalah satu warung yang ada di sana. Mas Andika membeli dua es teh dan dua mangkuk mie ayam. Kemudian memilih tempat duduk di paling ujung, yang terlihat lebih sepi dari pengunjung yang lainnya.
Tidak seperti biasanya, siang menuju sore ini rasa semangkok mie ayam dan segelas es teh terasa begitu sangat lezat dan istimewa, tak henti-hentinya aku mencuri-curi pandangan pada mas Andika. Namun saat mata kami tak sengaja bertemu aku lekas memutus pandangan mata itu sebelum terlalu dalam jatuh pada harapan.
Mas Andika menyerahkan sekotak plastik yang dibawa nya pada ku.
“Yu ini Hp tolong di terima ya, sesuai dengan warna yang kamu mau tadi”
“Hp? Kenapa untuk aku?
“Sudah pakai saja dulu, aku tidak menerima penolakan apa pun, ini sudah lengkap dengan sim card”
“Tapi mas, ini terlalu mahal?”
“Itu Hp bekas Yu tadi belinya, tolong di terima ya biar kamu lebih mudah saat komunikasi”
“Tapi ini berlebihan mas, aku tidak pantas”
“Rahayu, aku tidak menerima penolakan apapun, pakai saja. Kalau kamu tidak mau menerima pemberian ku, anggap saja kamu meminjam nya”
__ADS_1
“Sudah pakai saja, sekali lagi aku tidak menerima penolakan dalam bentuk apa pun”
Entah mengapa setiap omongan yang keluar dari mulut mas Andika seperti sabda yang tidak bisa aku langgar. Aku dengan mudah saja menurut semua yang diperintah kan nya. Hp Nokia X2 warna merah.