
Satu minggu menjelang hari perkiraan lahir Mama sudah siap siaga dengan setiap hari berkunjung ke rumah Andika, Mama benar-benar memastikan semua persiapan untuk menyambut cucu pertamanya sesuai dengan yang di harapkan.
Pagi itu Mama memanggil tukang untuk mendekor ulang kamar baby, menurut Mama kamar yang di persiapkan Rahayu terlalu biasah tanpa hiasan sama sekali, sedang Mama menginginkan untuk kamar cucu pertamanya di desain seunik dan selucu mungkin.
Maklum biasanya di desa bayi malah tak memiliki kamar sendiri, jadi Rahayu tak terlalu pusing memikirkan kamar untuk baby nya, sedang Mama mertua menginginkan desain yang bagus agar ketika ada orang yang berkunjung melihat baby dapat lebih nyaman.
Rahayu sama sekali tak menolak keinginan Mama mertuanya, toh memang juga untuk kebaikan baby kenapa tidak.
Tak tanggung-tanggung Mama juga mengisi full seluruh lemari baby dengan dua model baju cewek dan cowok. Ketika memasuki kamar baby berasa seperti sedang masuk baby shop, semuanya tersedia di sana dan tertata dengan begitu rapinya.
***
Hari sabtu tiba, menjelang persalinan sang istri Andika sengaja mengosongkan jadwal kegiatannya di kampus untuk siap siaga jika sewaktu-waktu Rahayu melahirkan.
Pagi itu Rahayu minta untuk di temani jalan-jalan santai di sekitar komplek rumah mereka. Calon Mama Papa muda ini berjalan berdampingan dengan perut Rahayu yang sudah benar-benar membuncit sempurna dan tubuh yang semakin berisi.
Sering kali Rahayu merasa minder dengan bentuk tubuhnya yang sekarang, pendek dan bulat tapi sayangnya itu tak berlaku untuk Andika, bagi Andika bentuk tubuh istrinya yang sekarang semakin indah dan mempesona, maklum ibu hamil memiliki aura tersendiri.
Mereka berdua berjalan-jalan ringan mengitari taman yang ada di sekitar rumah mereka, beberapa kali mereka berdua berjumpa dengan tetangga-tetangga yang sedang jalan-jalan santai juga, terlihat juga banyak sekali anak kecil yang sedang bermain dan berebut makanan di taman.
“Sayang taukah kamu, aku membayangkan moment seperti ini sudah lama sekali, bahkan sejak kita bertemu dulu”. Andika tersenyum hangat pada istrinya sesekali membelai lembut pucuk kepala Rahayu.
Rahayu hanya tersipu malu dengan perlakukan suaminya.
“Au...”, ringis Rahayu dengan memegang perutnya.
“Kenapa sayang?”, Andika begitu kaget dan turut memegang perut istrinya.
“Dia sedang menendang-nendang”.
“Uhhh... Jagoan Papa, ada apa sayang kamu mau pentol?”, goda Andika dengan memegang gemas perut istrinya mengarahkan wajahnya pada perut buncit sang istri.
Rahayu diam tampak menimbang-nimbang ucapan Andika sesekali ia tersenyum kala suaminya sedang mengajak ngobrol anaknya.
__ADS_1
“Mas....”.
Rengeknya dengan manja sekali.....
“Mas....”.
“Astaghfirullah, mau minta apa lagi istriku ini”, ucap Andika dalam hati dan menghentikan pergerakan tangannya untuk memegang perut Rahayu.
“Mas baby mau pentol”, ucapnya dengan menunjukan senyum termanis yang ia punya.
“Oh mau pentol ya nak, sebentar ya tunggu di sini Papa belikan dulu”, Andika mulai beranjak dari duduknya dan berjalan menuju penjual pentol yang ada di sebarang taman.
“Mas....”. Teriak Rahayu, hanya saja Andika tak menghiraukannya.
“Mas....”.
Beberapa saat kemudian Andika sudah membawa dua bungkus pentol untuk dirinya dan Rahayu.
“What pentol gila?”.
“Iya pentol gila yang ada di Royal plasa Surabaya”.
Ya Allah cobaan apa lagi ini, wajah Andika memelas menghadap ke istrinya.
