
Resepsionis tersebut tampak bingung dengan permintaan customer barunya.
“Maaf mbak, di sini kami sangat menjaga privasi tamu kami, kami tidak bisa memberikan informasi secara detail tentang tamu hotel kami”. jawab resepsionis tersebut dengan menangkupkan tangannya di dada.
“Haduh mbak ini penting sekali menyangkut masa depan hidup saya”.
“Maaf mbak, sekali lagi tidak bisa”.
Merisa masih saja memaksa resepsionis hotel tersebut, bahkan ia memberikan sejumlah uang untuk melancarkan aksinya.
“Mbak jadi bagaimana? Apa saya bisa bersebelahan kamar dengan tamu atas naman Andika?”.
“Baiklah mbak, akan saya coba lihat datanya”.
Beberapa menit kemudian.
“Kamar 302”. Resepsionis tersebut memberikan kuncinya pada Merisa.
"Tamu yang mbak maksud ada di kamar 303".
Merisa lekas menuju kamarnya dnegan senyum penuh kebahagiaan.
***
Sementara itu di tempat berbeda Andika sudah sampai di kota tujuannya dari tiga jam yang lalu. Tangannya meraih benda pipih yang ada di dalam saku celananya kemudian lekas menghubungi istri tercinta.
“Assalamualaikum sayang, maaf ya baru sempat kasih kabar tadi baru sampai sudah langsung mulai workshop”.
“Waalaikumsalam mas, gak papa mas yang penting selamat sampai tujuan”. Jawab Rahayu dengan berbaring di atas kasur.
“Kamu kenapa sayang kok tumben jam segini tiduran di kamar?”. Andika mengerutkan keningnya mencoba mencari kejujuran di mata Rahayu, jujur ia begitu khawatir dan tidak tenang meninggalkan istrinya sendiri di rumah. Antara khawatir dan kangen menjadi satu membuat pikirannya sungguh tidak tenang dan tidak bisa fokus.
“Tidak papa mas, hanya saja aku pengen tiduran saja”. Rahayu tak mengatakan yang sesungguhnya jika dia sedang kurang enak badan.
“Ya sudah mas Dika istirahat dulu ya pasti capek sekali”.
__ADS_1
“Hati-hati ya sayang, jangan lupa kabari terus mas jika ada sesuatu”.
Panggilan vidio call di akhiri dengan Andika yang memberikan ciuman jarak jauh pada istrinya sedang Rahayu tertawa geli melihat tingkah suaminya tersebut.
***
Malam harinya tepatnya setelah magrib, Merisa sudah mulai merias wajahnya. Ia menggunakan dress mini warna merah dan menambahkan riasan sedikit di wajahnya tak lupa menggunakan lipstik warna merah yang senada pula dengan dress nya. Rambutnya di Curly serta memakai sandal hak tinggi. Bersiap untuk keluar dari kamarnya dan akan menunggu Andika di depan kamar.
Satu jam berlalu Merisa menunggu di depan pintu kamarnya, hanya saja tak kunjung mendapati Andika keluar dari kamarnya untuk sekedar makan atau apalah. Merisa memutuskan untuk ke Resto hotel tersebut berharap di sana akan menemukan Andika yang sedang mencari makan.
Namun sayangnya hasilnya nihil, Andika tak kunjung terlihat juga di Resto meski sudah menunggu cukup lama. Merisa merasa tidak tenang dan masih sangat penasaran dengan keberadaan Andika.
Pukul sebelas malam, kesabaran Merisa sudah setipis kertas kala menunggu Andika, karena merasa kesal Andika yang tak kunjung terlihat akhirnya Merisa memberanikan diri untuk datang ke kamar sebelahnya dengan membawa sebotol air bermaksud untuk menyerahkan pada pemilik kamar tersebut.
Langkahnya begitu ringan ketika menuju kamar yang di tuju, senyumnya merekah begitu lebar membayangkan akan menghabiskan malam dengan tetangga.
Tok...tok...tok...
Merisa berkali-kali mengetuk pintu kamar yang menurut resepsionis hotel tersebut adalah kamar Andika.
Pintu terbuka dengan cukup lebar.
