
Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan pun berganti bulan, Andika semakin tersiksa dengan perasaanya sendiri, semakin hari cinta dan kasih sayangnya pada Rahayu semakin dalam dan semakin enggan untuk melupakan.
Meski dia tahu semua ini hanya akan menyakiti hatinya, tapi Andika tak peduli dengan dapat menatap Rahayu lebih lama sudah cukup baginya.
Setiap hari yang di lakukan Andika adalah mengamati setiap gerak-gerik Rahayu bahkan jika memungkinkan Andika ingin memasang cctv di sepanjang area kampus agar lebih mudah mengamati istri orang tersebut.
Setiap hari yang dilakukan Andika sepulang mengajar adalah mendatangi rumah Rahayu, tentu saja tidak masuk ke dalam rumahnya. Andika tak mempunyai keberanian yang cukup untuk itu.
Andika akan datang dan mengamati segala aktivitas di dalam rumah itu dari kejauhan. Terkadang matanya melihat Rahayu sedang membuang sampah, terkadang sedang menyapu ringan bagian halaman rumahnya. Hatinya menghangat kala melihat sang pujaan hati. Satu hal yang membuat Andika bertanya-tanya dan ingin sekali bertanya pada yang bersangkutan tapi sayangnya tak cukup ada keberanian.
Ya keberadaan Reno yang lama tak terlihat di samping Rahayu.
***
Pagi itu Andika meminta tolong pada Rahayu untuk menyampaikan pada teman-temannya jika kelas akan ada keterlambatan sekitar sepuluh menit, Andika mengabarkan jika dirinya sedang mengisi seminar di salah satu fakultas di kampus tersebut. Entah mengapa meski sudah menekan sekuat tenaga segala perasaan yang ada tapi hati andika tetap tak karuan ketika menunggu balasan pesan dari Rahayu. Antara gugup dan gelisah semua bercampur menjadi satu.
“Sayang minta tolong kasih tau teman-teman semuanya, aku terlambat masuk kelas sedang mengisi seminar. Sepuluh menit lagi aku sampai”.
Ingin sekali ku kirim pesan tersebut pada Rahayu, tapi ku urungkan tanganku kelu.
“Sayang.....”. Hapus.
“Sayang” hapus lagi.
Arrgg kenapa harus berjumpa denganmu lagi, Andika frustasi dan mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
“Yu tolong, kasih tau teman-teman jika kelas nanti sedikit terlambat, aku akan datang sepuluh menit lagi send Kucing.
Ya Andika masih enggan untuk mengganti nama Rahayu di kontak wa tersebut, baginya harapannya terkabul karena kucing itu benar-benar lucu dan mengemaskan. Hanya saja sudah menjadi milik orang.
Andika menarik nafasnya lega ketika jemarinya mampu menulis dengan kalimat yang seharusnya.
Beberapa menit kemudian tak ada jawaban. Hatinya kembali gundah gulana, meski segala rasa sudah di redam sedemikian rupa tapi nyatanya pertemuan yang begitu intens membuat gelora rasa yang berbeda.
Lima belas menit berlalu.
Rahayu mengetik.....
Mengetik....
Mengetik...
“Ya Allah Yu kamu mau jawab apa sih pesanku? Kenapa lama sekali menegtiknya?”. Ya Andika di buat cemas dengan sikap Rahayu.
Wa Rahayu Off.
Andika kembali menarik nafas yang panjang sekali, seperti gerbong kereta api.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian.
“Baik pak”.
Hanaya sebuah pesan “baik pak” tapi kamu mengetik cukup lama sekali.
Astaghfirullah.
***
Kelas.
Didalam kelas Rahayu lekas memberi tahu pada teman-temanya jika dosen mereka akan datang terlambat tapi semua mahasiswa tidak di perkenankan untuk pulang dan di suruh menunggu untuk menunggu sampai beliau datang.
Karena tak ada dosen kelas riuh, merela saling berbicara satu sama lain dalam kelas tersebut termasuk Rahayu dan Dania yang berbicara banyak hal pagi itu. Rahayu bahagia sekali dengan keputusannya untuk kembali sekolah. Dengan sekolah Rahayu merasa muda lagi dan tidak kesepian karena banyak teman dan kegiatan.