“Sayang kan sama-sama pentolnya nih, kenapa tidak pentol ini saja?”.
“Tidak mau, pokoknya aku mau pentol gila, aku mau makan di sana sekalian nostalgia gitu jaman-jaman masih kerja kalau malam minggu suka jalan-jalan ke Royal terus beli pentol gila”, ucap Rahayu dengan senyum-senyum membayangkan makan pentol gila di tengah keramaian pengunjung Royal.
“Sayang Royal itu jauh hampir dua jam perjalanan dari sini, belum lagi nanti antrinya, kamu bisa kecapean”. Bujuk Andika.
“Gak mau pokoknya aku mau makan pentol gila dan makan di sana, kalau mas Dika gak mau nganterin aku mau naik Grab saja”, rengek Rahayu yang kemudian tiba-tiba menangis sesenggukan.
Entah mengapa sejak kehamilannya ini, ketika menginginkan sesuatu dan tak terpenuhi Rahayu akan menangis meraung-raung layaknya waktu berpisah dengan Andika dulu. Padahal Rahayu yang dulu begitu tegar dan tak gampang tergoda apa lagi hanya dengan urusan makanan.
__ADS_1
Sungguh perutnya saat ini tak dapat di ajak kompromi kalau soal makanan, apa yang di inginkan harus ada, jika tidak di turuti akan menangis begitu terus selama hampir sembilan bulan ini.
“Sayang udah mau lahiran masih aja ya ngidamnya?”. Andika memohon kembali untuk tidak ke Surabaya pagi itu juga.
“Pokoknya mau makan pentol gila, salah sendiri pake nawarin baby mau pentol gak nak? Dia kan jadi pengen”. Dengan mengelus-elus perutnya Rahayu memohon.
“Ah baiklah, ayo kita pulang dulu siap-siap ganti baju”.
Rahayu tersenyum penuh dengan kemenangan kala mendengar ucapan suaminya tersebut.
***
Tak butuh waktu yang lama keduanya sudah bersiap untuk ke Surabaya demi pentol gila yang bisa bikin Andika jadi gila beneran karena harus menuruti permintaan istrinya.
Rahayu mulai memasuki mobil dan duduk di sebelah suaminya, Andika memakaikan sabuk pengaman pada istrinya, sedikit mengalami kesulitan karena memang perutnya yang sudah teramat sangat besar.
Perlahan mobil mulai berjalan membelah kota Malang menuju Surabaya, Andika memilih lewat jalan tol agar lebih cepat sampai dan terhindar dari kemacetan. Sepanjang perjalanan tak banyak obrolan di antara mereka berdua.
Rahayu sibuk menikmati pemandangan yang ada di balik jendela mobil, baginya terasa begitu segar dan indah meski cuma melihat jalanan. Rasanya sudah lama sekali ia tak keluar kota semenjak kehamilannya ini.
Sedang Andika tak henti-hentinya membacakan doa-doa agar sang anak yang hendak lahir tak lagi minta sesuatu yang aneh-aneh.
Mendekati waktu zuhur mereka beristirahat sejenak di rest area untuk sholat dan membeli makan, maklum bumil sekarang suka tak tahan lapar jadi dikit-dikit akan minta makan. Keduanya berpisah sementara untuk menjalankan sholat.
Sementara menunggu Rahayu selesai sholat Andika membelikan makanan dan berbagai macam cemilan untuk istrinya. Kini Andika tak berani menawarkan sesuatu lagi pada Rahayu, takut nanti malah minta yang tidak-tidak. Jadi ia memutuskan membeli menu sesuai dengan filing nya saja. Rencananya mereka akan makan di pelantaran masjid saja lebih santai dan luas.
Hampir empat puluh menit berlalu, Andika tak kunjung menemukan Rahayu keluar dari sholatnya, Andika mulai resah.
“Kok lama sekali sholatnya?”, ucapnya sambil mondar-mandir di depan pelantaran masjid dengan membawa banyak sekali makanan.
Karena merasa tidak tenang, Andika memutuskan untuk masuk saja menuju bilik wanita. Hanya ada beberapa orang saja dan Rahayu yang tampak duduk di antara mereka.
“Sayang kamu kenapa?”.
__ADS_1