Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Cuban Rondo


__ADS_3

“Vila mas?”, sapa salah satu orang yang ada pada pos tersebut menawarkan villanya.


“Tidak pak, maaf saya mau tanya tukang tambal ban yang paling dekat dengan sini di sebelah mana?”, tanya mas Dika dengan sopan pada bapak-bapak itu.


“Kamu lurus saja sekitar satu km lagi ada tukang tambal ban”, ujar bapak-bapak di pos tersebut.


Aku dan mas Dika lekas melanjutkan perjalanan mencari tukang tambal ban tersebut, sepertinya sepeda mas Dika kekurangan angin.


Sesampainya di tukang tambal ban kami lekas turun untuk menambah angin.


“Mas jadi kita mau kemana sekarang?”, tanyaku pada mas Dika sambil menikmati suasana yang dingin dan sejuk di sana.


“Aku mau ngajak kamu ke cuban rondo, kamu sudah pernah ke sana?”


“Sudah pasti belum mas, aku warga baru disini”, sambil menggelengkan kepala aku menjawab pertanyaan mas Dika.


Kami lekas melanjutkan perjalanan kembali menuju lokasi yang sudah di tentukan oleh mas Dika, memasuki kawasan Songgoriti ke bawah udara semakin dingin dan pepohonan semakin lebat.


Sepanjang perjalanan kami terus berpapasan dengan muda mudi yang saling berboncengan berpasang-pasangan, entah itu bersama kekasihnya, temannya atau saudaranya.


Perjalanan ke Cuban Rondo memerlukan waktu sekitar tiga puluh menit dari kota Batu, medan menuju tempat wisata ini relatif mudah tidak terlalu terjal. Jalur Menuju lokasi Cuban Rondo bagus sekali banyak pohon-pohon besar dan rindang serta suara khas hewan-hewan pegunungan.


Sesampainya di Cuban Rondo kami lekas memarkirkan sepeda, dari parkiran sepedah menuju pintu masuk Cuban Rondo sekitar lima menit saja sehingga tidak memerlukan tenaga ektra untuk bisa masuk ke sana.


Aku dan mas Dika berjalan beriringan berdua menuju lokasi tersebut, sesampainya di depan gerbang Cuban Rondo kami di sambut dengan monyet-monyet kecil yang saling berlari menghampiri pengunjung apalagi pengunjung yang membawa makanan atau kantong plastik.


Aku sangat takut sekali, ini pengalam pertama ku berada dalam jarak paling dekat dengan monyet-monyet.


“Mas aku takut”, reflek tanganku mengandeng lengan mas Dika dan bersembunyi di belakang punggugnya.


“Tidak papa mereka tidak menggangu, mereka hanya menyapa dan minta di kasih makan”

__ADS_1


Aku yang tak terbiasa berinteraksi dengan hewan sangat ketakutan dibuatnya, aku masih mengandeng tangan mas Dika bahkan lebih erat hingga memasuki air terjunnya.


Memasuki area air terjun aku di buat takjub pemandangannya indah sekali, airnya sangat jernih dan arusnya deras sejuk sekali menenangkan. Banyak batu-batu besar di sekitar aliran sungai tersebut.


“Em sampai kapan ini tangannya di gandeng terus, monyetnya sudah tidak ada”, ucap mas Dika padaku.


Aku langsung melepas gandengan tanganku pada mas Dika.


“Maaf mas tadi tanganku reflek”, ucapku padanya dengan wajah yang memerah menahan rasa malu.


“Biasa saja kali, kamu kan adik ku sudah sewajarnya seorang kakak melindungi adiknya”.


Entah mengapa kata-kata mas Dika yang selalu menganggap ku adik terasa nyeri sekali di dada.


“Yu duduk yuk di sana?”, mas Dika menunjuk salah satu besar yang berada di aliran sungai tersebut.


“Aku takut mas, sepertinya licin”


“Dih apa’an sih”, aku lekas menuju ke batu yang sudah di tunjuk mas Dika tersebut. Aku berjalan lebih cepat dari mas Dika ingin sekali tunjukkan padanya kalau aku sedang tidak modus.


