Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
POV Andika


__ADS_3

“Kamu jahat sekali Rahayu, kamu sangat jahat, kenapa kamu bisa mengucapkan kata-kata seperti itu pada orang sudah menolongmu dalam berbagai hal disini, kenapa kamu tega menyakitinya, dia yang sudah memberi kebahagian padamu saat jauh dari keluarga”, aku menyalahkan diri sendiri mencurahkan segala kegundahan dalam hatiku.


Setelah ini aku tak tau harus berbuat apa jika bertemu dengan mas Dika, pasti dia sangat membenciku, apakah suatau saat dia mau memaafkanku tentang sebuah kesalahan yang sama sekali aku tak berniat melakukannya. Apakah suatu saat nanti atau di kehidupan yang akan datang aku masih diberi kesempatan untuk meminta maaf pada mas Dika.


Aku benar-benar bodoh, aku menyesali perbuatanku sendiri tadi, bagaimana bisa ini terjadi. Aku hanya ingin membuatmu bahagia mas. Apakah dengan tindakan yang aku lakukan ini akan membuatmu bahagia mas?. Aku hanya ingin membuatmu bahagia tersenyum kembali dengan orang yang sangat kau sayang’i.


POV Andika


Namaku Andika Putra Maharaja, aku anak pertama dari dua bersaudara, sebenarnya aku punya satu orang adik cewek usianya tiga tahun lebih muda dari aku. Tujuh tahun yang lalu saat lebaran idul Fitri aku sedang berkunjung ke rumah nenekku yang ada di Bandung.


Anita nama adikku saat itu dia berusia enam tahun, seperti masyarakat pada umumnya saat lebaran tiba kamis selalu berkunjung ke rumah saudara-saudara yang ada di sana. Saat itu kami mengunjungi rumah bibi yang berada di sebelah sebrang rumah nenekku.


Aku dan adikku saling bergandengan tangan dengan beberapa saudara-saudara sepupu lainnya, namun sesuatu terjadi pada Anita saat kami hendak menyebrang Anita tertinggal di sebrang jalan karena memang keadaan jalan sedang ramai sekali. Aku dan beberapa sepupu yang lain sudah berada di kanan jalan sedangkan Anita masih tertinggal sendiri di sebrang jalan. Menyadari hal itu Anita mulai panik dia lekas mengejar kami yang sudah berada di sebrang jalan.


Nasib kurang baik menimpa Anita dia mengalami kecelakaan karena saat menyebrang jalan tidak melihat kondisi jalan terlebih dahulu, karena jalanan sangat ramai sebuah mobil sedan menabraknya. Aku sangat ketakutan melihat hal itu. Keluarga lekas menolong dan membawa Anita ke rumah sakit namun takdir berkata lain sebelum sampai di rumah sakit Anita sudah meninggal dalam perjalanan.


Semenjak kejadian itu aku menjadi orang yang pemurung, aku merasa sangat bersalah dengan kejadian itu, bukan tanpa alasan karena orang tuaku sudah mewanti-wanti untuk menjaga Anita tapi aku lalai dalam menjaganya hingga Anita harus kehilangan nyawa.

__ADS_1


Aku berusaha keras melupakan kejadian itu, orang tuaku tidak pernah menyalahkan aku dalam kejadian itu namun rasa bersalahku terus menghantuiku. Hingga suatu hari aku mempunyai tetangga baru yang berasal dari kota sebelah.


Dia adalah Eki Nevitasari atau kalian lebih mengenalnya dengan nama Eki. Mama yang pernah merasakan mempunyai anak perempuan merasa ada sosok pengganti saat ada Eki yang setiap hari main ke rumahku, saat itu kami kecil. Mama merasa sangat terhibur dengan kehadiran Eki dia merasa memiliki pengganti seorang Anita hingga mama menyuruhku menjaga Eki, bahkan orang tua kami menjodohkan kami berdua.


Aku yang merasa bersalah pada orang tuaku dengan kematian Anita ku tebus dengan menjaga Eki, awalnya hubungan kami hanya sekedar seperti saudara adik dan kakak hingga suatu hari Eki menyatakan cintanya padaku. Aku tak berani menolak aku takut membuat dia kecewa dan tidak mau datang lagi ke rumah karena itu pasti membuat mamaku sedih.


