Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Menghibrmu


__ADS_3

Kedua orang dalam ruangan tersebut lekas menoleh ke sumber suara secara bersamaan.


“Duh kompak banget sih, noleh aja harus janjian dulu”. Dania menggoda dua orang dalam ruangan tersebut.


“Kamu sudah datang Nia”. Ucap Rahayu mengalihkan pembicaraan.


“Iya, aku sudah datang, baru datang sudah di suguhi pemandangan yang uwu”. Dania mengedipkan satu matanya menggoda mereka.


“Hem hem”. Suara deheman Andika.


“Maaf pak maaf’. Dania kembali berbicara.


“Mas eh pak, eh”.


“Pulanglah mas, sudah ada Dania yang menemani di sini”.


“Apa kamu tak apa aku tinggal?”.


Rahayu hanya menggelengkan kepalanya saja.


“Baiklah kalau begitu saya permisi dulu”. Pamit Andika pada Dania dan Rahayu yang ada di dalam ruangan tersebut.


“Hati-hati”. Ucap Rahayu dengan lirih.


Sedang Andika hanya tersenyum dan mengakukan kepalnya saja.


“Jadi sebenarnya apa yang terjadi di antara mereka berdua?”. Dania menduga-duga banyak hal dalam pikirannya.


“Hati-hati pak”, ucap Dania dan mengantarkan Andika hingga depan pintu kamar.


Sepeninggalan Andika dari ruangan tersebut, Dania lekas mengintrogasi sahabat barunya. Tangannya bersila di dada dengan tatapan berjuta pertanyaan yang hinggap di kepalanya. Matanya menatap Rahayu dengan sangat tajam penuh selidik.


“Jadi apa sebenarnya hubungan kalian?”


“Tidak ada, pak Dika hanya menolongku saja kemarin”.


Rahayu menceritakan kronologi kejadian yang menimpanya.


Sedang Dania yang mendengarkan hanya menganggukkan kepalanya saja, mencoba percaya dengan semua perkataan sahabatnya itu.


“Tapi mbak Ayu dan pak Dika sebenarnya juga cocok kok”.


“Ups”. ucapnya dengan menutup mulutnya.


“Hedeh, apalah aku yang hanya seorang janda Dania”


“Jandanya cantik , masih muda kinyis-kinyis kenapa tidak”.


Reflek Rahayu memukul tangan Dania dengan pelan.


"Tapi jika melihat sorot mata kalian berdua, aku tak yakin jika di antara kalian tidak ada apa-apa".


"Memang tak ada apa-apa, kebetulan mas Andika dulu adalah kakak tingkatku di sini".


"Hanya kakak tingkat?". Dania masih enggan percaya dengan jawaban sahabatnya.


"Iya hanya kakak tingkat tidak lebih dan tidak kurang".

__ADS_1


Tiga jam berlalu, sejak kedatangan Dania menemani Rahayu, dokter kembali datang untuk visit memeriksa keadaan pasien. Dokter mengatakan jika keadaan Rahayu sudah cukup membaik dan di perkenankan pulang. Hanya saja untuk beberapa hari ke depan di sarankan untuk tidak melakukan aktivitas berat dulu.


Dengan sigap Dania membantu mengurus segalanya dan mengantarkan Rahayu pulang ke rumahnya. Rahayu tidak memberi tahu pada orang tua dan mertuanya tentang kejadian ini, takut mereka akan khawatir. Sementara Dania bersedia menemani hingga malam hari di rumah Rahayu.


***


Kebetulan hari ini hari minggu, sudah tiga hari lebih sejak Rahayu pulang dari ruma sakit dia tak kuliah, Rahayu sengaja beristirahat hingga tubuhnya benar-benar fit, selain itu Rahayu juga ingin menghilangkan traumanya pada toilet perpustakaan terlebih dahulu.


Pagi itu Rahayu bersiap membuat sarapan untuk dirinya sendiri, kali ini memasak nasi goreng jawa lengkap dengan ikan terinya. Saat sedang berkonsentrasi dengan masakannya, tiba-tibanya ponselnya berdering, Rahayu lekas berlari untuk mengambil ponselnya.


Dosen AP nama dalam kontak tersebut.


Rahayu belum mengganti nama Andika dalam ponselnya.


“Mas Andika? Ada apa tumben telfon”. Tangannya lekas menyentuh tombol hijau pada ponselnya.


“Assalamualaikum mas”. Sapanya dengan suara yang kalem.


Deg.


Hatinya berdesir.