Byur aduh.


“Tau kan aku bilang juga apa tunggu sebentar”, kakiku sebelah kanan kepleset dan celana ku basah di bagian kanannya.


“Gini nih kalau gak nurut sama kakaknya”, mas Dika masih saja ngomel.


Meskipun dalam kondisi celana bagian bawahku basah aku masih melanjutkan ke batu yang sudah mas Dika tunjukan tersebut. Kami duduk berdua di sana memandang alam sekitarnya menikmati gemericik suara air terjun yang mendamaikan. Aku masih sangat takjub dengan keindahan alam Cuban Rondo hingga mataku tak bisa berhenti untuk terus melihat kanan dan kiri lingkungan di sana.


“Yu kamu tau tidak asal usul Cuban Rondo ini?”, tanya mas Dika padaku.


“Ya tentu saja tidak tau mas”, ucapku dengan ringan.

__ADS_1


“Dih nih orang males sekali mikirnya langsung di jawab gitu saja”


“Mau dengar tidak ceritanya?”, tawar mas Dika


“Mau dong”


Jadi penamaan Cuban Rondo itu berawal dari sebuah kisah. Dahulu ada sepasang pengantin baru yang beru saja melangsungkan pernikahannya. Sang wanita bernama Dewi Anjarwati dan sang pria bernama Baron Kusumo. Dewi Anjarwati ini berasal dari Gunung Kami sedangkan Baron Kusumo berasal dari Gunung Anjasmoro.


“Kamu tau tidak gunung Kawi sama gunung Anjasmoro?” tanya mas Dika.


“Tidak mas, tapi dua nama gunung ini seperti tidak asing bagiku”


Mereka baru saja menikah, setelah usia pernikahan mencapai usia selapan empat puluh hari Dewi Anjarwati mengajak suaminya untuk berkunjung ke Gunung Anjasmoro kalau istilah sekarang sih ingin ngajak honeymoon gitu. Tapi sayangnya ide honeymoon itu tidak direstui oleh orang tua Dewi Anjarwati.


Hal ini dikarenakan usia pernikahan mereka baru saja selapan, jika menurut kepercayaan orang Jawa akan mendatangkan kesialan tapi sepasang pengantin ini tetap bersikeras ingin melanjutkan perjalanan untuk honeymoon.


Saat sedang menempuh perjalanan mereka dikejutkan dengan kedatangan orang asing jahat yang menghalangi jalan mereka. Sosok Asing ini dikenal dengan Joko Lelono. Melihat kecantikan Dewi Anjarwati dia ingin merebut dari Baron.


Terjadilah pertempuran hebat diantara keduanya, Baron yang tidak rela jika istrinya direbut oleh Joko Lelono “enak saja baru juga nikah”. Para punokawan yang mengiringi perjalan mereka kemudian membawa pergi Dewi Anjarwati untuk bersembunyi. Baron Kusumo berpesan untuk mencari tempat persembunyian yang ada air terjunnya atau orang jawa menyebutnya cuban.


Pertarungan antar Baron dan Joko tersebut berakhir dengan kematian Baron degan demikian Dewi Anjarwati menjadi jada atau orang jawa menyebutnya rondo. Dengan demikian tempat persembunyian Dewi Anjarwati ini disebut dengan Cuban Rondo.


Aku hanya mengangguk kan kepala saja, ternyata mas Dika paham sejarah juga ya.


“Kamu lihat batu besar yang berasa di bawah air terjun itu? Batu besar itu diyakini sebagai tempat duduk sang putri kala itu”, mas Dika menunjuk salah satu batu di bawah air terjun tersebut.


“Mitos tersebut juga diyakini banyak orang samapi saat ini bahwa siapapun yang membawa pasangannya ke coban rondo jalinan cintanya pasti tidak akan lama”.


“Oh jadi karena mitos ini mas Dika tidak mengajak mbak Eki ke sini?” tanyaku padanya.


“Ya tidak begitu juga Yu dia sedang sibuk sekarang, katanya mau ke salon”

__ADS_1


“Kenapa tidak di teman’i mas?”


__ADS_2