Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
POV Andika


__ADS_3

POV Andika


Pagi itu sebelum berangkat ke kantor kami sekeluarga sarapan bersama seperti yang biasa kami lakukan. Tiba-tiba ayah memintaku untuk menghadiri acara resepsi pernikahan anak temanya yang kebetulan di laksanakan di salah satu gedung di Surabaya.


Aku menolak untuk menghadiri acara tersebut, tapi ayah memaksaku untuk datang karena tidak enak jika tidak datang, yang mantu adalah sahabat ayah sejak kecil. Aku malas sekali harus ke Surabaya selain karena hawanya panas aku juga tidak suka dengan padatnya jalanan di sana.


Ayah tersus saja memaksaku untuk menghadiri acara tersebut meski ku sudah ku tolak beberapa kali.


“Kalau kamu tidak mau berangkat biar ayah berangkat sendiri Dik”. Ucap ayah dengan menahan batuk dan sesak nafasnya.


“Baiklah yah aku akan datang ke sana, ayah istirahat saja di rumah dulu.


Aku mana tega membiarkan ayah yang sedang tidak enak badan untuk menghadiri acara pernikahan anak temannya, yang ada nanti asma ayah semakin parah karena berdesak-desakan.


“Jadi kamu mau datang ke sana?”. Tanya mama padaku.


“Iya mah aku akan menggantikan ayah untuk datang ke acara tersebut”. Jawabku dengan meminum secangkir energen.


“Jadi kamu kapan Dik mengenalkan wanita pada mama? Ingat umur mama dan ayah juga sudah semakin tua. Jangan bilang kamu tidak pernah jatuh cinta lagi sejak putus dengan Eki dulu”.


“Ah mama kan mulai lagi bahas tentang jodoh”. Jawab Andika dengan kesal.


“Apa kamu kembali saja dengan Eki Dik, mama khawatir kamu sudah dewasa malah sama sekali tidak pernah mengenalkan wanita pada mama selain Eki?”. Tawar mama yang membuatku makin malas saja.


“Pernah ma, sudah beberapa tahun yang lalu aku mencintai satu wanita yang tak pernah bisa aku lupakan. Dua minggu yang lalu aku mengirim cincin k rumahnya. Aku masih menunggu jawaban darinya. Doakan Andika ya ma semoga berjodoh dengan dia”.


Mama hanya tersenyum.


“Lekas bawa dia ke sini ya, mama sudah tidak sabar ingin punya mantu dan punya banyak cucu”.


“Ya sudah ya mas Dika berangkat dulu, nanti sepulang kerja langsung ke Surabaya aku akan bermalam di sana saja karena acara resepsinya pagi hari”.


“Hati-hati ya nak”.

__ADS_1


***


Sesampainya di Surabaya aku lekas chek in di salah satu hotel dekat dengan tempat berlangsungnya resepsi pernikahan anak teman ayah. Aku menaruh beberapa barang bawaanku di sana dan lekas merebahkan tubuhku di atas kasur yang empuk. Aku tak berniat untuk jalan-jalan karena memang tujuanku ke sana hanya untuk menuruti perintah ayah saja.


Pagi hari tibalah saat aku harus bersiap menghadiri acara pernikahan anak teman ayah, namun alangkah terkejutnya ketika sudah memasuki area depan gedung tersebut aku membaca beberapa karangan bunga bertuliskan “selamat menempuh hidup baru”.


Sebenarnya tidak ada yang aneh setiap pernikahan pasti biasa ada karangan bunga yang bertuliskan “selamat menempuh hidup baru”. Yang membuatku terkejut adalah nama pengantin yang tertulis di sana.


Reno Devan Saputra dan Puspita Rahayu.


Deg.


Aku mencoba tenang dan terus melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung tersebut.


“Bukankah nama Rahayu tidak hanya satu mungkin hanya sebuah kebetulan saja”.


Namun alangkah terkejutnya ketika aku memasuki gedung tersebut, seorang wanita duduk di singgasana pelaminan dengan senyum yang begitu aku kenal.


Mataku nanar menatap wanita itu.


Wanita yang sangat kurindukan bersanding di pelaminan dengan pria lain.


