
Kediaman rumah Rahayu.
Rahayu sudah bersiap menerima lamaran dari Reno dengan memakai kebaya sederhana warna pink yang di padukan dengan bawahan rok songket warna senada. Tidak lupa sedikit memoles wajahnya agar terlihat fresh menutupi mata sembab menangis semalam. Sebenarnya tak berdandan pun wajah Rahayu sudah cantik natural.
“Bismillah nawaitu move on, semoga pilihan ini membawa kebaikan untuk semuanya”. Ucap Rahayu dalam hati dan berusaha sepenuh hati untuk menata kehidupan yang baru.
Keluarga Rahayu sudah bersiap menggunakan batik sisa wisuda dulu karena itu satu-satunya baju sarimbit yang keluarga Rahayu punya. Beberapa keluarga seperti bibi, paman dan budhe Rahayu sudah menyiapkan beberapa kue dan jajanan tradisional di ruang tamu. Tak lupa beberapa buah dan aneka makanan berat juga tersedia di sana. Acara lamaran dilakukan di ruang tamu dan ruang keluarga dengan lesehan.
Bapak dan ibu Rahayu sudah bersiap di depan pintu menjemput calon besan yang mulai mendekat.Senyum bahagia terpancar pada keluarga tersebut.
“Assalamualaikum”. Sapa ibu bapak beserta rombongan keluarga mas Reno yang berada di depan pintu.
“Waalaikumsalam calon besan”. Jawab keluarga Rahayu seraya menjabat tangan tamu mereka yang datang.
Sementara itu Rahayu masih berdiam di kamar mencoba menerima kenyataan dan menenangkan hatinya.
Rileks...Rilexs aku menghirup udara sebanyak-banyak yang aku bisa kemudian menghembuskan dengan pelan, memegangi dadaku yang masih bergemuruh dan mencoba untuk mengajaknya berdamai.
“Wahai hati bersiaplah”. Aku mencoba tersenyum.
“Silahkan duduk ibu bapak semuanya”. Bapak Rahayu mempersilahkan duduk tamunya yang datang.
“Wah nak Reno ganteng sekali memakai baju seperti itu”. Ibu Rahayu menunjuk Reno yang terlihat sangat gagah menggunakan kemeja motif songket senada dengan baju yang digunakan Rahayu.
“Ah ibu bisa saja”. Jawab Reno dengan senyum malu-malu. Wajah Reno terlihat sangat bahagia sekali.
“Nak tolong panggilkan mbakmu, keluarga mas Reno sudah datang”. Ucap ibu menunjuk salah satu adik Rahayu untuk menjemput mbaknya di kamar.
“Ngeh buk siap”. Adik Rahayu berlalu memanggil mbaknya yang masih setia berdiam di kamar.
***
__ADS_1
Tok...tok..tok..
“Mbak Rahayu sudah siap? Keluarga mas Reno sudah datang”. Teriak salah satu adik Rahayu di depan pintu.
“Iya sebentar”. Rahayu membuka pintu kamarnya tapi tak kunjung untuk keluar.
“Kenapa mbak ada yang kurang? Atau belum pas?”. Tanya adik Rahayu seraya mendekat.
Aku hanya menggelengkan kepala saja.
“Sudah cantik sekali mbak, ayo keluar”. Ucap adiknya seraya menggandeng tangan Rahayu dan membawanya keluar kamar.
“Yaallah yakinkanlah semua ini pilihan yang terbaik”. Rahayu mencoba memasang senyum dan kembali mengelus dadanya.
Semua mata tertuju pada wajah ayu Rahayu yang mungil dan cantik sekali, tanpa terkecuali Reno.
Setelah sampai di ruang tamu Rahayu lekas menyapa tamunya dan bersalaman dengan mereka.
“Assalamualaikum ibu bapak”. Sapa Rahayu pada orang tua Reno dan mencium tangannya.
“Wassalamualaikum nak, masyaallah kamu cantik sekali makanya Reno benar-benar kepincut sama kamu”. Ibu mas Rene mengelus kepalaku dan tersenyum.
Sementara Reno masih diam di tempat duduknya dengan mata yang tak berkedip sama sekali begitu terpesona dengan wajah ayu Rahayu dengan balutan kebaya.
“Sempurna”. Ucap Reno dalam hati yang teak berhenti memandang wajah Rahayu.
