Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Ungkapan Rasa


__ADS_3

Satu minggu berlalu sejak kejadian aku terkunci di dalam kamar mandi perpustakaan, Mas Andika kembali datang mengusik pikiranku. Setelah sekian lama kami tak saling berkomunikasi hingga takdir kembali mempertemukan kami saat ini. Aku mencoba menepis segala rasa yang ada, tak ingin terlalu berharap akan kisah yang pernah utuh pada masanya.


Siapakah aku?, aku hanya seorang janda.


Sedang dia pangeran bermahkota, rasanya tak pantas jika aku mengharapkan lebih atas pertemananku dengannya kali ini.


Bukan bermaksud untuk melupakan sosok mendiang mas Reno, hanya saja seiring bergulirnya waktu, hatiku mulai terbiasa tanpa kehadirannya. Aku mulai melanjutkan hidupku yang baru.


Sesekali aku melihat Wa mas Andika yang sedang online, ingin rasanya tangan ini mengirimkan sesuatu sapaan padanya, hanya saja tanganku tak kuasa untuk memulai.


Aku kembali teringat akan statusku janda.


Rasanya sungguh sangat tak pantas, seorang janda menginginkan laki-laki sempurnanya.


Ya Allah, yang maha membolak-balikkan hati setiap insan, jagalah hatiku agar tak terlena melebihi batas cinta yang ada, aku hanaya ingin mengagumi saja seperti kisahku yang dulu, mengaguminya tanpa ingin memilikinya.


***


Tak terasa satu semester berlalu, selama satu semester menjalani kuliah ini tak ada kesulitan yang berarti yang di hadapi Rahayu semua dapat terselesaikan dengan mudah dengan kerjasamanya sahabat-sahabat barunya, tak lupa bimbingan dari dosen spesial yang menambah semangat.


Hubungan Rahayu dan Andika pun semakin dekat, dalam artian sekarang menjadi lebih sering untuk bertukar kabar meskipun setiap harinya mereka juga ketemu di kampus.


Mereka saling memberikan semangat satu sama lain, saling berkirim pesan hampir setiap malam hanya saja sampai saat ini mereka belum pernah untuk jalan berdua.


Untuk saat ini Andika berpasrah pada sang maha kuasa, akan sampai mana takdir mereka berdua. Bukan tak mau berjuang hanya saja Andika masih memberikan ruang pada Rahayu untuk memantapkan hatinya menerima kembali kehadirannya dan melanjutkan hidupnya, bukan tanpa alasan kini di antara mereka ada sosok mendiang Reno dan keluarga yang perlu juga di hargai keberadaanya.


Sampai juga di penghujung semester tibalah saat liburan, Rahayu memutuskan untuk pulang ke rumah ibunya dan ke rumah mertuanya secara bergantian dalam satu bulan ini. Rahayu mulai bersiap untuk kepulangannya. Tak ada persiapan khusus untuk pulang karena memang jarak rumah dengan Malang jga tidak terlalu jauh.


***


Tibalah saatnya untuk mengerjakan tugas akhir program magister, di program magister ini memasuki semester dua mahasiswa sudah di perkenankan untuk mengambil tema tugas akir mereka, karena memang akan membutuhkan waktu yang lebih lama dalam penelitiannya.


Sesuai dengan konsentrasi yang sedang Rahayu tekuni saat ini, kembali dia memilih tema tentang rantai pasok, hal ini juga berhubungan dengan perusahaan Reno sebagai pemasok bahan baku pabrik. Rahayu ingin memperdalam ilmu manajemen dalam pidang rantai pasok ini.


Rahayu dan beberapa teman yang lain, sudah bersiap untuk menyerakkan judul mereka di bagian akademik, yang kemudian akan menentukan dosen pembimbing mereka kelak.

__ADS_1


Satu minggu berlalu sejak penyerahan judul penelitian tersebut, kini tibalah saat pengumuman pembagian dosen pembimbing.


“RA”, begitulah inisial nama dosen pembimbing Rahayu.


“Siapa RA?”. Ucapnya dalam hati bertanya-tanya, maklum selama satu semester yang lalu Rahayu tak pernah belajar dengan dosen RA.


Rahayu lekas melangkah menuju ruang dosen untuk menemui dosen pembimbingnya, Rahayu ingin berdiskusi tentang tema yang akan di ambilnya nanti.


