
Waktu beranjak menuju sore keadaan rumah masih sepi, semua penghuni masih beraktivitas di luar meninggalkan pasangan yang baru halal tersebut.
Tidak ada aktivitas lebih yang dilakukan mereka berdua selain menonton film dan makan. Tidak ada acara bulan madu untuk mereka berdua karena besok Reno sudah beraktifitas seperti biasa untuk kembali bekerja.
Sedangkan Rahayu masih memikirkan apa yang akan dilakukan kedepannya nanti.
“Sayang bagaimana kalau kita ke rumah guruku?”. Tawar Reno pada istrinya.
“Guru? Guru yang mana mas?”.
“Guru kehidupanku”.
Rahayu mengerti apa maksud suaminya tersebut dan mengikuti ajakannya. Kedua pasangan pengantin baru tersebut lekas bersiap menuju rumah guru yang dimaksud Reno.
Rahayu menggunakan gamis warna peach dengan kombinasi putih lengkap dengan jilbab yang besar berwarna senada dengan baju yang di pakai, sedangkan Reno menggunakan baju koko warna putih dengan balutan sarung warna biru muda.
"Masyaallah jika di lihat-lihat ternyata mas Reno ganteng juga".
Batin Rahayu dalam hati yang tidak pernah di ucapkan secara langsung pada orangnya.
“Masyaallah cantiknya istriku”. Puji Reno pada istrinya yang kala itu tampak berbeda dengan menggunakan jilbab yang menutup dada.
Rahayu memang sudah berhijab cukup lama dari sejak masih sekolah SMA, hanya saja jilbab yang di gunakan Rahayu jilbab yang sekedar menutup aurat tapi tidak sampai yang besar.
Menyadari Reno akan membawanya menemui guru spiritual, Rahayu merubah sedikit penampilannya agar terlihat sopan.
Hampir satu jam perjalanan, tepatnya masih satu kota dengan rumah Reno hanya saja letaknya yang sedikit di pedalaman. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lumayan sampailah mereka di sebuah pondok pesantren kecil di daerah tersebut.
Ini adalah pengalaman pertama untuk Rahayu bisa memasuki pesantren, sebelumnya Rahayu belum pernah singgah. Rahayu tidak pernah merasakan mondok ataupun sekolah islami, selama menempuh pendidikan dari taman kanak-kanak hingga sarjana Rahayu bersekolah di tempat umum.
Memasuki kawasan pondok dengan gedung yang bernuansa cukup tua dan klasik tidak terlalu besar dengan halaman yang luas, di depan pondok tersebut terdapat banyak sepeda motor dan beberapa mobil yang terparkir dengan begitu rapinya.
Rahayu dan Reno turun dari mobil memasuki halaman tersebut. Keduanya lekas di sambut salah satu santri yang ada di pondok tersebut.
“Assalamualaikum mas Reno”. Santri tersebut mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Reno.
“Waalaikumsalam”. Jawab Reno dengan menjabat tangannya.
Rahayu pun mengulurkan tangannya pada pria muda tersebut, dengan senyum pria tersebut menangkupkan tangannya untuk menjawab salam Rahayu.
__ADS_1
Rahayu di buat celingukan dan malu.
“Eh maaf saya belum terbiasa”. Ucap Rahayu dengan malu.
“Mbah Sabarnya ada mas?”. Tanya Reno pada pria muda seumuran anak SMA tersebut.
“Ada mas monggo pinarak”. Jawabnya dengan mempersilahkan kami berdua menemui mbah sabar.
“Monggo mas silahkan duduk dulu, saya panggilkan mbah”.
Pasangan yang baru halal tersebut duduk bersanding di kursi panjang yang ada di ruang tersebut.
“Mas mbah Sabar itu siapa?”. Bisik Rahayu pada suaminya.
“Mbah sabar itu pengasuh pondok ini sayang, beliau yang mengasuh santri-santri di sini. Santri-santri di sini sebagian besar anak yatim. Tidak ada pungutan biaya sepeserpun bagi santri yang menuntut ilmu di sini. Beliau lebih nyaman di panggil “mbah” begitu saja”.
“Assalamualaikum”. Sapa mbah Sabar pada kedua pasangan baru halal tersebut.
