Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Periksa


__ADS_3

Memasuki usia delapan bulan Rahayu sudah mulai mempersiapkan berbagai perlengkapan menjelang kelahiran, mulai dari kamar bayi dan beberapa baju bayi. Berkali-kali Rahayu dan Andika melakukan USG untuk melihat kondisi anak mereka hanya saja sampai saat ini belum di ketahui jenis kelaminnya, sang anak masih enggan menunjukan identitasnya secara real pada orang tuanya.


Sengaja mungkin untuk kejutan Mama Papanya kelak kalau lahir, hanya saja jika di lihat dari tampilan layar monitor wajah calon anak mereka di dominasi oleh wajah Andika, terlihat dari hidungnya yang mancung sekali, serta bentuk bibir yang simetris seperti bapaknya.


Rahayu sama sekali tak mempermasalahkan kelak anaknya lebih mirip siapa?, toh memang bikin adonannya berdua jadi otomatis pasti lah ada nanti bagian yang mirip dia.


Sore itu Mama datang berkunjung dengan membawa perlengkapan bayi yang banyak sekali, Mama begitu antusias menyambut kehadiran cucu pertamanya. Tak tanggung-tanggung karena belum mengetahui jenis kelaminnya maka Mama membeli du set jenis baju untuk cewek dan untuk cowok.


Kalaupun bayinya yang lahir nanti cowok maka baju cewek bisa di pakai adiknya nanti, begitu juga sebaliknya. Tak hanya baju Mama juga membelikan berbagai macam perlengkapan MPASI untuk cucunya kelak termasuk stroller, baby walker dan beberapa buku Halo balita dari berbagai macam edisi.


Mama menginginkan cucunya mengenal buku sejak dini, oleh sebab itu Mama membelikan banyak sekali buku bancaan untuknya dari berbagai macam versi. Untuk saat ini aku mengenalkan anakku dengan bacaan hanya lewat Novel yang ku baca setiap harinya, terkadang aku membaca Novel Duri Dalam Keluarga atau Di Balik Toga Rahayu karya author Rengganis kala mengisi waktu luang hehehe.


“Yu kamu ikut kelas ibu hamil tidak nak?”, tanya Mama yang sedang merapikan barang belanjaannya dan membawanya dalam kamar.


“Untuk saat ini belum Ma”.


“Ikutlah nak, kehamilanmu sudah membesar perlu olah raga untuk mempermudah saat persalinan nanti”.


“Nanti Rahayu diskusikan sama Mas Dika dulu ya Ma”.


Mama tersenyum pada menantunya, jaga kesehatan ya nak jangan capek-capek, usahakan makan yang sehat-sehat biar cucu mama ini sehat.


Perut Rahayu bergerak-gerak, seakan mengerti pesan yang di sampaikan oleh neneknya.


***


Sesuai dengan saran Mama mertuanya dan hasil diskusi dengan suami, akhirnya Rahayu mengikuti kelas hamil yang diadakan dua kali dalam seminggu. Selama mengikuti kelas kehamilan ini Rahayu slalu berangkat sendiri tak ada pasangannya.


Beberapa kali Merisa menawarkan diri untuk mengantarnya tapi Rahayu tolak dengan alasan tak enak merepotkan saja, sebenarnya bukan hanya itu Andika secara keras melarang Rahayu berinteraksi dengan Merisa. Entah mengapa filing nya merasa tak enak jika Rahayu berdekatan dengan Merisa.


Untuk melakukan senam hamil bisanya Andika akan menugaskan orang khusus untuk mengantar dan menjemput istrinya.

__ADS_1


****


Pagi itu Rahayu menemani Andika yang sedang sarapan pagi, tentu saja bukan dia yang masak tapi mbah Minah, sejak dinyatakan hamil Rahayu sama sekali tidak di perkenankan oleh Andika untuk mengerjakan pekerjaan rumah sama sekali, hal semacam ini yang membuat pikiran Rahayu berkelana kemana-mana karena kurang kesibukan sehingga dia sering ngerecokin suaminya dengan minta yang aneh-aneh.


Sebagian besar waktunya di habiskan untuk mengaji dan membaca novel, tak jarang tanpa sepengatahuan Andika Rahayu turut membantu membersihkan rumah meskipun Mbah Minah sudah berkali-kali melarang.


