Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Kabar Eki


__ADS_3

“Kenapa mas?


Ada apa?”. Melihat ekspresi mas Andika yang tampak kaget dan bingung pasti terjadi sesuatu. Mas Andika tak menghiraukan masih sibuk dengan seseorang di seberang sana.


“Baik terimakasih informasinya saya akan segera menyusul ke sana”, jawab mas Andika mengakhiri telfonnya.


“Ada apa mas?” Aku masih saja sangat kepo dan penasaran.


“Eki kecelakaan Yu, sekarang sedang di IGD UNISMA” jawabnya dengan wajah yang sangat cemas.


“Aku mau ke sana sekarang”


“Habiskan dulu mas makanannya” tawarku


“Udah gak selera” mas Andika bergegas mengambil motornya.


“Tunggu mas aku ikut kalau boleh”


“Iya ayo cepetan”


Mas Andika tampak buru-buru untuk segera mengambil motor sampai lupa tidak membayar bakso dan mie ayam kami, untuknya hari ini aku sedikit ada rezeki jadi kali ini aku yang bayar.


Aku segera naik ke sepeda mas Andika, kebetulan jarak antara ATM BNI dengan rumah sakit UNISMA tidak terlalu jauh, jalanan lumayan padat tapi tidak ada kemacetan di sana, mas Andika dengan sigap menjalankan motornya membelah jalan agar lekas sampai rumah sakit dengan cepat.


Setibanya di rumah sakit kami langsung menuju IGD tampak di sana mbak Eki terkapar tak berdaya sedang di tangani beberapa dokter dan perawat, mas Andika lekas menghubungi keluarga mbak Eki terlebih dahulu namum belum tersambung, kami tidak di izinkan masuk ruangan selama proses penanganan.


“Tensi darahnya 80/90,denyut nadinya lemah, pasien tidak sadarkan diri, sepertinya syok” ujar perawat yang sedang memeriksa keadaan awal mbak Eki. Dokter lekas berlari menuju IGD untuk memeriksa keadaan mbak Eki.


Mas Andika kembali mencoba mengabari keluarga mbak Eki sambil mondar-mandir di depan IGD.


“Pasien harus segera dioperasi, pasien mengalami patah tulang kaki. Apakah anda keluarganya”,tanya dokter yang menangani mbak Eki pada mas Andika.


“Iya dokter saya keluarganya, lakukan apa pun yang terbaik untuk kesembuhan Eki” jawab mas Andika.


“Baik silahkan urus administrasinya, pasien akan segera kami tangani, kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kesembuhan pasien”. Dokter berlalu dan kembali masuk ke IGD.

__ADS_1


Mas Andika kembali mondar-mandir di depan lobi rumah sakit, sambil menunggu kedatangan orang tua mbak Eki, mbak Eki sendiri sudah di bawa menuju ruang operasi untuk melakukan tindakan.


Beberapa saat kemudian terlihat pasangan suami-istri yang tampak sangat cemas turun dari mobil, dengan berlari-lari menghampiri mas Andika.


“Dimana Eki? Tanya seseorang yang terlihat sangat cemas.


Sepertinya itu ibu mbak Eki.


“Eki sudah masuk ruang operasi tante”mas Andika menjawab dengan wajah yang sedih.


Mas Andika dan kedua orang tua mbak Eki lekas menuju ruang operasi saat itu juga, aku pun mengikutinya dari belakang, sama dengan mereka aku juga panik, khawatir dengan keadaan mbak Eki. Semoga Allah melindungi dan memberi kesembuhan pada mbak Eki, doa tulus dariku untuknya.


“Dika apa yang sebenarnya terjadi pada Eki?” tanya ayah mbak Eki saat kami sudah di depan ruang tunggu operasi.


Suasana tampak tegang di sana, sunyi tak banyak suara,hanya lantunan doa yang di panjatkan untuk kesembuhan orang tersayang.


“Saya tidak tau om, tadi saya tidak bersama Eki, saat saya makan dapat kabar kalau Eki kecelakaan dan di bawa ke sini” papar mas Andika.


“Semoga semua baik-baik saja, Eki anak saya satu-satunya” ujar ayah mbak Eki sambil meneteskan air mata.