Semakin lama menjalani hubungan dengan Eki aku terasa muak dengan segala tingkah dan sikapnya yang seakan-akan slalu mengatur setiap kehidupanku. Sikapnya yang kekanak-kanakan dan ingin slalu di temani membuat langkahku terbatas dalam bergaul dan ruang gerakku semakin terbatas.


Suatu hari tanpa sengaja aku melihat seorang gadis di kampusku, dia terlihat sangat menyedihkan, dia berbeda dengan beberapa gadis yang pernah aku temui, dia menggunakan pakaian yang lusuh dan kerudung yang sudah memiliki warna tak beraturan mungkin karena terlalu sering di jemur dan dipakai.


Wajahnya cantik, kulitnya putih, memiliki mata yang sipit dengan bentuk tubuh yang mungil seperti Anita memiliki daya tarik tersendiri bagiku. Dia yang selalu berada di barisan belakang, dia yang kurang percaya diri dengan penampilannya yang seadaanya. Bagiku itu bukan sebuah kekurangan melainkan kelebihan tersendiri untuknya.


Namanya Rahayu, iya aku tertarik padanya sejak pertama kali melihatnya, aku ingin mengenalnya lebih dalam, aku seperti menemukan sosok Anita pada diri Rahayu. Rahayu yang bijak, Rahayu yang pekerja keras untuk menyambung hidupnya. Awalnya aku hanya menganggap Rahayu sebagai sosok Anita sebagai adik pengganti Anita, namun kebersamaan kami setelah beberapa waktu membuat rasa yang berbeda padanya.


Aku merasakan kedamaian saat berada di sampingnya, aku merasa sangat dihargai dan menjadi penolong disaat dia mengalami banyak kesulitan selama disini. Sosoknya yang sederhana dengan baju dan tas yang seadanya tak mengurangi sedikitpun kecantikan pada dirinya.


Semakin hari aku semakin dekat dengannya, hingga suatu waktu dia mengatakan sesuatu yang membuatku tak bisa berfikir dengan baik.

__ADS_1


Iya dia mengatakan untuk menjauh’inya utuk tidak lagi dekat dengannya, untuk pergi menjauh sejauh-jauhnya darinya, dia mengatakan jika selama ini hanya memanfaatkan ku saja. Memanfaatkan untuk menjadi sopir yang mengantar kemana-mana, memanfaatkan untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Aku tak percaya dengan semua ucapannya. Bagaimana bisa seorang Rahayu yang aku kenal bisa setega itu denganku.


***


Siang itu ketika kelas selesai aku bergegas keluar dari kelas dan menuju lift untuk turun ke lantai dasar, sengaja dengan langkah yang terburu-buru untuk menghindari bertemu dengan mas Anika.


Tampak dari kejauhan aku melihat mas Andika sedang berjalan bersebelahan dengan mbak Eki, wajahnya masih sama terlihat kusut dengan rambut yang acak-acakan.


Apakah sudah benar tindakan yang kupilih? Kenapa mas Dika tak terlihat bahagia kembali dengan mbak Eki? Atau memang masih dalam proses, entahlah untuk apa juga aku memikirkannya.


“Rahayu tunggu dulu”, suara itu suara yang selalu aku rindukan setiap harinya, iya itu suara mas Dika memanggilku. Aku mencoba tak menghiraukannya, aku sudah berjanji untuk menjauh’inya.


“Tunggu sebentar”, mas Dika berlari dan memegang salah satu tanganku, mata kami bertemu cukup lama, menyadari hal itu aku lekas memutus kontak mata itu, aku tidak mau luluh dengan sikapnya.


“Ada apa mas? Aku sibuk”, ucapku dengan kesal menyembunyikan segala rasa di dada.


Mbak Eki lekas datang menghampiri kami.

__ADS_1


”Sudahlah Dika ayo kita naik bentar lagi kelas dimulai, lagian kamu ngapain sih peduli banget sama anak ini”. Mbak Eki menatapku dengan tajam, sedangkan mas Dika melihatku dengan tatapan yang entahlah aku takut salah mengartikannya.


__ADS_2