
“Di jodohkan”, Mata Rahayu membulat dengan sempurna.
“Iya nak, dia laki-laki yang baik, sholeh dan juga pekerja keras, dia menerima dengan lapang dada apa yang sudah terjadi padamu beberapa waktu yang lalu”.
“Ayah mengenal baik keluarganya”.
“Tapi yah? Kenapa harus di jodohkan?”.
“Sudahlah Yu, terima saja apa yang di katakan oleh ayah mertua kamu toh selama ini beliau banyak sekali membantu keluarga kita. Beliau juga tidak mungkin memberikan pilihan yang tak baik untukmu”. Ucap bapak Rahayu di sela-sela perbincangan dengan mereka.
Sedang bunda dan ibu Rahayu memegang kedua tangan Rahayu di dua sisi kanan dan kiri secara bersamaan. Menatap lembut wajah sang anak.
“Akad nikah akan dilakukan minggu depan nak, bersiaplah”.
“Apa?, ini kenapa semua orang jadi berbuat seenaknya sendiri tanpa bertanya terlebih dahulu apakah aku menerima atau tidak perjodohan ini?, mengapa mereka memutuskan sepihak, sedang yang menjalani nanti adalah aku”. Ungkap Rahayu dalam hatinya.
Rahayu tak memberikan jawaban apapun, wajahnya berubah dari yang begitu bahagia luar biasa tadinya menjadi murung dan hampir menangis.
Rahayu tak selera menghabiskan makanan yang ada di depannya, dia memilih untuk mengakhiri acara makan tersebut dan beranjak ke dalam kamarnya.
“Maaf saya permisi dulu, silahkan di lanjutan makannya”, langkahnya begitu berat terasa.
Di dalam kamar, Rahayu mantap foto pernikahannya dengan Reno. Mas aku sudah lulus, aku sudah menepati janjiku untuk melanjutkan sekolah lagi. Mas taukah, aku menjadi lulusan terbaik di program magister ini, tangannya menyeka air mata yang jatuh pada pipinya.
Mas kamu bahagiakan melihatku sudah lulus?
Mas orang tuamu menjodohkan aku dengan laki-laki pilihannya, aku tak siap mas untuk menjalani ini semua. Mas bisakah kau membantuku untuk mengatakan pada mereka jika aku menolak perjodohan ini?.
Hiks hiks hiks.
Rahayu kembali menangis.
Mas Andika?.
Bagaimana dengan mas Andika? Setelah perjalanan panjang kisah cinta kami berdua, apakan memang semesta tak pernah merestui kisah kasih kami hingga slalu ada saja halangan dan rintangan yang datang sili berganti pada hubungan kami berdua.
“Mas Reno apakah aku boleh melanjutkan hidupku dengannya, pada mas Andika sosok yang kamu juga mengenalnya?”.
“Mas ataukah ini pertanda jika kamu tak rela untukku bersanding dengan mas Andika, hingga ayah memberikan tawaran perjodohan ini?”.
Hiks hiks hiks...
Tangisnya begitu memilukan, layaknya beberapa tahun yang lalu.
***
__ADS_1
Rumah Andika.
Pagi ini Andika ada jadwal mengajar pagi pukul sembilan, seperti biasa semua keluarga akan berkumpul bersama di meja makan untuk sarapan. Pagi ini mama memasak makanan yang spesial nasi pecel beserta sayurannya tak lupa dengan paket komplit rempeyek makanan kesukaan Andika sejak kecil.
Semua keluarga sudah berkumpul bersama dan bersiap untuk menyantap makanan, tangan bunda terulur untuk mengisi dua piring laki-laki beda generasi tersebut.
“Dika bagaimana urusan kampus? adakah kendala saat proses belajar mengajar mahasiswa di sana?”.
“Tidak ada pa, semua berjalan dengan lancar. Kelengkapan fasilitas dan kemudahan dalam mengakses informasi membuat kegiatan belajar mengajar menjadi sangat mudah”.
Papa mas Andika mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Syukurlah kalau begitu”. papa mas Dika memang orang perhatian masalah pendidikan selama ini, dia begitu mengikuti segala perkembangan yang terjadi di dunia pendidikan meskipun tidak terjun langsung di kampus.
“Dik, ada hal penting yang ingin papa katakan padamu”.
Sang papa menjeda omongannya, menunggu Andika selesai mengulang makanan yang ada di mulutnya.