Cukup dengan mendengar suaranya saja hatinya sudah bergetar hebat siapa lagi kala bukan Andika. Andika memegangi dadanya dengan tangan.


“Waalaikumsalam”.


“Ada apa mas?”., Tanyanya dengan tangan sebelah yang masih sibuk meracik bumbu dan menyiapkan beberapa sayur untuk nasi gorengnya.


“Bagaimana keadaan kamu sekarang?”.


“Aku sudah sehat mas, sangat sehat malahan”.


“Iya”. Jawabnya singkat.


Duh mau tanya apa lagi ya, mendadak Andika menjadi orang yang tak pandai lidahnya begitu kelu untuk berucap, antara grogi dan malu berasa anak remaja yang baru jatuh cinta.


“Kamu sedang apa?”.


“Aku lagi masak mas bikin sarapan ini, mas Dika sendiri sedang apa?”.


“Aku sedang menikmati matahari pagi, yang tampak sedang malu-malu menunjukan senyumnya, membuatku teringat akan dirimu yang slalu malu-malu”.


Seketika ucapan Andika membuat Rahayu mengembangkan senyumnya, entah mengapa hatinya bahagia mendengar ucapan itu.


“Hem”. Rahayu hanya menjawab dengan sebuah deheman saja.


“Aku sedang menikmati teh Yu, hanya saja teh ini terasa pahit di lidah”.


“Kenapa bisa begitu?”. Tanya Rahayu dengan begitu polosnya.


“Karena tak ada senyuman manis yang menemani pagiku, hingga teh ini terasa begit pahit di lidah”.


“Kemarilah, temani aku menikmati secangkir teh ini, agar lebih manis tak kala meminum dengan memandang wajahmu”.


Wajah Rahayu sudah memerah seperti kepiting rebus pagi itu.


“Duh mas Dika, pasti bahasa indonesianya pandai ya”. Jawab Rahayu dengan tersipu malu.

__ADS_1


“Jadi pinter ngarangnya sekarang”.


“Aku tidak sedang mengarang, aku sedang menghiburmu, aku ingin membuatmu bahagia lagi”.


“Aku bersedia menjadi temanmu, teman segala hal, kamu bisa berbagi cerita denganku jika sedang membutuhkan sesuatu atau sedang merasakan sesuatu, aku siap menjadi pelita dalam kegelapan yang kamu alami”.


“Duh udahan mas, masih pagi ngilindurnya udahan ya”.


“Aku sedang tidak neglindur Yu, aku bicara apa adanya”.


“Kamu jangan bersedih ya, aku sudah tahu semua yang terjadi padamu saat ini, jangan takut dan jangan pernah minder dengan statusmu saat ini. Kamu wanita baik-baik dan sholeha kamu juga cantik dan masih sangat muda, masih banyak hal yang bisa kamu kejar”.


“Ingatlah slalu janji Allah bahwa perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik, begitu juga sebaliknya, tetap semangat dan terus memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik karena hidup masih tetap berjalan”.


Tes Rahayu meneteskan air matanya.


“Aku tahu kamu sekarang sedang menangis, bolehkah aku menghapuskan air mata yang menetes di pipimu itu?”.


“Kamu tahu dari mana mas? Tentang semau yang terjadi padaku?”.


“Bukankah sudah aku katakan jika aku mempunyai ember sakti yang dapat melihatmu kapan saja yang aku ma”. Andika kembali mencoba menghibur Rahayu.


Rahayu kembali tertawa kecil.


“Makasih ya mas, untuk semua nasihat dan hiburannya”.


“Bolehkah aku menghiburmu lagi pagi ini?”.


Rahayu tampak malu-malu untuk menjawab.


“Karena tak ada jawaban aku anggap boleh, tunggu aku ambil gitar dulu jangan di matikan ponselnya”.


Andika berlalu mengambil gitar yang ada di samping almari bajunya dan mulai memainkannya.


Dengarkanlah wanita impianku


Malam ini akan ku sampaikan


Janji suci sat untuk selamanya


Dengarkanlah kesungguhan hati ini


Aku ingi mempersunting mu


UUntuk pertama dan terakhir


Jangan kau tolak dan buatku hancur


Ku tak akan mengulang untuk meminta


Satu keyakinan hati ini


Akulah yang terbaik untukmu


Rahayu begitu menikmati lagu yang di nyanyikan Andika menghayati dengan sepenuh hati.


Hingga tak menyadari

__ADS_1


Nasi gorengnya gosong.


__ADS_2