
Aku tak bergeming tak ada jawaban yang bisa ku sampaikan pada mas Reno.
“Mas kita pulang yuk, ini sudah sangat malam, besok pagi-pagi aku mau pulang sebentar”.
“Aku antar ya”.Tawar mas Reno padaku malam itu.
“Tidak usah mas, aku pulang bersama teman kantor kebetulan ada kunjungan ke kotaku”.
“Baiklah kalau begitu”. Mas Reno menghela nafas kecewa.
Malam itu kami kembali pulang, seperti biasa mas Reno akan mengantarkan pulang terlebih dahulu dan memastikan aku selamat sampai masuk kamar. Mas Reno juga tidak akan pergi dari tempat kos ku sebelum memastikan aku tertidur.
Beberapa kali aku melihat mas Reno memarkirkan mobilnya di sebrang jalan kos ku, setelah mengantarkan aku kembali mas Reno tak kunjung pulang sampai lampu kamarku terlihat sudah padam.
Beberapa kali aku melihatnya dibalik jendela kamar. Seperti itulah mas Reno begitu menginginkanku. Seperti Rahwana yang berambisi menginginkan Shinta untuk mejadi pasangannya.
***
Rumah Rahayu.
Hari ini tepat hari minggu pagi-pagi sekali aku sudah sampai rumah ibu bapak yang berjarak tiga jam dari tempatku bekerja. Setahun ini jika hari minggu aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarga di rumah. Aku menjadi lebih sering pulang meski sibuk ku sempat-sempatkan untuk pulang menjenguk ibu dan bapak. Menjenguk ibu dan bapak aku jadikan alasan agar tidak jalan dengan mas Reno.
Aku tidur dipangkuan ibu, sedang tangan halus ibu membelai rambutku dengan penuh kasih sayang. Bapak sendiri sedang menonton tayangan berita yang tak jauh dari kami berada.
Ibu mulai memecahkan keheningan.
“Ibu sungguh ingin kau lekas menikah nak”.
__ADS_1
“Sepertinya nak Reno orang yang baik, buktinya dia masih saja menunggumu meski kamu sudah menolaknya cukup lama”. Ibu mengatakan dengan nada yang pelan dan hati-hati.
“Kamu mau mencari yang seperti apa lagi nak?”. Bapak tampak menambahkan omongan ibu dan mendekat ke kami.
“Menurut ibu nak Reno sudah lebih dari yang ibu harapkan. Dia anak yang baik, dari keluarga baik-baik. Berpendidikan tinggi, mandiri secara finansial satu lagi yang penting dia anak yang sholeh serta menyayangi dengan penuh ketulusan”. Tutur ibu yang memuji mas Reno dengan segala kelebihannya.
“Yang penting dia itu sayang Yu sama kamu, dia rela banyak berkorban dan berjuang untukmu”. Bapak kembali menambahkan ucapan ibu.
“Bagaimana dengan kabar laki-laki yang kamu cintai? Sudahkah dia kembali selama setahun ini? Sudahkah dia berjuang untukmu?”. Ibu tersenyum masam mengatakan itu.
“Wanita itu lebih baik di perjuangkan Yu bukan berjuang karena perjuangan itu sifat maskulin hanya dimiliki seorang laki-laki. Ketika laki-laki berjuang untuk seorang wanita yang dia sayang. Wanita itu akan kosong tidak punya apa-apa lagi untuk dipamerkan, dia kan merasa membutuhkan penjaga dan pengayom, kamu hanya bisa kosong dan mencintai suamimu kelak”. Tutur bapak kala itu.
“Jadi Rahayu harus bagaimana pak bu?”. Tanyaku minta pendapat pada ibu dan bapak prihal lamaran mas Reno untuk kesekian kalinya.
