Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Cemburu


__ADS_3

Akhirnya sampai jumpa kami di tempat tujuan, mas Andika mulai memarkirkan sepeda nya dan kami mulai minta izin pada pemilik kebun untuk mengambil beberapa daun cincau.


Kali ini kami tidak mengambil dalam jumlah banyak, kami hanya mengambil untuk satu kali trial saja. Kami membawa satu kantong plastik merah besar daun cincau, mas Andika yang mengambil di atas aku yang memunguti di bagian bawah.


“Sepertinya sudah cukup yu, mari kita pulang” ajak mas Andika seraya membenarkan bungkusan plastik tersebut.


“Kamu bisa bawa nya?


“Bisa mas biar di taruh tengah saja”


Kami bergegas kembali ke kampus untuk menyimpan daun cincau di lab Agrokimia. Sepanjang perjalanan menuju kampus gerimis rintik-rintik tiada henti jadi menambah syahdu perjalanan kami berdua. Cie


Mas Andika terus menjalankan motornya, membelah kota Malang menyalip beberapa kendaraan yang ada di depannya. Jalanan sedikit ramai tapi masih lancar sehingga dapat dengan mudah melewatinya.


Tiba-tiba mas Andika menghentikan laju motornya, dan berbelok arah menuju ATM BNI yang berada di sebrang jalan dari arah kami.


“Ayo turun dulu”


Aku segera turun dan mulai melepas jaket mas Andika yang aku pakai. Udara Malang sangat dingin, membuat alergi ku gatal-gatal “biduran” mulai muncul di sebagian tangan dan pipiku.


Aku mulai menggosok-gosok kan jari-jari ku untuk menghangatkan tangan, kemudian menyembunyikan di balik jilbab ku yang kubiarkan menjuntai ke depan. Berharap rasa gatal-gatal pada tangan ku akan sedikit mereda.


“Kamu kedinginan ya? Tangan dan pipi kamu kenapa?” mas Andika mulai memperhatikan perubahan pada tangan dan wajahku, yang mulai terlihat merah-merah dan bentol.


Seperti biasa aku hanya mampu mengangguk kan kepala ku saja.


Rasanya jantungku berhenti berdetak kala itu juga, saat mas Andika tiba-tiba mulai memegang tangan ku dan mengusap-usap dengan jemarinya. Tangan mas Andika yang awal nya terasa dingin sekali entah mengapa berubah menjadi hangat.


“Maaf ya yu kamu jadi begini, apa aku terlalu kencang saat mambawa motor tadi?” pertanyaan mas Andika dengan wajah menyesal.


“Oh oh ngak mas, memang aku dari kecil alergi dingin, saat dingin atau pun malam hari biasanya akan muncul bentol-bentol seperti ini, tapi setelah agak siang dan cuaca mulai hangat semua akan hilang dengan sendirinya”


Setelah tangan ku mulai merasa sedikit menghangat, aku lekas menarik tanganku dari genggaman mas Andika. Aku tidak bisa terlalu lama dalam posisi seperti ini, aku takut semakin cinta karena semua perhatian dan kebaikannya.

__ADS_1


“Kenapa ke sini mas”


“Kita makan dulu ya, kamu pasti belum makan dari siang tadi sekalian berteduh dan minum teh hangat” bujuk mas Andika.


Aku tidak bisa menolak, kalau aku tidak mau bagaimana aku bisa pulang.


Akhirnya kami makan bakso BNI sebelah kampus dan menunggu sampai hujan benar-benar reda.


Mas Andika melihat ponselnya ternyata banyak sekali panggilan masuk dari mbak Eki. Mas Andika segera menelpon balik mbak Eki, tidak membutuhkan waktu yang lama mbak Eki langsung mengangkatnya.


“Assalamualaikum Ki ada apa?”


“Waalaikumsalam yang, lama sekali sih angkat telponnya, kamu dari mana saja?, masih belum pulang juga cari daun cincaunya” pertanyaan mbak Eki seperti petasan yang beruntun dan terdengar sangat jelas di telingaku.


“Pelan-pelan dong yang, kalau tanya itu satu-satu biar aku gak bingung jawabnya” jawab mas Andika.


