Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Menemanimu


__ADS_3

Melihat kondisi Rahayu yang melemah dan pingsan, membuat Andika panik. Andika dengan sigap menjalankan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi menuju rumah sakit terdekat. Andika membawa Rahayu ke rumah sakit Unisma kebetulan jaraknya tak jauh dari kampus.


Malam itu jalanan cukup lenggang, tak banyak kendaraan yang melintas sehingga mempermudah Andika untuk membawa Rahayu ke ruma sakit. Tak sampai sepuluh menit Andika sudah sampai di rumah sakit.


Andika berlari dengan mengendong Rahayu menuju Igd.


“Ini kenapa pak?”, tanya salah satu petugas kesehatan pada Andika yang tampak panik dengan keringat yang bercucuran di dahinya.


“Saya tidak tahu, dia pingsan. Tolong berikan perawatan yang terbaik untuknya”.


“Baik pak, silahkan tunggu di luar sebentar, saya akan memberikannya”.


“Silahkan urus administrasinya juga pak”.


Petugas kesehatan tersebut lekas menutup pintu Igd, sedang Andika berlari menuju administrasi untuk mengurus semuanya. Tak lupa Andika memberikan kabar pada sang mama jika malam ini akan pulang terlambat atau bahkan tidak pulang karena harus menunggu temannya yang sedang sakit.


Beberapa menit kemudian dokter keluar dari Igd.


“Apakah ada saudara dari pasien?”.


“Iya dok”.


“Kondisi pasien tidak papa, hanya saja dia mengalami taruma, sehingga membuatnya ketakutan dan tubuhnya lemas. Riwayat asma yang ada pada pasien membuat pikirannya kalut dan ketakutan akan kegelapan, untuk saat ini sebaiknya pasien dirawat dulu sampai kondisinya benar-benar fit lagi”. Jelas dokter tersebut pada Andika.


“Baik pak silahkan”.


“Silahkan bapak memesan kamar terlebih dahulu, pasien masih dalam kondisi pingsan’’.


Andika lekas kembali menuju administrasi untuk memesankan kamar Rahayu, Andika memilih ruang VIP untuk rawat inap Rahayu.


Sementara itu perawat lekas memindahkan Rahayu menuju kamar inapnya dan Andika mengekor di belakang sang perawat.


“Saya tinggal dulu ya pak, nanti jika butuh sesuatu tentang pasien silahkan panggil saja kami”.


“Baik sus, terima kasih untuk semua bantuannya”.


Perawat tersebut berlalu meninggalkan Rahayu dan Andika dalam kamar tersebut.


Sepeninggalan perawat tersebut dari kamar, Andika duduk di kursi samping pembaringan Rahayu, matanya menatap sendu wanita di depannya. Ingin sekali rasanya tangan ini memegang tangannya namun Andika urungkan, rasanya tak pantas mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Andika kembali memandang wajah Rahayu dengan sendu, sudut matanya meneteskan butiran bening, membayangkan segala kepiluan yang di rasakan Rahayu.


“Pasti kamu takut sekali sayang”. ucapnya lirih dengan menyeka matanya.


Andika mengetahui jika kini Rahayu tinggal seorang diri di Malang, oleh sebab itu Andika memutuskan untuk bermalam menemani Rahayu di sini. Andika jga tidak tah harus menghubungi siapa.


Beberapa menit kemudian, Rahayu terbangun dari pengaruh obat yang di berikan sang dokter. Matanya terpejam menatap sekitar, ruangan bernuansa putih dan slang infus yang terpasang di tangannya. Yang lebih mengejutkan lagi adalah sosok pria yang tertidur di kursi sebelah pembaringannya.


“Mas Andika’’. ucapnya dengan lirih, kemudian mencoba untuk duduk, tangannya ingin meraih botol minum yang ada di sebelahnya hanya saja kesulitan karena slang yang terpasang di tangannya.

__ADS_1


Menyadari adanya pergerakan di sebelahnya, Andika lekas membuka matanya.


“Hay bagaimana keadaanmu? Apakah ada yang sakit?’. Tanyanya dengan lembut dan senyum simpul di wajahnya.


“Aku tidak papa mas, kenapa aku di sini?”. Tanyanya dengan sedikit heran, seingatnya tadi dia terjebak di kamar mandi.


“Kamu pingsan Yu tadi, karena tak kunjung sadarkan diri aku bawa ke sini”.


“Maafkan aku, yang merepotkan mas”.


“Bolehkah aku meminta tolong lagi?”.


“Apa? katakanlah”.


