Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
65


__ADS_3

Empat puluh menit berlalu, Andika masih setia menunggu Rahayu untuk turun ke bawah. Jangankan empat puluh lima menit, lebih dari enam tahun saja aku rela menunggumu Yu.


Beberapa menit kemudian Rahayu sudah siap dengan penampilan seperti biasanya sederhana namun tetap elegan. Memakai kemeja warna biru dengan celana warna putih tulang dengan paduan hijab senada dengan warna baju menambah aura kecantikan diwajahnya.


“Maaf ya mas sudah menunggu terlalu lama”. Sapa Rahayu pagi itu.


“Asal bisa bersamamu aku rela”. Ucap Andika seraya mengulurkan tangannya pada Rahayu untuk menggenggamnya.


Blus pipi Rahayu memerah dibuatnya.


“Mau ke mana mas?”.


“Mau melamarmu ke rumah”. Ucap mas Andika dengan santainya.


Uhuk-uhuk.


Aku tersedak ludahku sendiri mendengar jawaban mas Andika, bagaimana tidak urusanku dengan mas Reno belum selesai.


“Santai-santai minum dulu”. Mas Andika menyerahkan sebotol minuman dan tersenyum padaku.


“Aku ingin jalan-jalan seperti dulu”.


Tak ada jawaban yang ku ucapkan, aku hanya mengikuti mengikuti langkahnya menuju parkiran.


Mas Andika membukakan pintu mobil untukku seperti yang biasanya mas Reno lakukan, bedanya sekarang hatiku berdebar hebat saat berada didekatnya aku juga sering dibuat salah tingkah oleh sikapnya.


“Jadi nyonya sekarang kita mau kemana?”. Tanya mas Andika memecah kecanggungan diantara kami berdua.


“Terserah mas makmum”. Jawabku pada mas Andika tanpa berani menatap wajahnya takut khilaf ingin mendekat lagi.


“Wah iya benar-benar makmum akan mengikuti kemanapun imam melangkah”. Ucap mas Andika dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

__ADS_1


“Jadi nyonya sekarang aku ingin kita jalan-jalan menikmati kota Malang dan Batu, aku ingin mengunjungi semua tempat yang pernah kita singgahi dulu”. Mas Andika menatapku dengan sangat lekat salah satu tangannya menggenggam tanganku.


Aku tersanjung dibuatnya, aku merasa dicintai dan cintaku terbalas tidak bertepuk sebelah tangan lagi. Hanya saja aku masih bingung dengan status kami kini. Dengan sangat sengaja aku mengkhianati mas Reno sebelum memberikan kejelasan yang pasti untuknya.


Besok saat kembali dari cuti aku benar-benar akan mengatakan semuanya pada mas Reno. Mas Reno pantas mendapat kebahagian yang lebih dari sekarang. Mas Reno orang baik pantas mendapatkan orang yang lebih baik dariku.


Sepanjang perjalanan mas Dika seakan tak mau melepas genggaman tangan kami. Meskipun belum memiliki arah tujuan mau kemana hanya mengukur jalan saja sudah membuatku bahagia sekali.


Setelah membelah padatnya jalan Malang yang mulai padat merayap karena musim liburan akhir tahun, mobil mas Dika berhenti di salah satu tempat makan yang dulu sering kami singgahi.


Ya tempat sederhana yang dulu sering kali kita datangi saat masih kuliah. Bakso BNI di pinggir jalan sebelah puja sera Universitas Braw menjadi saksi dua insan yang dulu sering kelaparan dan makan disitu.


“Bagaimana rasanya?”. Tanya mas Andika yang sedang menikmati semangkuk bakso.


“Masih sama mas enak, pedagangnya juga masih sama kayak yang dulu”. Jawabku pada mas Andika seraya memakan bakso yang berada di depanku.


“Iya rasanya masih sama seperti dulu, seperti rasaku padamu yang tak pernah pudar terkikis jarak ada waktu meski terpisah cukup lama”. Jawab mas Dika dengan lancarnya.


Mas Andika masih sama seperti yang dulu, mas Dika yang sederhana tidak malu makan dipinggir jalan meski memiliki banyak uang. Dari penampilannya juga tidak banyak mengalami perubahan. Mas Andika masih tetap sama dengan gaya berpakaian yang sederhana tapi tetap terlihat mahal.