Rahayu mengambil duduk tidak jauh dengan ibu dan bapak begitu juga sebaliknya Reno yang duduk diapit oleh ayah dan bundanya.
Semua makanan ringan dan beberapa jajanan pasar sudah bertebaran di depan tamu sebagai jamuan.
“Jadi maksud kedatangan keluarga kami kesini dengan niat baik ingin meminang nak Rahayu untuk putra laki-laki satu-satunya di keluarga kami Reno untuk menjadi istrinya”. Ucap ayah Reno membuka percakapan dua keluarga tersebut.
__ADS_1
“Jika bapak dan ibu berkenan kami sekeluarga juga ingin sekalian menentukan tanggal dan tempat pernikahan mereka”.
Dari pihak Rahayu bapaklah yang menjawab.
“Alhamdulilah trimakasih pak bu keluarga besar nak Reno atas kedatangan dan niat baiknya untuk Rahayu. Kami dari pihak wanita menyerahkan semua keputusan pada anak kami Rahayu”. Bapak menunjukku sedangkan aku hanya menundukkan kepala saja tak berani menatap mereka.
“Bismillah, saya Reno ingin menanyakan secara langsung pada Rahayu. Apa dek Rahayu bersedia untuk menjadi istri saya dan menjadi ibu untuk anak-anak kita nanti?”. Ucap Reno dengan suara yang bergetar menahan haru.
“Bismillah saya Rahayu bersedia menjadi istri mas Reno”. Ucap Rahayu yang masih tertunduk tidak berani mengangkat kepalanya, tak terasa butiran bening yang tak di undang dalam acara tersebut turut hadir memeriahkan.
“Alhamdulilah”. Semua orang yang berada di ruangan tersebut tampak kompak dan tersenyum lega.
Lekas Bunda mas Reno datang menghampiriku dan memasangkan cincin manis di tanganku. Tak lupa mas Reno sediri turut mengambil gambar untuk mengabadikannya.
Bahagia begitulah yang terlihat pada wajah semua yang hadir dalam acara tersebut.
Acara dilanjutkan dengan diskusi menentukan hari pernikahan Rahayu dan Reno. Kedua orang tua tersebut sepakat acara akad pernikahan dipercepat dilakukan tiga bulan lagi di rumah Rahayu.
Rahayu memiliki permintaan khusus yakni acara akad nikah dilakukan dengan sederhana tanpa mengudang banyak tamu hanya keluarga dekat saja yang di undang.
Acara Resepsi dilakukan malam harinya pada hari itu juga. Untuk acara resepsi Rahayu menyerahkan sepenuhnya pada kedua orang tuanya. Dari pihak orang tua Rahayu menginginkan mengadakan pesta kecil-kecilan untuk mengundang tetangga-tetangga sekitar dan beberapa teman bapaknya, maklum ini acara mantu pertama kali di keluarga Rahayu. Rahayu sendiri tidak mengundang banyak teman hanya beberapa saja teman dekat yang akan di undang.
Sedangkan untuk acara ngunduh mantu sepenuhnya di serahkan pada keluarga Reno. Dari pihak keluarga Reno menginginkan acara secara meriah dan besar-besaran maklum Reno berasal dari kalangan orang berada dan pengusaha, selain itu juga merupakan acara ngunduh mantu pertama di keluarga tersebut.
Ayah dan bunda Reno berencana untuk mengundang semua teman-temannya. Begitu juga dengan Reno ingin menunjukan pada dunia jika Rahayu benar-benar miliknya. Rahayu sebentar lagi menjadi istri sahnya.
Acara lamaran berlangsung cukup lama dari siang hari sampai sore. Suasana tampak akrab dan kekeluargaan dibalut dengan kesederhanaan seperti menjadi ciri khas Rahayu “sederhana”.
“Silahkan buk pak monggo di makan”. Tampak berkali-kali dari phak keluarga Rahayu mempersilahkan tamunya untuk menikmati hidangan yang telah di sajikan. Acara tidak terlalu formal beberapa anggota keluarga tampak saling melempar canda tawa. Tidak ada kesenjangan sosial sama sekali diantara keluarga tersebut. Keluarga Reno benar-benar welcome dengan kehadiran Rahayu.
Tak lupa kang foto mengabadikan moment-moment penting tersebut, mempersilahkan Rahayu dan Ren untuk berfoto dengan berbagai model gaya kekinian.
__ADS_1
“Senyum cis”.