
Merisa yang duduk di meja makan tak henti-hentinya mengamati setiap langkah Andika hingga masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya, sungguh tanpa mengedipkan mata sama sekali merisa melihatnya, bahkan bibirnya sempat terbuka menganga kala melihat Andika sedang melonggarkan dasinya.
“Eemm Hem”, suara deheman Rahayu membuyarkan lamunannya.
“Kamu kenapa?”, tanyanya merasa ada yang patut di waspadai.
“Oh tidak papa, aku hanya kagum sama rumah kamu, penataannya sungguh luar biasa indahnya, pemilihan warnanya begitu cocok dengan konsep rumahnya ”, jawab Merisa mencoba mengalihkan pembicaraan ya.
“Aku panggil Mer aja ya”, ijin Rahayu pada Merisa sepertinya lebih mudah.
“Boleh”, jawabnya masih dengan menatap pintu kamar Andika yang berada di lantai dua rumah tersebut.
“Suami kamu kalau pulang langsung masuk seperti itu?”. Dengan tangan yang terulur menunjuk pintu kamar Rahayu
“Oh iya mas Dika, biasanya mandi, bersih-bersih dulu biar lebih fresh baru makan, oh ya Mer, ngomong-ngomong kamu di sini tinggal sama siapa?, beberapa hari di sini aku lihat rumah kamu sepi-sepi saja? Aku kira itu rumah kosong lo”.
“Aku tinggal sendiri di sini Yu, kebetulan Mama Papaku kerja di luar kota, aku juga tidak punya teman dan saudara di kota ini, kami baru pindah beberapa bulan yang lalu”. Jawabnya menjelaskan dengan panjang lebar.
“Jadi begitu ya”. Rahayu tak ingin banyak bertanya lagi pada Merisa karena waktu sudah malam dan suaminya sudah pulang, Rahayu mulai gelisah dan bingung bagaimana menyuruh tetangga barunya ini untuk lekas pulang.
Rasanya ingin menyuruhnya pulang secara terang-terangan tak mampu ia ucapkan, tak enak hati karena baru kenal juga.
“Sayang, bisa minta tolong ke sini sebentar?”, teriakan dari suaminya di lantai atas membuat Rahayu ada alasan untuk meninggalkan Merisa sementara.
“Iya mas tunggu”.
“Maaf aku tinggal dulu ya, sepertinya mas Dika kesulitan mencari tata letak bajunya, aku tadi belum sempat menyiapkan baju gantinya". Rahayu berlalu meninggalkan Merisa tanpa menunggu persetujuan darinya.
Rahayu mulai melangkahkan kaki untuk ke kamar menemui Andika, dalam hati berharap sekali Merisa akan berpamitan untuk pulang malam itu.
Sesekali mata Rahayu mengamati Merisa dari atas tangga.
Merisa pun turut beranjak dari meja makan tersebut.
__ADS_1
Rahayu menatap dengan lega, akhirnya tamunya pulang juga.
Namun di luar dugaan, Merisa bukan melangkah untuk pulang melainkan melangkah untuk mengambil album foto yang ada di bufet penyimpanan, kebetulan album tersebut terletak di atas nakas setelah Rahayu bersih-bersih pagi tadi.
Merisa mengamati lembar demi lembar album foto yang ada di pangkuannya.
“Oh rupanya sudah pacaran lama sekali mereka”. ucapnya dalam hati sedikit kesal kala melihat foto-foto Rahayu ketika masih baru masuk universitas juga beberapa deretan foto Andika yang tampak masih jadul namun tetap menunjukan aura kegantengannya.
Tangan kembali membuka-buka foto tersebut mengamati setiap moment yang tercipta dalam foto itu.
Mendadak hati Merisa kesal, kala membaca sebuah puisi yang tertulis di halaman sampul tersebut, yang di ciptakan khusus oleh Andika untuk Rahayu, senyumnya kecut membaca setiap untaian kata yang tertulis di lembar tersebut.
