
Enam bulan kemudian hari sakral yang ditunggu-tunggu akhirnya datang, ya tepatnya januari 2015 aku wisuda alhamdulilah.
Sengaja memang aku menunda wisudaku selama tiga bulan, harusnya aku wisuda oktober 2014 tapi aku tidak lekas daftar kala itu, aku ingin wisuda bersama dengan dua sahabatku Sari dan Nina selain itu baju yang sudah aku jahit untuk seragam keluarga juga belum jadi saat itu.
“Assalamualaikum bu bagaimana apa sudah berangkat?”.
Ibu bapak dan ketiga adikku berangkat dari kota kami hari itu juga, jika sesuai dengan rencana mereka akan berangkat jam tiga pagi. Ibu bapak dan keluarga tidak datang lebih awal atau menginap karena memang tidak ada tempat dan angaran khusus untuk menyewa penginapan. Aku hanya mampu mengalokasikan dana untuk seragam keluarga, biaya transportasi, makan bersama dan foto keluarga saja.
“Wassalam nak, sudah ini ibu bapak dan adik-adik sudah dalam perjalanan ke sana”. Jawab ibu yang berada di sebrang sana cukup membuat hatiku lega mendengar mereka sudah berangkat.
“Ya sudah bu hati-hati ya, semoga selamat sampai tujuan nanti aku tunggu di dekat terminal landungsari. Jika sudah dekat tolong hubungi aku kembali”.
Aku lekas menutup telfon dari orang tuaku bersiap untuk mandi dan berangkat rias. Rias dimulai setelah subuh karena wisuda akan dimulai pukul delapan pagi. Aku memilih tempat rias yang sama dengan Nina dan Sari sengaja memang biar lebih mudah saat berangkat. Nina yang memang asli orang sini sangat membantu mempermudah urusan kami. Orang tua Nina yang mengantarkan kami risa pagi-pagi itu. Jika sesuai rencana nanti setelah rias selesai akan di jemput orang tua masing-masing dan berangkat bersama menuju kampus.
Alhamdulilah rasa sukur tiada henti terucap dalam hatiku bisa sampai pada titik ini. Sesuatu yang tak pernah sanggup aku bayangkan sebelumnya.
Sesuai rencana yang sudah aku susun dengan ibu kala itu, ibu dan keluarga berangkat dari kota kami menuju Malang pukul tiga pagi. Saat berangkat tidak perlu mandi dulu karena masih malam dan tentunya sagat dingin. Aku memberikan saran pada ibu dan keluarga untuk mandi di pom atau rest area saja.
Aku sudah mengalokasikan anggaran khusus untuk biaya makan keluargaku selama di Malang, namun ibu melarang untuk membeli makan. Ibu memilih untuk membawa makanan dari rumah untuk sarapan dan makan siang. Karena saat makan malam tiba sudah dipastikan kita berada di rumah.
Rencana hanya rencana tapi kembali tuhan yang menentukan, memasuki pukul tujuh lebih ibu dan bapak masih juga belum sampai di tempat riasku.
__ADS_1
“Assalamualaikum, ibu sudah sampai mana?”. Tanyaku pada ibu yang mulai cemas.
“Waalaikumsalam nak, ibu sudah sampai Malang tapi tidak tau ini di mana?, sepertinya ibu nyasar”.
“Ibu di mana? Di dekat ibu ada apa? Biar bisa kasih arahan”. Wajahku sudah mulai panik karena jam juga semakin mepet mendekati waktu wisuda di mulai.
“Ini ada tulisan Arjosari nak, ibu harus kemana?”. Masyaallah tidak tanggung-tanggung nyasarnya jauh sekali bu. Aku lekas memberikan teleponku pada ayah Nina meminta tolong memberikan arahan pada supir untuk lekas menuju kampus. (Entah aku yang tidak tau atau bagaimana dulu 2015 Sherlock belum setenar sekarang, hp orang tua Rahayu dan sopir masih menggunakan nokia).
