Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Keputusan Rahayu


__ADS_3

Pasangan paruh baya tersebut menatapku dengan senyum penuh kehangatan.


“Nak perkenalkan ibu dan bapak adalah orang tua Reno sedang perempuan cantik di sebelahnya Reno adalah adiknya Rania. Maksud kedatangan keluarga kemari adalah ingin bersilaturahmi dengan keluarga Rahayu”. Ayah mas Reno membuka keheningan di ruang tamu di iringi dengan senyum bahagia di wajahnya.


“Selain bersilaturahmi maksud kedatangan keluarga kami ke sini adalah untuk meminang nak Rahayu untuk putra satu-satunya di keluarga kami Reno”.


“Apa”. Aku terkejut mendengar penuturan orang tua mas Reno.


“Ini sangat tiba-tiba kenapa tidak dibicarakan terlebih dahulu denganku”. Ucapku dalam hati.


“Mohon maaf pak bu saya tidak bisa menerima lamaran ini, semua ini terlalu mendadak”. Aku berlalu meninggalkan ruang tamu tersebut.


Reno menyadari dengan sikap Rahayu, harusnya dia tidak buru-buru dengan membawa orang tuanya untuk berkunjung ke rumah Rahayu.


“Maafkan ketidaksopanan putri saya pak bu. Karena jujur kami sangat terkejut dengan kedatangan keluarga nak Reno tanpa membicarakan terlebih dahulu. Putri saya masih kaget, mungkin membutuhkan sedikit waktu untuk berfikir kembali sebelum mengambil keputusan”. Tutur ibu dengan suara yang sangat pelan dan penuh rasa bersalah karena sikapku.


“Ah iya benar bu untuk masalah pernikahan memang harus benar-benar dipikirkan dengan sangat matang”. Tutur ibu Reno.


“Mari bu silahkan di minum tehnya”. Ibu Rahayu mempersilahkan tamunya untuk minum.


“Nanti saya akan mencoba berbicara dengan Rahayu, saya pastikan dia akan menjawab semuanya tidak lebih dari tiga hari”. Tutur bapak Rahayu memberikan kepastian.


Mendapat jawaban tersebut membuat senyum di bibir Reno mengembang serasa mendapat angin segar karena tidak butuh waktu yang lama untuk menanti jawaban seorang Rahayu.


Menjelang magrib keluarga Reno bersiap untuk undur diri dan kembali ke kota mereka. Bapak dan ibu Rahayu mengantar ke depan hingga mobil mereka tak terlihat.


Sepeninggalan keluarga Reno, bapak dan ibu tak langsung berbicara dengan Rahayu sengaja memberikan kesempatan untuk Rahayu berfikir tanpa adanya paksaan.


Menjelang pukul sembilan malam Rahayu keluar dari kamar dan menghampiri kedua orang tuanya yang kebetulan saat itu masih terjaga untuk menonton televisi.


Biasanya ibu dan bapak sudah masuk kamar jam segini, sengaja memang masih terjaga karena ada sesuatu yang hendak mereka tanyakan pada Rahayu.


“Bu pak maafkan Rahayu”. Ucap Rahayu seraya menghampiri kedua orang tuanya.


“Tidak apa-apa nak, ibu dan bapak tidak akan memaksa untuk hal ini. Semua keputusan sepenuhnya ibu bapak serahkan padamu. Kami sudah cukup dewasa untuk memilih bagaimana harus bersikap dan mengambil keputusan”.

__ADS_1


Air mataku kembali jatuh terjun bebas begitu saja membasahi di pipi.


Hatiku kembali goyah untuk bertahan menunggu mas Andika atau menerima lamaran mas Reno.


Rasa semain bersalah menghantuinya. Rasa bersalah karena menyianyiakan Reno dan rasa bersalah karena membuat ibu dan bapaknya kecewa.


“Baiklah pak bu besok aku akan memberikan jawabannya. Ijinkan malam ini Rahayu berfikir terlebih dahulu”.


“Istirahatlah nak, pikirkan ini semua dengan tenang dan matang”. Jawab ibu dan berlalu menuju ke kamarnya.


Waktu menunjukan pukul dua belas malam lebih, aku masih terjaga tak kunjung bisa memejamkan mata.


Benar-benar dilema dibuatnya mengambil keputusan sebesar ini dengan waktu yang secepat ini. Sebenarnya mas Reno sudah memberikan waktu yang cukup lama untukku berfikir. Hanya saja aku yang belum siap.