“Menikahlah dengan Reno nak, buat ibu dan bapak bahagia dengan bisa melihatmu membina rumah tangga dengan orang yang tepat, serta memiliki anak sebanyak yang kamu mau, mumpung bapak dan ibu masih kuat gendong cucu. Kamu sudah berkorban terlalu banyak untuk keluarga kita. Kamu sudah berjuang mengangkat derajat keluarga kita. Lihat sekarang bapak sudah memiliki kehidupan yang lebih dari cukup untuk mencukupi kebutuhan keluarga”.
Aku bangkit dari pangkuan ibu mencoba menghirup udara sebanyak-banyak yang aku bisa kemudian menghembuskan dengan perlahan.
Aku mulai mempertimbangkan masukan dari ibu dan bapak.
“Untuk saat ini aku belum siap bu, tapi entah nanti tidak menutup kemungkinan juga aku bersedia”.
“Berdoalah nak serahkan semuanya pada sang pemilik hati. Serahkan pada yang mampu membolak-balikkan hati agar hatimu sedikit melembut dan menerima kehadiran Reno”.
Aku menganggukkan kepala mendengar tutur kata ibu dan bapak yang cukup mampu mengusik hatiku.
“Percayalah nak cinta akan datang dengan terbiasa, jika kamu mau mencoba sesuatu hal yang baru. Bukankah kasih sayang yang tertinggi adalah mengikhlaskan, jadi ikhlaskan pria yang kamu cintai mungkin saat ini dia sudah bahagia”. Bapak kembali memberikan wejangan padaku.
__ADS_1
Pak bu Rahayu ijin mau keluar sebentar ingin menikmati sore di ladang sekalian jalan-jalan. Rahayu akan pergi bersama Rani.
Aku berlalu meninggalkan rumah dan mengajak Rani untuk ke ladang, mungkin dengan melihat banyaknya pohon-pohon serta sawah yang hijau akan sedikit membuatku bisa berfikir lebih jernih.
***
Satu jam berlalu aku pergi ke ladang dan menikmati udara segar di sana, duduk di rerumputan dan memandang sekitar yang menghijau membuat hatiku lebih tenang. Hamparan sawah yang luas dengan tanaman padi yang baru tumbuh membuat suasana tampak nian hijau. Tak lupa gunung yang menjulang menampakan pesonanya yang kian cantik. Suara burung dan beberapa hewan khas sawah menambah rasa tenang hati yang sedang dilanda dilema.
Ku pinjamkan ponsel pada Rani adik bungsuku agar bisa bermain dan memotret beberapa pemandangan yang indah. Sedang aku memilih untuk menyendiri di salah satu gubuk dekat ladang bapak.
“Mbak ini sudah mau petang kita pulang aja yuk, sudah surup gak baik kelayapan di ladang, banyak demitnya (hantu)”. Ajak adikku yang suka berkata sesuai dengan imajinasinya.
“Anak kecil tau apa tentang demit”. Jawabku dengan meledek.
“Justru anak kecil itu lebih tau demit karena dia belum punya banyak dosa”. Jawabnya dengan nyengir.
“Dih sok suci belum punya banyak dosa katanya”.
Kami berdua bergegas untuk kembali pulag dengan mengendarai sepeda ontel sebelum bapak menjemput.
***
“Assalamualaikum”. Aku mengucapkan salam saat pertama kali sampai didepan pintu rumah.
Terdapat empat orang yang memakai baju rapi dengan senyum yang mengembang di wajah mereka. Aku mengenal salah satu diantara mereka berempat.
Ibu memberikan kode agar aku segera duduk. Mataku menatap ibu dengan penuh tanda tanya tentang apa yang terjadi sore ini. Ruang tamu tampak tegang.
__ADS_1
“Mohon maaf jika kedatangan kami sekeluarga ke sini membuat nak Rahayu sekeluarga terkejut, anak kami sering bercerita banyak hal tentangmu nak”. Perwakilan keluarga tersebut membuka percakapan terlebih dahulu.
“Ada apa ya pak?”. Aku bertanya langsung tanpa bosa-basi.