
Rahayu yang begitu malu dan teramat sangat gugup mencoba mengalihkan pembicaraan mereka.
“Mas ayo makan dulu, sesungguhnya aku teramat sangat lapar karena sejak tadi siang belum makan sama sekali”. Ucap Rahayu dengan memberikan senyum termanisnya.
Andika membalas dengan senyum yang tak kalah manisnya mendengar permintaan sang istri.
“Ayo sayang”. Dengan sigap Andika menggandeng tangan mungil istrinya menuju dapur yang sudah teramat sangat sepi tersebut.
Pukul dua belas malam pasangan pengantin ini meramaikan dapur dengan membuat mie instant, entah mengapa malam itu rasanya ingin sekali menikmati semangkuk indomie kuah beserta telur dan perangkat lainnya dengan di temani hawa yang dingin dan pasnagan halal tentunya.
“Mas mau rasa apa?”, tanya Rahayu dengan jemari memilih-milih berbagai rasa mie yang ada di laci dapur rumahnya.
“Sesungguhnya aku ingin mencoba rasamu sayang”. Andika menatap dengan tatapan yang sangat jail.
Rahayu tersenyum dengan wajah yang sudah merah merona.
“Buatlah satu mangkuk saja sayang, aku ingin menikmati semangkuk berdua denganmu”.
Mendengar titah sang suami, Rahayu lekas menjalankan tugas tersebut dengan memasak dua mie instant rasa soto lengkap dengan telurnya, hanya saja di letakkan dalam satu mangkuk yang berukuran besar.
“Yang penting kan satu mangkuk makannya, untuk porsinya tetap dua biar sama-sama kenyang”. Ucap Rahayu dalam hati saat menyajikan mie tersebut.
Setelah semuanya selesai, Rahayu lekas membawanya ke depan sang suami, tak lupa dengan membawa dua sendok dan dua garpu.
“Mas, ayo makan dulu”. Dengan meletakkan mie tersebut di depan Andika.
“Trimakasih sayang”.
“Eh tumben ini kok banyak sayang mienya, biasanya aku kalau bikin sendiri tak sebanyak ini?”. Andika tampak heran dan memandang mie yang ada di depannya.
“Ini dua bungkus mie mas, selain romantis aku juga ingin kenyang mas, jadi aku bikin dua mie menjadi satu mangkuk”.
“Yuk makan”.
“Pinter sekali istriku ini, kita memang perlu makan banyak agar tenaganya kuat setelah ini”.
“Uhuk uhuk....” Rahayu tersedak kuah mie soto yang ada di depannya.
“Minum dulu sayang’. Andika meraih segelas iar mineral dan menyerahkan pada Rahayu.
Rahayu menerima air tersebut, saking gugupnya hingga dia habiskan seluruh isi air dalam gelas tersebut.
__ADS_1
“Haus banget ya?”, tanya Andika dengan menaikan alisnya.
“Makan yuk mas, aku lapar sekali”.
“Suapin”. jawab Andika dengan begitu manjanya.
Rahayu lekas meraih sendok yang ada depannya menyuapi sang suami dengan begitu telatennya, sedang Andika menerima setiap uluran tangan yang masuk ke dalam mulutnya tanpa adanya penolakan sama sekali hingga mie dalam mangkuk tersebut habis tak tersisa.
“Jadi sebenarnya yang lapar tadi siapa?”, ucap Andika dengan menggaruk-garuk kepalanya.
Rahayu kembali tersenyum, sejatinya ia tak lapar hanya saja gugup tiada terkira.
“Sayang buatlah sesuatu yang hangat untuk kita, kali ini benar-benar satu gelas saja karena aku sudah terlampau kenyang”. Titah Andika yang langsung di kerjakan oleh sang istri.
Rahayu membuat satu gelas susu hangat untuk mereka berdua.
“Minumlah. Andika menyerahkan satu gelas hangat tersebut pada istrinya.
“Mas saja dulu”.
“Kamu dulu sayang”. Andika kembali menyerahkan satu gelas susu tersebut pada istrinya.
Rahayu dengan sigap meraih gelas tersebut, dan meneguknya hingga tinggal separo lalu meyerahkan kembali pada Andika.
“Aku ingin menepati janjiku padamu”.