“Aku haus”. ucapnya dengan malu-malu.


Dengan sigap Andika lekas mengambilkan minum untuk Rahayu.


“Mas Dika pulang saja istirahat, aku tak apa di sini”.


“Mana bisa seperti itu, aku akan tetap di sini menemanimu, bukankah kam tidak ada yang menemani”.


“Aku bisa memanggil Dania mas”.


“Besok saja ini sudah malam, istirahatlah”.


Rahayu pun menurut semua perintah Andika, matanya mencoba memejamkan mata untuk menenangkan pikirannya, sementara Andika masih terjaga menunggu sampai Rahayu memejamkan mata. Menjelang pukul tiga dini hari keduanya tertidur.


Pagi harinya selepas azan subuh berkumandang Rahayu terbangun terlebih dahulu, hatinya menghangat kala mendapati sosok laki-laki yang tertidur di kursi sebelahnya.


“Trimakasih ya mas sudah menemaniku di sini. Ucapnya dalam hati dengan memandang wajah Andika yang masih tertidur.


Rahayu kembali melihat wajah Andika memandang dengan lekat wajah yang pernah singgah di hatinya cukup lama, tak dapat di pungkiri getaran rasa itu masih ada. Bibirnya kembali membentuk lengkung senyum.


“Sudah puas lihatin wajahku yang rupawan”. Ucap Andika dengan membuka matanya, tak lupa dengan menunjukan senyum termanis yang dia punya.


Astaga!!!


Rahayu begitu kaget dan malu di buatnya. Pipinya memerah seketika.


“Sejak kapan orang ini sudah bangun?”. Ucapnya dalam hati dengan membuang pandangan ke segala arah.


“Sejak kamu memandang wajahku dengan senyum di wajahmu”. Jawab Andika menambah rasa malu Rahayu.


“Astaga kenapa dia tau apa yang sedang ku pikirkan?”, Rahayu kembali berbicara dengan hatinya.


“Hay jangan sedih ya?”. Ucap Andika menetralkan suasana yang canggung.


“Aku sedang tidak bersedih mas”. Jawab Rahayu menampik.

__ADS_1


“Tapi aku bisa merasakan kesedihanmu”.


“Ah sok tau kamu mas”. Jawab Rahayu dengan mengalihkan pandangannya.


“Iya aku tahu, aku bisa melihat segala penderitaanmu dari ember ajaib, jika kamu sedang bersedih”. Andika memperagakan dengan memegang ember rumah sakit yang biasanya di gunakan untuk menyeka pasien.


Rahayu tersenyum melihat tingkah Andika.


“Nah gitu dong tertawa lagi, aku suka melihat senyum itu”.


Pipi Rahayu kembali merona.


Beberapa detik kemudian, perawat datang dan membawakan sarapan pagi untuk pasien.


“Pak ini sarapan untuk pasien, lekas di makan ya biar segera fit lagi tubuhnya”. Perawat tersebut meletakkan sarapan pagi di atas meja.


“Terima Kasih sus”.


“Saya permisi dulu”.


Sarapan pagi nasi dengan sayur sop dan daging serta minuman sari kacang hijau terhidang di atas meja.


“Sini biar aku bantuin makannya”. Tangan Andika meraih piring tersebut.


“Jangan mas tidak sah, aku belum lapar”.


Rahayu merasa tidak enak jika harus makan di suapi dengan Andika.


Andika menyadari hal itu. Tangannya kini meraih sari kacang hijau yang ada di meja tersebut.


“Minumlah ini, sedikit agar menambah tenagamu”.


Rahayu menerima gelas tersebut dan hendak meminumnya, namun posisi yang berbaring membuatnya kesusahan untuk meminumnya.


“Biar aku bantu”.


Andika membantu Rahayu untuk duduk, dan menyerahkan segelas sari kacang hijau tersebut. Begitu dekat jarak di antara mereka pagi itu, beberapa detik mata mereka saling menatap satu sama lain.


Pelan.


Rahayu meminum dengan pelan sari kacang hijau itu, hingga tak menyadari hampir habis setengah gelas.


“Selamat pagi”. ucap Dania dengan begitu kerasnya sambil membuka pintu kamar ruang tersebut.


Uhuk uhuk


Rahayu tersedak.


Tumpahkan sari kacang hijau dalam gelas tersebut, maklum minumnya sambil melamun, mereka berdua entahlah sedang menikmati getaran yang masih ada di hati masing-masing.

__ADS_1


“Aduh-aduh maaf ya mengagetkan”. Ucap Dania pada mereka berdua.


__ADS_2