Merisa membulatkan matanya dengan sempurna melihat pemandangan di depannya.
“Oh tidak”, mulutnya menganga terbuka dengan mata yang hampir keluar dari tempatnya.
“Hello anak cantik, ada yang bisa om bantu?”, tanyanya dengan membelai rambut panjang Merisa yang tergerai curly cukup indah dan menawan menurutnya.
“Maaf, saya salah kamar”, ucap Merisa dengan terbata-bata.
“Ah itu pasti alibi kamu saja, mana ada salah kamar, kamu pasti wanita sudah saya pesan bukan? Came on baby mari kita senang-senang”. Ucapnya dengan tersenyum tipis dan merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan dari wanita di depannya.
Merisa masih menatap tak percaya dengan laki-laki tua yang ada di depannya, laki-laki tua dengan perut yang gendut dan wajah hitam serta rambut kriting sungguh pemandangan yang sangat mengerikan baginya.
“Ayo sayang”, tangan laki-laki tua itu menarik pinggang merisa dan membawa dalam pelukannya.
__ADS_1
Dada merisa yang padat dan besar terlihat sebagian manambah rasa haus laki-laki tersebut. Sungguh ini sial yang tiada terkira bagi Merisa, niat hati ingin menggoda Andika yang tampan dan memiliki bentuk tubuh tegap menawan malah ketemu orang semacam ini. Merisa mengumpat kesal kala itu.
“Maaf om, saya salah kamar”, ucapnya dengan mencoba lari dari pria tua tersebut.
“Ayolah baby, jangan malu-malu aku akan memberikan kamu kenikmatan yang tiada tara malam ini”.
“Tidak-tidak saya bukan wanita seperti itu”, ucap Merisa masih dengan usahanya untuk melarikan diri dari laki-laki yang ada di depannya.
“Bagaimana dengan ini?”, laki-laki itu mengambil sejumlah uang dengan jumlah yang cukup besar sekali dan mengibas-ibaskan tepat di depan mata Merisa.
Merisa yang melihat gepokan uang tersebut lekas berbinar matanya, Merisa memang bukan wanita bayaran tapi tak jarang ia memang suka menghabiskan malam dengan teman pria dekatnya.
“Apa salahnya mencoba, toh melakukan semacam ini juga bukan pertama kali bagiku, jika biasanya aku melakukan dengan suka sama suka tanpa bayaran, apa salahnya jika aku melakukannya kembali ada uangnya pula”, ucap Merisa dalam hati mencoba menimbang-nimbang tawaran pria tersebut.
“Ini kurang”, Merisa membuka suara dan tak meronta lagi kala laki-laki tua tersebut memegang pinggang rampingnya.
“Aku akan menambah dua kali lipat jika kamu bisa memberikan kenikmatan yang aku harapkan”, jawabnya dengan menoel bukit kembar Merisa yang terlihat separuh dan begitu sangat menggoda.
“Baik kalau begitu saya setuju”. Keduanya lekas masuk ke dalam kamar.
“Ah mencari Andika besok pagi saja, sepertinya ku butuh asupan uang untuk kelangsungan hidupku ke depan”. ucapnya dalam hati.
Kini keduanya sedang melakukan aktivitas yang menurut mereka menyenangkan.
***
Sementara itu Andika yang berbaring di dalam kamarnya begitu resah dan tak dapat tidur dengan tenang. Dua bulan sudah ia menikah dengan Rahayu tak ada malam yang ia habiskan tanpa istrinya.
Andika mengguling-gulingkan tubuhnya mencari posisi ternyaman, namun sayangnya tak kunjung ia temukan kantuk. Hingga menjelang pukul satu malam tak kunjung untuk memejamkan matanya.
Andika begitu merindukan istrinya, merindukan pelukan hangat istrinya, merindukan guling hidupnya yang begitu manja ketika tidur. Ah lama sekali harus tiga hari di sini, Andika bangkit dari kasurnya dan mengacak-ngacak rambutnya dengan frustasi kala begitu merindukan sang istri yang tak ada di sampingnya.
Andika pun mengambil ponsel dan menghubungi istrinya.
“Sayang....”
__ADS_1