“Sampai kapan kamu akan siap kalau kamu tidak mencobanya Rahayu”. Aku berbicara sendiri di depan cermin.


***


Keesokan paginya saat sarapan tiba Rahayu bergabung di meja makan bersama dengan keluarganya. Beberapa adik-adiknya sedang sarapan persiapan untuk berangkat ke sekolah. Rahayu tidak lantas kembali ke kota Gersik karena untuk satu minggu ke depan dia ada tugas di kotanya.


Bapak Rahayu setiap pagi akan ke sawah memantau perkembangan tanaman atau sekedar berjalan-jalan memastikan tanamannya tumbuh dengan subur. Masa waktu tanam sudah lewat jadi tinggal perawatan saja sehingga bapak tidak terlalu sibuk.


Sebelum ke sawah biasanya bapak Rahayu akan memberi makan beberapa hewan ternak piaraannya seperti ayam dan burung. Sedangkan ibu Rahayu setelah memasak akan menuju toko untuk berjualan. Letak toko kelontong ada di sebelah rumah mereka.


“Bicaralah nak ada apa?”. Ibu dan bapak Rahayu lekas bergabung menuju meja makan setelah adik-adiknya berangkat sekolah.


“Rahayu memutuskan untuk menerima lamaran mas Reno bu pak”. Ucap Rahayu dengan lirih kemudian mencoba tersenyum.


Beberapa waktu yang lalu ibu dan bapak menyuruhku untuk lekas menikah saja, namun berbeda dengan beberapa hari ini ibu dan bapak terlihat sudah sangat pasrah saja dan akan menerima semua yang menjadi keputusanku.


“Alhamdulilah”. Ucap bapak dan ibu Rahayu bersamaan. Ibu bergegas untuk memelukku saat itu. Mata ibu berkaca-kaca terlihat sangat bahagia.


“”Trimakasih nak sudah memberikan jawaban yang tidak mengecewakan. Bapak akan segera membagi kabar gembira ini pada keluarga Reno”.


Ujar bapak lekas bangkit dari tempat duduknya dan mengambil ponsel saat itu juga.

__ADS_1


***


Rumah Rahayu.


Tiga hari kemudian setelah Rahayu memberikan jawaban untuk Reno, rumah Rahayu tampak ramai dengan aktivitas keluarga yang sedang membuat berbagai macam kue dan aneka masakan.


Keluarga Rahayu ingin menjamu keluarga Reno dengan sangat baik mengingat pertemuan keluarga pertama kali kemaren kurang mengenakan. Jadi apa salahnya kali ini menjamu tamu dengan lebih istimewa.


Sementara itu di kediaman rumah Reno.


“Santai...santai”


“Akhirnya selangkah lagi aku akan bersatu dengan Rahayu. Gadis ayu sederhana yang sangat ku cintai”.


Reno sedang menatap cermin dan berbicara dengan dirinya sendiri.


“Reno kamu sudah siap nak?”. Bunda mengetuk pintu kamarku.


“Reno sudah siap ma”. Jawabku lekas membuka pintu kamar.


“Ayo cepetan orang-orang sudah menunggu dari tadi”. Bunda menghampiriku yang masih berada di kamar dan kembali menatap cermin.


“Jangan gugup kamu pasti bisa, anak bunda udah dewasa sekarang mau ngelamar anak orang pula”. Bunda menepuk-nepuk bahuku seraya tersenyum.


Kami beserta keluarga besar bersiap untuk bertolak ke rumah Rahayu.


***


Rumah Rahayu kedatangan rombongan keluarga.


Diluar perkiraan keluarga Rahayu. Ini adalah pertama kali keluarga Rahayu menerima lamaran maklum Rahayu adalah anak pertama keluarga tersebut.


Keluarga Reno datang dengan membawa seserahan yang luar biasa banyaknya. Tak lupa dengan hiasan yang begitu indah setiap seserahannya. Keluarga tersebut juga datang dengan memakai baju yang senada. Keadaan seperti ini jadi menarik perhatian tetangga Rahayu yang ada di sekitar rumah.


“Wah Rahayu di lamar wong sugih (Orang kaya) mujur banget nasibnya”. bisik beberapa tetangga yang dapat di dengar oleh Rahayu.

__ADS_1


Keluarga Rahayu tampak bersiap didepan pintu menyambut pihak besan.


__ADS_2