Sesuai dengan janjinya, sepuluh menit kemudian Andika telah sampai di ruang kelas tersebut.
“Pagi menuju siang semuanya”, sapa sang dosen dengan penuh semangat pagi itu menyapa mahasiswanya yang kusut terlalu lama menunggu.
“Pagi juga pak. Jawab mereka kompak.
“Ayo semangat-semangat, jangan loyo mari kita mulai kelas ini dengan tugas biar lebih semangat lagi”.
“Ya Allah pak tugas lagi” . Kompak seluruh penghuni kelas tampak protes.
Hening semua kelas mengikuti arahan sang dosen.
Materi pun dimulai dengan serius, Pak Andika yang awal perkenalan mereka terlihat begitu santai dan asyik mulai merubah image dirinya menjadi dosen yang dingin dan sama sekali tidak mentoleransi setiap kesalahan mahasiswanya. Andika bersikap seperti ini karena tidak mau yang lain iri pada Rahayu. Mengingat beberapa minggu yang lalu Andika pernah memberikan keringan pada Rahayu.
Begitu pula sebaliknya Andika akan memberikan apresiasi pada mahasiswanya jika mampu menerima tantangan dan dapat menyelesaikan segala tugas mereka dengan baik dan benar. Andika ingin profesional dalam bekerja meskipun terkadang hatinya melo ketika melihat Rahayu dalam kesulitan tugasnya.
Ingin sekali rasanya tangan manisnya terulur untuk membantu, tapi sayangnya ia urungkan mengingat status di antara mereka sekarang yang sudah berbeda. Andika sekuat tenaga menjaga jarak.
Tak jarang Andika akan memberikan study kasus yang benar-benar menguras otak mereka dan harus di kumpulkan kala itu juga setelah kelas selesai di lakukan.
Semua mahasiswa yang ada di kelas Andika akan diam tak berkutik jika sang dosen sudang memberikan penjelasan, suasana kelas akan berbah menjadi horor dengan ketegasan Andika.
Seperti pagi itu Andika kembali memberikan tugas study kasus yang terjadi di perusahaan X, di mana perusahaan tersebut membutuhkan suatu simulasi baru untuk mengetahui kinerja dari karyawannya.
“Tugas di kumpulkan setelah hitungan saya sampai ke lima”.
Satu.
Dua.
Tiga.
__ADS_1
Empat.
Lima
Silahkan letakkan tugas di atas meja dan boleh meninggalkan kelas ini.
“Yu minta tolong di kordinasi tugas-tugas temannya”.
“Baik pak”. Rahayu lekas mengambil satu persatu tugas dari temannya dan membawanya ke meja Andika sedang yang lain berlalu meninggalkan kelas begitu saja.
“Masya Allah , ganteng banget sih, tapi kalau cara ngajarnya bikin sepanjang seperti ini bisa stres aku”. Bisik Dania pada Rahayu.
Sedang Rahayu hanya tersenyum menangapi ucapan Dania.
“Aku tunggu di cafetaria ya lapar sekali”.
“Siap”. Jawab Rahayu pada Dania.
Kini di kelas tersebut hanya ada Andika dan Rahayu.
Rahayu menata kertas-kertas tugas temannya dengan begitu telaten, sedang Andika tak kuasa menahan matanya untuk tak menatap objek di depannya.
Rahayu.
Ya Andika masih saja terpesona dengan pesona Rahayu.
“Pak sudah”. Rahayu menyodorkan beberapa lembar kertas tersebut pada Andika.
Sedang Andika masih bengong menatapnya.
“Pak ini sudah”.
Beberapa detik kemudian Andika tersadar dengan tindakannya.
“Bisa minta tolong bawa ke ruangan saya sekarang?”.
Dengan tersenyum Rahayu mengakan kepalanya.
Sedang Andika hanya bisa meleleh melihat senyuman itu.
“Istighfar Ya Allah ini cobaan”. Ucap Andika dengan mengelus dadanya.
Mereka berlalu meninggalkan kelas tersebut, dengan Rahayu berjalan di belakangnya.
Menyadari hal itu Andika lekas menghentikan langkahnya.
“Kamu tuh harusnya berjalan di samping saya biar cocok, bukan di belakang saya seperti ini”. Ucap Andika ambigu.
__ADS_1