Perlahan langkah kakinya mulai memasuki ruang dosen tersebut, dalam ruangan tersebut terdapat sekat-sekat yang lumayan luas untuk masing-masing ruang dosen. Rahayu membaca satu persatu nama yang terpasang di pintu ruangan. Langkahnya terus berjalan mencari inisial nama RA.


“Hay ngapain di sini?”, Sapa sara seseorang yang begitu familiar di telinga Rahayu.


“Aku sedang mencari dosen atas nama RA, mas Dika tau?”. Ya mereka mempunyai perjanjian jika hanya sedang berdua, baik di kampus maupun di mana saja manggilnya harus (mas).


“Untuk apa mencarinya?”. Tanya Andika yang sengaja ingin menggoda Rahayu pagi itu.


“Aku ma bimbingan mas, kebetulan beliau dosen pembimbing tesis, jadi aku ingin berkonsultasi dengannya, aku ingin mengajukan judul padanya”. Jawab Rahayu dengan panjang lebar seraya menyerahkan map butuh di tangannya, berharap Andika akan membaca judulnya dan memberikan masukan untuknya.


“Kenapa tak bimbingan saja denganku?”.


“Jika aku yang bimbing, aku pasti akan membimbing mu menuju janahnya bersama”. Ucap Andika dengan mengedipkan satu matanya.


“Aduh”.


Rahayu mencubit lengan Andika.


“Emang kenapa nanti kamu bisa kapan saja meminta bimbingan, dengan senang hati aku akan melakukannya”.


Wajah Rahayu kembali memerah.


“Ya nanti, jika memang takdirnya sampai ke sana aku akan butuh banyak bimbinganmu mas”. Rahayu lekas menutup mulutnya seakan sudah salah mengucapkan kata.


Kini wajahnya kembali memerah dan berusaha membang pandangannya ke segala arah.


“Aku akan menunggu, sampai kamu benar-benar siap”. Kali ini Andika menunjukan wajah keseriusannya dengan menatap lekat wajah Rahayu.

__ADS_1


“Mungkin dulu, aku masih jauh dari kata baik dan tak pantas bersanding denganmu, hingga Allah menyuruh untuk lebih bersabar, dan terus memperbaiki diri”.


“Mas tapi aku...”. Jawab Rahayu dengan terbata-bata.


“Bukan sudah ku katakan aku tahu semuanya, dan aku terima itu”. Andika menunjukan mode wajah yang serius.


Mereka berdua saling berbincang banyak hal, hingga tak menyadari jika mereka sedang berada di ruang dosen.


Ya mereka duduk di salah satu kursi tempat untuk mengantri mahasiswa yang akan berkonsultasi.


Sementara itu di dalam ruangannya, Ratna meremas ujung kemejanya dengan begitu kuatnya, biasanya naik turun menahan segala amarah yang ada. Wajahnya memerah sorot matanya penuh dengan kebencian yang meluap-luap. Laki-laki yang begitu di cintainya beberapa waktu ini telah memilih wanita yang lain. Hatinya begitu sakit tak terkira mendengar percakapan itu.


“Ih mas udahan ah ngobrolnya, aku mau ketemu bu RA ini siapa ya?”. Rahayu tampak menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan dosen RA.


“Ini ruangannya”. Andika menunjuk satu ruangan yang tepat berada di belakang di duduk.


“Masuklah, seperti orangnya di dalam, aku mau ke kelas dulu ada kelas lima menit lagi”. Pamit Andika yang lekas berdiri dan meninggalkan Rahayu.


Lima langkah kemudian.


“Hay”. teriak Rahayu kembali.


Andika kembali melihat ke belakang.


“Iya”.


“Hati-hati”, ucap Rahayu dengan malu-malu sedang Andika tersenyum bahagia.


“Apakah ini artinya hubungan kita kembali terajut?”. cap Andika dalam hati sepanjang perjalanan menuju kelas.


Rahayu lekas melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.


“Permisi bu, saya Puspita Rahayu, mahasiswa magister bimbingan tesis ibu”.


“Iya”, jawabnya dengan begitu dingin.

__ADS_1


“Jadi kamu, wanita yang berani merebut Andika dari aku, angan harap kamu akan lulus dengan mudah, akan aku pastikan kamu menjadi mahasiswa abadi di sini’. Ucap Ratna dengan memandang sinis Rahayu.


__ADS_2