“Janji apa mas?’’.
“Janji untuk berumah tangga yang so sweets seperti Rasulullah, sekarang aku sudah membuktikannya”.
Rahayu kembali tersenyum memerah oleh perkataan sang suami.
Demi apapun yang ada wajah Rahayu ketika malu-malu seperti ini sangat menggemaskan menurut Andika. Walaupun terkesan memiliki tubuh yang kurang tinggi, namun tubuh istrinya ini sangat molek dan menggoda iman. Andika dapat merasakan itu saat mendekap erat Rahayu. Maklum Andika perjaka dewasa yang mempunyai gairah.
“Mau sampai kapan sayang kita di dapur seperti ini”. Bisik Andika tepat di telinga Rahayu.
“Gendong”.
Andika mendelik mendengar permintaan istrinya, bisa-bisanya minta gendong di sini, kalau ada keluarga yang lihat bagaimana.
“Mas Dika gak kuat ya gendong Rahayu, badan mas Dika yang gede gini gak sanggup ya bawa aku ke kamar”. Goda Rahayu pada suaminya.
__ADS_1
“Jangankan ke kamar sayang, ke ujung dunia saja aku rela gendong kamu”.
“Wah keren sekali suamiku ini, selain narsis, juga pandai mengarangnya, pantes nih jadi penulis novel”.
Rahayu hendak beranjak dari kursinya, namun ditahan oleh Andika. Rahayu menatap aneh pada sang suami, kenapa dia melakukan itu?, hingga beberapa detik kemudian tubuhnya melayang di udara.
“AAA”, teriaknya dengan kerasnya karena terkejut, kemudian lekas membekap sendiri mulutnya takut terdengar oleh penghuni rumah yang lainnya.
Andika membawa Rahayu ke dalam kamar mereka dan menutup rapat kamar tersebut dari dalam, seolah isyarat tak ingin ada gangguan lagi dari liar sana.
Andika mendudukan Rahayu di atas kasurnya.
Rahayu masih memakai piyama tidurnya lengkap dengan menggunakan jilbab karena tadi habis menemui Sari dan Nina yang datang.
“Sayang, jika di dalam kamar dan hanya ada kita berdua saja lepaskanlah saja jilbabnya”. Ucap Andika dengan sangat lembut.
Rahayu menganggukkan kepalanya, baginya setiap ucapan dari Andika adalah titah yang semestinya dia jalankan selama itu baik dan tidak melanggar agama.
Rahayu menuju meja riasnya untuk melepas jilbab dan menyisir dengan pelan rambut panjangnya.
Sedangkan Andika masih terduduk di atas ranjang mereka berdua.
Setelah menyisir rambutnya dengan rapi, Rahayu masih terdiam di depan cermin karena bingung mau melakukan apa.
“Sini sayang, duduk di sebelahku”. Andika menepuk-nepuk kasur sebelahnya duduk.
Rahayu melangkah mendekati sang suami dan duduk di sebelahnya.
Andika merapatkan duduknya untuk lebih dekat dengan sang istri.
Andika menatap istrinya dengan tatapan yang sangat meresahkan.
“Sayang, apa kamu tidak merindukan aku?”, bisik Andika, entah mengapa sejak menjadi pasangan suami istri beberapa jam yang lalu Andika memiliki hobi baru yakni berbisik pada Rahayu dan sesekali menggigit telinga sang istri dengan begitu nakalnya.
Rahayu hanya menundukkan kepalnya begitu sangat malu dan gugup sekali.
“Aku juga rindu sekali denganmu mas’. Jawabnya dengan lirih tanpa berani memandang wajah suaminya.
Andika tak kuasa, lekas menangkup pipi Rahayu agar sang istri dapat memandangnya. Andika memandang dengan sangat lekat wajah istrinya, saat itu juga wajah mereka sangat dekat sekali hanya berjarak beberapa centi saja. Andika mulai mendekatkan bibirnya.
Reflek Rahayu memejamkan matanya.
__ADS_1
Bibir mereka pun saling bertemu satu sama lain, Andika menyesap pelan bibir sang istri dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Mereka pun saling menikmati ciuman pertama setelah halal. Tangan Andika memeluk dengan begitu posesifnya pinggang Rahayu dan menariknya untuk semakin mendekat padanya.