“Wassalamualaik mbah”. Reno bersalaman dan mencium tangan mbah Sabar sedangkan Rahayu menangkupkan tangannya seperti apa yang dilakukan santri tadi dengannya.
Mbah Sabar membalas dengan tersenyum penuh teduh.
“Bagaimana kabarmu nak?”
Rahayu kembali menundukkan kepalanya dan tersenyum.
Jadi pengantin baru ini citanya.
Jadi bagaimana nak Reno rasanya menikah?.
Reno hanya tersenyum.
Mbah boleh berpesan sedikit untuk kalian berdua?.
Reno dan Rahayu kompak menganggukkan kepalnya.
Dengan senang hati mbah, memang itu yang kami harapkan, wejangan dan pesan-pesan dari mbah Sabar.
“Nak”. Mbah Sabar mulai berbicara pada Rahayu dan Reno.
__ADS_1
Seorang suami itu tidak hanya bertanggung jawab untuk menghidupi keluarganya di dunia saja. Sebagai suami kelak akan bertanggung jawab atas keluarganya di akhirat.
Nak Ayu jangan takut untuk urusan tanggung jawab dunia, nak Reno ini orangnya bertanggung jawab sekali, bahkan dengan yang bukan kewajiban utamanya saja nak Reno tidak pernah lupa.
Nak Ayu, nak Reno ini adalah salah satu donatur utama pesantren ini, sudah hampir tujuh tahun tahun lamanya.
“Masyaallah ternyata mas Reno begitu baik orangnya, sungguh aku baru tahu tentang hal ini”. Batin Rahayu dalam hati.
Untuk urusan tanggung di akhirat semoga nak Reno di mampukan Allah. Nak Ayu juga harus membantunya.
Nak Ayu tau siapa istri yang paling beruntung?
Rahayu menggelengkan kepalanya, Rasanya ingin sekali menjawab “aku”, tapi itu pasti sungguh memalukan.
Nak Ayu istri yang beruntung adalah dia yang di karunia Allah seorang suami yang penyabar dan penyayang, penuh kehangatan dan kelembutan, suka menolong, dan berhati tulus. Jika dia sedang pergi istri merindukannya, dan jika dia ada istri ingin terus berdekatan dengannya.
Mbah Sabar tersenyum pada Rahayu dan Reno.
Nak Reno tau siapa suami yang paling beruntung?
Kali ini dengan tanpa ragu-ragu Reno menjawab,
“Saya mbah”.
Mbah Sabar kembali tersenyum menatap keduanya secara bergantian.
Suami yang paling beruntung adalah dia yang memiliki istri yang baik, istri yang menyenangkan dan perhatian, iman memenuhi hatinya, kelembutan menghiasi tutur katanya dan berbuat kebaikan adalah jiwanya. Apabila suami datang dia segera menyambutnya dan apabila suami bepergian dia senantiasa menjaga rumah tangganya.
Jantung rumah itu adalah seorang istri nak Reno. Jika hati istrimu tidak bahagia maka seisi rumah akan tampak seperti neraka tidak ada canda tawa, manja dan perhatiannya. Maka sayangi istrimu agar dia bahagia dan kam akan merasa seperti di surga.
Nak Ayu sebagai seorang istri sudah menjadi suatu kewajiban untuk taat pada suami, kecuali dalam hal-hal yang melanggar aturan agama. Khususnya untuk kebaikan seperti menutup aurat, melaksanakan ibadah dan memenuhi kebutuhan biologis suaminya.
Nak Ayu nak Reno menikah adalah sebuah proses menerima kekurangan dan kelebihan dari pasangan. Jangan pernah menceritakan hal buruk tentang suami atau pun istrimu kepada siapapun.
Seorang istri yang shalihah akan memperlakukan suaminya layaknya seorang raja, mencintainya seperti seorang pangeran, namun ia juga tidak lupa untuk terus mengingatkan pada suaminya bahwa dia hanyalah hamba Allah.
Menikah adalah separuh perjalanan ketakwaan kepada Allah dan bagian dari sunah Rasulullah.
Rahayu dan Reno mengangguk-angguk kepalnya secara bersamaan mencoba mencerna setiap ucapan yang dikatakan mbah Sabar.
__ADS_1
Tak terasa mereka saling berbincang-bincang dalam waktu yang cukup lama.
*Nulis part ini berasa sedang menasehati diri sendiri.