Sementara itu Rahayu yang sudah berada di ambang pintu lekas menghampiri suaminya.
“Ada apa mas?”.
“Sayang lupa ya belum siapkan baju ganti buat aku?”, jawab Andika dengan hanya memakai handuk yang terlilit di badannya, dengan rambut yang basah serta wangi sabun yang begitu menenangkan.
“Ini mas”. Tangan Rahayu terulur menyerahkan baju, celana pendek lengkap dengan dalemannya.
“Sayang, teman kamu masih di bawah?”, Tanya Andika dengan mulai mendekat pada istrinya.
“Masih mas, katanya bosen di rumah sendirian tidak ada temannya”.
“Wah masih lama dong mainnya?”. Tanya Andika yang juga mulai resah ketika waktunya akan berukurang saat bersama istrinya.
“Tidak tahu mas, tak enak kalau menyuruhnya pulang”, jawabnya dengan membantu memakaikan baju pada Andika.
Karena entah mengapa setelah menikah Andika tiba-tiba menjadi pria bayi yang semuanya biasa di kerjakan sendiri sekarang semuanya minta Rahayu yang bantuin.
Menurut Andika, semakin sering berkontak fisik dengan istrinya akan meningkatkan imun serta manambah kebahagian keluarga.
Ngomong-ngomong soal imun Andika memiliki sedikit ide jail untuk Rahayu, selepas membantu memakaikan baju untuknya, Andika lekas meraih pinggang sang istri yang kebetulan mereka saling berhadapan.
__ADS_1
Cup.
Satu sentuhan lembut di bibir Rahayu.
“Mas”, rengeknya dengan nada yang beralun begitu menggoda menurut andika.
“Kenapa? Kurang ya? Sini!”. Dengan cepat kilat Andika lekas kembali meraih pinggang sang istri sebelum Rahayu sempat memberikan jawaban apapun.
Membawa tubuh kecil namun cukup menggoda itu kedalam pelukannya yang begitu menyenangkan, di tambah dengan harum tubuh Andika setelah mandi rasanya enggan untuk mengakhiri moment tersebut.
“Sayang, aku mau cicipi dikit aja ya, buat naikin imun tubuh”. Lagi-lagi tanpa sebuah persetujuan Andika lekas mencium bibir Rahayu dengan penuh kasih sayang, ******* dengan lembut serta menyesapnya secara menyeluruh”.
“Sayang, buruan gih tetangganya suruh pulang, aku mau naikin imun yang lebih dari ini”, pinta Andika dengan memasang wajah yang begitu menginginkan istrinya.
“Mas, aku tak enak, bagaimana kalau kita turun bersama untuk makan malam siapa tahu dia akan merasa tidak enak dan berpamitan untuk pulang”.
“Wah boleh juga nih”. Kini Andika melangkahkan kaki keluar menuju meja makan dengan menggandeng tangan Rahayu sesekali tangannya yang jail mencubit lembut pipi Rahayu yang terlihat begitu menggoda.
Sepasang mata yang mengamati mereka dari lantai satu terlihat sangat tidak suka dengan adegan live yang ada di depannya.
Benar saja Merisa tak ingin pulang dulu malam itu, rasanya belum puas untuk memandang wajah Andika.
“Mer, mau ikut makan malam di sini ga?”, tawar Rahayu bosa-basi berharap sekali jika tawarannya di tolak.
Sedang Andika lekas duduk di kursi meja makannya.
Mata merisa tak berkedip menatap pesona tetangga barunya yang begitu rupawan tersebut.
“Hem”. Rahayu kembali membunyikan suara deheman etika melihat Merisa yang begitu terpana dengan suaminya.
“Eh iya Yu ada apa?”, jawabnya dengan tampak gelagapan seakan seperti maling yang sedang tertangkap polisi.
“Jadi bagaimana mau ikut makan di sini tidak?”, tanya Rahayu dengan mecoba menekan sebisa mungkin rasa kesalnya pada Merisa.
__ADS_1