Setelah memastikan isi mulut anaknya kosong, sang papa kembali melanjutkan perkataannya.
“Iya pah”.
“Dika, ini sudah setahun lebih dari waktu yang kamu janjikan untuk membawa seorang wanita pada mama papa”.
Wajah Andika seketika bersemu, membayangkan akan segera mengenalkan Rahayu pada kedua orang tuanya.
“Eh tapi pa”. Andika memotong ucapan sanga papa.
“Papa tidak menerima penolakan, dia gadis yang sholeh, berwibawa memiliki karakter dan kepribadian yang baik satu lagi bonus untukmu dia memiliki wajah yang sangat cantik”.
“Tapi pah, baru saja seminggu yang lalu Andika melamar anak orang, dan rencananya minggu depan akan Dika bawa ke sini”.
“Kamu terlambat mengatakan, karena papa sudah terlanjur menerima perjodohan ini”.
“Papa mohon kamu tidak mengecewakan papa”. Ucap sang papa dengan begitu tegasnya.
Andika terdiam mematung, memandang sang mama berharap sebuah pembelaan.
Mama hanya menggelengkan kepala saja.
“Mah”. ucapnya dengan memelas dan tertunduk lesu.
“Apa salahnya kamu menuruti perintah papamu nak, bukankah selama ini papa tidak pernah memaksamu dalam segala hal, mengalahkan sejenak”.
“Tapi yang menjalani Dika”.
__ADS_1
Wajahnya kembali menatap sang papa dan mama secara bergantian, penuh dengan pengharapan seperti anak kecil yang sedang meminta permen pada orang tuanya.
“Sudahlah terima saja takdir yang ada, kita ketemu saja dulu untuk saling mengenal satu sama lain, menyelami hati masing-masing, jika memang Allah mentakdirkan kalian berjodoh tentu papa akan sangat bahagia sekali”. Papa berlalu meninggalkan meja makan.
“Minggu depan kita akan bertemu, bersiap-siaplah”.
Sementara Andika melangkahkan kaki keluar rumah menuju kampus untuk kembali mengajar, sepanjang perjalanan hatinya berkecamuk, bingung harus berbuat apa. Sementara hatinya sudah terikat ole satu nama Rahayu.
Berkali-kali bayangan wajah Rahayu sedang tersenyum menari-nari dalam ingatannya.
“Kucingku yang manis, kenapa begitu banyak halangan dan rintangan untuk bisa bersanding denganmu”. Andika berucap dalam hatinya melamun entah kemana saja.
TIN.....TIN...TIN...
Suara klakson membuyarkan lamunannya tak kala melewati lampu pemberhentian, sedang rambu-rambu lalu lintas sudah menunjukan warna hijau sebagai isyarat perjalanan dilanjutkan.
Hah.
Andika membuang nafasnya dengan kasar.
Beberapa hari kemudian, Andika dan Rahayu tak saling berkabar satu sama lain, mereka tidak ada yang berani mengatakan jika masing-masing di antara mereka dalam masa perjodohan dengan pilihan orang tua mereka masing-masing.
Rahayu lebih memilih untuk diam, tak memberi kabar takut akan memberikan sebuah harapan yang sudah pasti akan suram, begitu pun dengan Andika yang berkali-kali melihat ponselnya namun tak kunjung berani untuk memberi tahu Rahayu.
Mungkin Andika laki-laki pengecut, tapi kebingungan yang tiada tara melanda dalam hatinya. Antara memperjuangkan rasa cintanya pada gadis pujaan hatinya atau lebih memilih rasa baktinya pada kedua orang tuanya?.
Dilema.
Kedua orang ini sedang di landa dilema, tak jarang dalam beberapa waktu mereka menangis bersama hanya saja dalam tempat yang berbeda. Mereka saling memanggil satu dengan yang lainnya dalam hati.
Memohon akan sebuah keajaiban baik berpihak padanya.
Enam hari kemudian.
Andika meraih ponselnya memberanikan diri untuk mengetahui kabar sang kekasih hati. Berkali-kali mencoba melakukan panggilan suara tak ada jawabannya.
Calling...
“Assalamualaikum”, sapanya dengan terbata-bata.
“Waalaikumsalam”. begitu jawabnya dengan menahan tangis.
“Bagaimana kabarnya?”,
Hening.
__ADS_1
Hanya ada suara isakan tangis di antara kedua insan ini.
Hiks...hiks...hiks..