Pertahanan seorang yang kuat dan tangguh pasti juga akan goyah jika melihat anaknya terkapar tak berdaya seperti ini.


Satu jam berlalu, lampu diruang operasi belum juga menyala masih berwarna hijau, belum ada tanda-tanda operasi selesai. Keluarga semakin gelisah dan panik.


“Tante kita sholat dulu ya, sambil menunggu kabar mbak Eki”. Aku mengajak bundanya mbak Eki untuk menenangkan diri sejenak.


“Iya nak ayo” Kami lekas menuju mushola yang ada di rumah sakit untuk beribadah sejenak.


empat jam berlalu, dokter dan beberapa perawat tampak keluar dari ruang operasi, kami segera menghampiri mereka.


“Dokter bagaimana ke adaan anak saya?”


“Pasien mengalami patah tulang kaki, kami sudah melakukan operasi dan berhasil, kondisi pasien sekarang belum sadarkan diri, sebentar lagi akan di pindahkan ke ruang rawat”


“Boleh kah saya melihatnya?

__ADS_1


“Silahkan tunggu di ruang rawat sebentar lagi akan di pindahkan ke sana”


Kami semua bersiap-siap menuju ruang rawat yang sudah di pesan keluarga mbak Eki, keluarga pesan kamar rawat VVIP, baru kali ini aku melihat kamar rumah sakit yang bersih, bagus dan nyaman sekali ucap Rahayu dalam hati.


Beberapa saat kemudian perawat datang dan membawa serta mbak Eki yang masih belum sadarkan diri. Mas Andika duduk di samping kasur mbak Eki dan memegang tangannya, mengelus wajahnya dengan kasih sayang. Aku terharu melihatnya tapi aku juga sedikit cemburu.


“Dika sebaiknya kamu pulang dulu nak, istirahatlah” ucap bundanya mbak Eki.


“Tidak tante, saya mau di sini sampai Eki sadar” jawabnya.


“Pulanglah dulu nak, besok kembali lagi biar kami yang jaga Eki” sahut ayahnya mbak Eki.


“Tidak om saya mau menunggu Eki di sini”


“Nak kamu pulang saja dulu istirahatlah, Eki sudah tidak apa-apa tinggal nunggu sadar dan pemulihan” perintah bunda mbak Eki padaku.


“Iya tante sebentar lagi saya pulang, saya ingin melihat mbak Eki siuman dulu”.


Waktu menunjukan pukul 20.00 namun mbak Eki juga tak kunjung sadarkan diri, mas Andika bergegas menemui dokter kembali untuk memeriksa kondisi mbak Eki.


“Dokter kenapa pasien belum sadarkan diri juga?”


“Biar saya periksa dulu”


“Pasien membutuhkan transfusi darah, karena kehilangan banyak darah saat kecelakaan tadi”


“Golongan darahnya A+, siapa keluarga pasien yang berkenan mendonorkan darahnya?, silahkan ikut kami”. Perintah dokter.


Golongan darah mbak Eki sama seperti ayahnya, tapi sayang ayah mbak Eki sedang dalam pemulihan penyakit diabetes jadi tidak diperkenankan untuk melakukan donor darah. Sedangkan stok darah di rumah sakit sedang kosong.


Aku menawarkan diri untuk mendonorkan meski aku sendiri belum tau golongan darahku apa?.


“Saya bersedia dokter untuk menjadi pendonor mbak Eki, silahkan periksa barang kali golongan darah kami sama” Ucapku pada dokter kala itu.


“Baik mari ikut dengan saya”

__ADS_1


Aku bergegas mengikuti langkah dokter menuju ruang pemeriksaan, mas Andika juga turut mendampingiku. Mas Andika terlihat sangat cemas sekali melihat kondisi kekasihnya yang tak kunjung sadarkan diri.


Dokter mulai mengambil sampel darahku, utuk mengetahui golongan darahnya. Sebenarnya aku takut sekali kalau melihat jarum apa lagi darah, tubuhku terasa lemas. Tapi demi keselamatan seseorang aku terus berusaha memberanikan diri.


__ADS_2