“Ya udah kamu sekarang di mana?”


“Aku di Bakso biasa deket ATM BNI sama Rahayu bentar lagi sampek kampus, tunggu hujan reda dulu kasian Rahayu alerginya kambuh, setelah ini aku jemput kamu”


Aku merasa canggung dan tidak enak dalam kondisi seperti ini segera mengajak mas Andika pulang.


“Mas kita balek aja ya, sepertinya hujan sudah reda, kalau menunggu benar-benar reda bisa sampai nanti malam di sini” pintaku pada mas Andika.


“kamu yakin mau melanjutkan perjalanan, tangan kamu masih bentol-bentol”


“Gak papa mas tingal dikit lagi sampai”


“Ya sudah ayo kita ke kampus”


“kita mampir dulu ke apotik ya”


Mas Andika membelikan beberapa obat dan salep untuk mengobati alergi dingin ku. Mas ini berlebihan jangan terlalu baik padaku.

__ADS_1


Sesampainya di kampus aku dan mas Andika langsung menuju lab Agrokimia untuk meletak kan daun cincau, rupanya mbak Eki sudah di sana lengkap dengan sambutan tatapan mata tajam yang seolah mengajak ku berperang.


“Kenapa jaket nya Andika kamu pakai?” mbak Eki terlihat sangat ketus dan matanya aku takut untuk menatapnya.


“Oh itu itu” aku tak berani menjawab.


“Rahayu kedinginan yang tadi di jalan hujan, aku lupa tidak bawa mantel, dia ada alergi dingin tuh lihat aja tangan dan pipinya bentol-bentol sedikit memerah” mas Andika menunjukan tangan ku pada mbak Eki.


“Kamu itu jangan terlalu baik sama dia, kamu tidak perlu sampai kayak gini, dia juga pakai baju lengan panjang sedangkan kamu hanya pakai kemeja pendek” ucap mbak Eki menerobos.


“Lagian kamu itu juga jangan terlalu perhatian sama dia, nanti dia berharap lebih sama kamu”


Deg sungguh benar apa yang dikatakan mbak Eki aku sudah terlalu berharap lebih.


“Apaan sih yang, kamu ngomong apa? Rahayu tidak mungkin punya pikiran seperti itu, dia itu adek tingkat kita, teman kita dia tidak punya teman dekat di sini”


“Terserahlah, aku tidak suka kalau kamu terlalu dekat dan baik sama dia” mbak Eki sambil berlalu meninggalkan mas Andika.


Dengan cepat mas Andika mengejar mbak Eki dan menggenggam tangannya.


“Apa sih jadi kamu cemburu sama Rahayu? Yang plis di hatiku hanya kamu Ratuku” mas Andika mencoba meyakinkan mbak Eki dengan menggenggam tanga nya.


“Kamu beneran kan yang?” mbak Eki memperjelas pertanyaannya.


“Tentu saja sayang, udah ah jangan ngambek nanti cantiknya hilang”


Sakit sekali melihat pemandangan ini, hatiku seperti tercabik-cabik ingin rasanya segera keluar dari lab ini dan meninggalkan mereka berdua.


Aku merasa terjatuh dari ketinggian yang benar-bena tinggi sekali, kejadian hari ini bersama mas Andika, kenyataan di depan mata ini mas Andika dan mbak Eki.


Aku tau mas Andika memang baik padaku, dia hanya kasian padaku, dia memang baik pada semua orang, jiwa nya yang penolong dan ramah membuat ku salah mengartikan.


Masih di tempat yang sama dengan mereka, aku memejamkan mata, mulai menutup telinga dan mengambil nafas dalam-dalam. Aku berusaha untuk menghiraukan pasangan kekasih yang sangat serasi ini. Menahan dengan sekuat tenaga agar tidak sakit hati serta menjaga agar butiran bening tidak jatuh

__ADS_1


Tolong Rahayu kamu harus kuat, kenyataan dari awal kamu sudah tau kalau Andika mu itu hanya milik Eki, bukannya kamu sendiri sudah berjanji pada dirimu sendiri hanya mencintai tak beharap memiliki dan hanya mengagumi saja.


__ADS_2