“Bu tidak usah jemput aku di tempat rias biar aku berangkat sama Nina saja. Kita ketemu di kampus saja ya”.
Setengah jam berlalu Rahayu tampak semakin gelisah menunggu orang tua dan keluarganya yang belum datang juga. Nina dan Sari beserta orang tuan masing-masing sudah menuju gedung wisuda.
“Yaallah ibu dan bapak di mana? Bagaimana kalau terlambat”. Rahayu tampak mondar-mandir di depan gerbang depan veteran dengan menggunakan kebaya lengkap dengan toganya.
“Alhamdulilah ucapku penuh sukur kala itu”.
Orang tuaku menyewa mobil tetangga dekat rumah yang kebetulan memiliki mobil, sebenarnya ini bukan mobil untuk persewaan, tapi mobil pribadi berhubung tidak tau di mana tempat persewaan mobil, bapak meminta tolong paklek untuk mengantarnya ke Malang menggunakan mobil tetangga tersebut. Masalahnya paklekku tidak tau jalan Malang jadi nyasar kemana-mana.
Tidak sesuai dengan rencana yang sudah di rencanakan. Bapak ibu Rahayu dan semuanya belum ada yang sempat mandi karena terlalu lama nyasar. Selain itu bapak juga alergi terhadap AC jadi ketika masuk mobil dan Ac dinyalakan sudah pasti dapat dipastikan akan teler. Jalan ke Malang melewati Batu juga berbelok-belok menambah daftar panjang pusing dan mual bagi keluarga Rahayu yang tidak terbiasa naik mobil.
“Alhamdulilah ibu dan bapak sudah sampai”, sapaku dan lekas mencium tangan orang tuaku.
__ADS_1
“Masyallah cantik sekali kamu nak”, ibu dan bapak memelukku secara bergantian.
“Buk anakku wisuda buk”. Wajah bapak berupah dari pucat karena mabuk perjalanan menjadi bahagia sumringah.
“Eh anak ibu juga pak ibu yang lahirkan”. Jawab ibu yang tidak mau kalah.
“Paklek titip adek-adek dulu ya, ibu bapak biar masuk ke gedung menemani wisuda”. Pamit ku pada paklek dan meminta tolong untuk menjaga adik-adikku.
“Iya Yu kalian masuk saja biar adik-adik kalian sama aku disini”.
“Paklek bisa duduk-duduk dulu di sana”. Aku menunjuk gazebo perpus di sana ada banyak tempat untuk duduk-duduk dan adik-adik bisa melihat ikan atau air mancur.
“Tidak usah Yu, biar paklek dan adik-adik tunggu di sini saja. Paklek takut nanti mobilnya ketukar sama yang lain, banyak sekali gitu mobilnya di sini”. Jawab paklek kala itu.
Rahayu lekas menuju ruang wisuda bersama ibu dan bapaknya tanpa ada acara mandi atau dandan dulu karena waktunya benar-benar sudah mepet sekali. Sesampainya di gedung Rahayu di sambut pihak akademik fakultas untuk memakai selendang wisudawan terbaik periode itu.
Alhamdulilah
Ada rasa haru yang tak terkira ketika sang ibu memakaikan selempang bertuliskan wisuda terbaik padanya sampai juga.
Ketika toga menjadi sebuah tanda cinta. Begitu sangat besar makna yang tersirat didalamnya, hingga menjadikan benda tersebut simbol dari sebuah kemuliaan cinta, kasih sayang dan keberhasilan orang tua untuk sang anak dan dari anak untuk orang tua.
__ADS_1
Rahayu menempati kursi paling depan saat wisuda periode tersebut, karena urutan kursi tempat duduk berdasarkan atas nilai lpk tertinggi hingga terendah. Rahayu melangkah dengan penuh percaya diri dia yakin dan siap menatap masa depan yang baru.
Acara wisuda dimulai dengan penuh khidmat dan haru. Selama acara berlangsung tak henti-hentinya orang tua Rahayu mengucap syukurnya.