“Mas nanti sore aku ada kelas hamil, bisakah mas Dika nanti sempatin untuk menemani istrimu yang cantik ini, biar tidak di kira janda”. wajah Rahayu memelas memohon pada suaminya dengan tatapan seperti mata kucing yang minta di pungut.


Sungguh tatapan seperti ini yang tak bisa Andika tolak.


“Ya sudah nanti Mas usahakan untuk menemani istriku yang cantik ini”.


“Memangnya ada gitu yang mengira kamu janda sayang?”.


“Ya mungkin saja, orang cuma aku saja yang tak pernah di temani pasangannya, bahkan terkadang instrukturnya tanya, suaminya di mana bu?”.


“Lantas kamu jawab bagaimana sayang?”, tanya Andika begitu antusias.


“Astaghfirullah sayang kenapa jawabnya begitu, kamu kan tahu Mas beberapa bulan ini lagi kebut bimbing skripsi dan tesis, kasian mahasiswa yang lagi ngebut pengen lulus dalam tiga bulan ini biar gak nambah bayar uang semeter bulan depan’, Andika menjelaskan panjang lebar pada istrinya tentang tugas dan kesibukannya.


“Iya mas aku tahu itu”.


“Ya sudah nanti sore kelas ibu hamilnya aku temani, tunggu ya”.


Rahayu hanya menganggukkan kepalnya saja, entah mengapa sejak hamil sifat Rahayu yang dulu malu-malu berubah jadi sedikit cerewet dengan banyak permintaan dan tuntutan, mungkin karena bawaan bayinya.


“Lain kali jangan bilang suaminya tak peduli dengan calon anaknya ya sayang, bukankah setiap malam Papa ini slalu menjenguknya memastikan bahwa dia sehat-sehat saja di sana”.


“Ye itu sih maunya bapaknya saja”, jawab Rahayu kesal pada suaminya.


***

__ADS_1


Sore harinya sesuai dengan janjinya Andika menemani sang istri tercinta untuk melakukan kelas ibu hamil. Benar yang di katakan Rahayu hampir semua adegan yang ada dalam senam tersebut mengharuskan berpasangan, saling bekerja sama antar ibu dan colon ayahnya. Pantas saja tak jarang Rahayu sering murung ketika pulang dari kelas Ibu hamil.


Andika meluangkan sepenuhnya hari itu dan besok untuk menemani istrinya, setelah kelas ibu hamil selesai mereka berdua lantas menuju rumah sakit untuk memeriksakan keadaan bayinya.


Sebenarnya tiga hari yang lalu Rahayu sudah periksa, hanya saja ia periksa di temani Mama mertuanya. Kali ini Andika ingin melihat perkembangan anak mereka.


Gel mulai di usapkan di perut Rahayu yang membuncit, Andika memilih dokter wanita sebagai dokter khusus yang menangani istrinya dari mulai awal kehamilan dulu. Selain lebih nyaman ketika memeriksa dan mengobrol Andika tak ingin orang lain melihat bagian dalam tubuh istrinya sekalipun untuk pemeriksaan. Baginya Rahayu hanya milik Andika seorang hanya dia yang boleh melihat dan memilikinya.


Tak berselang lama, layar monitor menampilkan janin yang sedang bergerak-gerak seperti sedang berenang dalam perut sang ibu, mulutnya menyesap ibu jarinya, yang reflek membuat Andika tersenyum haru melihat tingkahnya.


“Semuanya normal Pak Bu, perkembangannya sesuai dengan usianya, berat badannya juga cukup, air ketuban juga masih aman. Kemungkinan akan lahir dalam waktu tiga sampai lima minggu lagi”. Terang dokter paruh baya yang menanganinya.


“Untuk jenis kelaminya dokter?”’, tanya Andika yang begitu antusias mendengar jawabannya.


“Mari coba kita lihat ya Pak”, dokter tersebut mengeser-geser mencari posisi yang terbaik untuk melihat jenis kelamin calon bayinya.


“Wah Pak, mohn maaf sepertinya dia enggan untuk berbagi, lihat nih tertutup dengan kakinya”.


Andika kembali mengamati calon anaknya dalam monitor, benar saja yang tadi sedang menyesap ibu jari kini berubah menjadi menutup mukanya dengan tangan.


“Sepertinya dia malu-malu seperti kamu sayang”, ucapnya dengan membelai pucuk kepala istrinya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Kira-kira mau cowok apa cewek teman-teman?


__ADS_2