Ternyata benar dia Rahayu wanita yang slalu ada di hatiku selama ini.


Aku tidak tau jika teman ayah adalah mertua Rahayu.


Harusnya aku tak datang ke acara ini.


Rahayu rupanya ini yang membuatmu tak membalas surat dariku beberapa waktu yang lalu.


Dadaku terasa begitu sesaknya seolah oksigen dalam rungan tersebut menghilang, hawa dingin dari AC tak mampu mampu memberikan ku kesejukan. Hatiku begitu sakit melihat semua ini.


Entah suatu kebetulan atau bagaimana, beberapa menit menjelang waktu pulang aku melihat Rahayu sedang duduk sendiri di salah satu kursi undangan, tapi suaminya tak ada jadi aku memberanikan diri untuk menemuinya. Aku hanya sekedar ingin mengucapkan selamat padanya meskipun hatiku terasa sakit luar biasa.

__ADS_1


Rahayu begitu terkejut ketika melihatku ada di sana, kami mengobrol sebentar aku juga kembali mengungkapkan isi hatiku padanya, ingin sekali rasanya aku menjelaskan apa yang terjadi padaku setahun terakhir ini padanya tapi sayangnya Reno sudah datang dari arah belakang.


Setelah suaminya datang aku lekas berpamitan saja, aku tak mau menambah rasa sesak di dadaku. Akhirnya aku memutuskan untuk meninggalkan mereka dengan berpura-pura mengambil minuman.


Flashback On Andika.


Setahun yang lalu sepulang dari bertemu dengan Rahayu aku mengalami sedikit musibah, mobil yang aku tumpangi menabrak pembatas jalan. Aku terlalu bahagia hingga tidak konsentrasi saat mengemudi. Seluruh pikiranku di penuhi kebahagian atas pertemuanku dengan Rahayu kala itu.


Sepanjang perjalanan aku tak henti-hentinya bernyanyi dan beberapa kali membuka ponsel melihat isi galeri ponselku yang di penuhi dengan foto Rahayu.


Hatiku begitu bahagia sekali kala itu hingga aku tak menyadari jika mobilku berjalan dengan kecepatan yang cukup tinggi tanpa sadar karena mendengar klakson yang cukup keras dari belakang membuat mobilku menghantam pembatas jalan.


Ya aku mengalami kecelakaan kala itu.


Keadaanku cukup parah, menurut cerita mama aku mengalami koma selama berbulan-bulan, selama itu pula aku tak menghubungi Rahayu. Ponselku hilang sejak kejadian itu, aku tak tau dimana.


Karena mengalami cidera yang cukup serius dan tidak sadar-sadarkan diri, keluarga membawaku ke rumah sakit yang ada di singapore. Empat bulan berlalu sejak aku mengalami koma aku baru sadarkan diri.


Saat itu yang kuingat hanya satu Rahayu, sayangnya Rahayu tak ada di sana. Bukan salahnya juga tak ada di sana karena keluargaku juga belum mengenal Rahayu.


Selain itu aku juga mengalami patah tulang kanan. Aku tak mampu berjalan selama beberapa bulan lamanya. Beberapa bulan kau habiskan dnegan duduk di kursi roda dan hanya memandang beberapa foto Rahayu yang tercetak di album memory dulu. Kondisiku benar-benar sangat memprihatikan saat itu.


Ingin rasanya memberi tahu Rahayu tapi aku tak tega. Aku tak cukup mempunyai rasa percaya diri dengan kondisiku saat itu. Aku takut Rahayu tidak menerima keadaanku yang tak sempurna. Aku takut Rahayu akan mengacuhkan ku.


Setiap malam aku slalu berdoa semoga Allah mempertemukan kembali kami suatu saat nanti. Sepanjang hari aku merayu sang pencipta untuk bisa bersanding dengan Rahayu wanita yang sudah lama bertahta di hatiku.


Aku berjanji pada diriku sendiri akan lekas menemuinya saat kondisiku sudah membaik. Kini kondisiku sudah membaik sayangnya tidak dengan hatiku.


Hatiku rapuh hancur.


Aku melihat Rahayuku bersanding di pelaminan dengan pria lain.


Bodohnya aku yang tak lekas menemuinya saat sudah sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2