Dari fisiknya mas Andika tidak banyak mengalami perubahan wajahnya masih sama tetap ganteng seperti dulu, tinggi badannya juga tidak banyak mengalami peningkatan mungkin hanya sekita tujuh centi saja bertambah tingginya. Bedanya hanya satu mas Dika kini lebih berani mengekspresikan perasaanya.


“Hedeh gombal”. Aku menutup muka malu dibuatnya.


“Kenapa harus malu memang begitu adanya, aku bahkan tidak pernah lagi dekat dengan seorang wanita setelah perpisahan kita dulu. Rasanya memang belum selesai kisah kita dulu. Kamu bahkan belum memberikan penjelasan padaku kenapa dulu kamu menginginkan aku untuk pergi menjauh”.


“Maaf”. Hanya satu kata yang mampu ku ucapkan aku menundukkan kepala berusaha sekuat tenaga untuk menahan air mata ini agar tidak jatuh dan terlihat oleh mas Andika.


“Setelah ini kau ingin kemana nyonyaku?”. Mas Dika kembali menatap dan memegang tanganku.


Panggilan nyonya oleh mas Andika padaku seakan menekankan jika aku adalah miliknya. Hanya miliknya seorang. Sebenarnya dalam hati aku juga bingung sebenarnya aku ini milik siapa?. Hati dan jiwaku seutuhnya untuk mas Andika tapi sayangnya statusku masih milik mas Reno.

__ADS_1


Aku tak keberatan sama sekali dengan panggilan tersebut bahkan aku merasa sangat disayang dan diakui olehnya.


“Terserah mas mau kemana”.


Keduanya berlalu pergi meninggalkan bakso BNI yang legend oleh mahasiswa-mahasiswa dan kembali membelah jalanan Malang. Kali ini mereka menuju Batu. Tempat paling dekat dengan Malang yang dulu sering sekali mereka kunjungi.


Mereka berdua memutuskan untuk nonton bioskop di Batu sengaja memilih tempat yang jauh agar lebih lama untuk bersama. Sesampainya di mall yang cukup mewah , mas Andika memarkirkan mobilnya. Setelah itu kami berjalan bergandengan menuju lantai tiga seperti anak-anak muda lainnya. Sepanjang perjalanan kami berdua senyum-senyum tiada henti.


“Mau nonton apa, kali ini kamu yang pilih?”. Ucap mas Andika memberikan kesempatan padaku untuk menentukan pilihan.


“Romance luar saja mas, sepertinya menarik”.


Tak menunggu waktu lama mas Andika langsung mengiyakan pilihanku. Mas Dika lekas membeli dua tiket dan memilih tempat duduk yang strategis. Mereka berdua lekas duduk di kursi yang sudah mereka pilih.


“Kok tumben mas milih kursi dibelakang?”. Tanya Rahayu sambil mengekor mengikuti langkah Andika.


Mas Andika tak memberikan jawaban hanya tersenyum manis sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu.


Aku dan mas Andika duduk di kursi paling pojok . Mas Dika meletakkan beberapa makanan dan minuman di pangkuanku. Beberapa saat kemudian lampu dimatikan dan film pun diputar.


“Gini kan enak aku bisa berada di sampingmu dan melihatmu selama yang aku mau”. Ucap mas Dika seraya meraih tanganku dan kembali menggenggamnya.


Blus pipiku kembali bersemu merah mendengar perkataan mas Andika.


"Kenapa mas Dika menjadi bucin seperti ini?". Ucap Rahayu dalam hati.


Dulu saat masih kuliah jika nonton bioskop mereka akan memilih tempat duduk di bagian tengah agar bisa fokus menikmati film yang sedang diputar. Bertambahnya usia membuat Andika berubah pola pikirnya kini dia tak ingin menikmati film yang diputar dia hanya ingin fokus menikmati pemandangan indah disebelahnya.


Pandangan mas Dika tidak lagi fokus pada film yang diputar tapi justru menatapku dengan sangat lekat membuatku salah tingkah dibuatnya.


Duh gini amat rasanya jatuh cinta.

__ADS_1


__ADS_2