Di Balik Toga Rahayu

Di Balik Toga Rahayu
Pengakuan Dosa


__ADS_3

Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu oleh mahasiswa angkatan 2010 tiba, saatnya wisuda periode pertama untuk mereka kakak-kakak 2010 yang sudah selesai mengerjakan seluruh rangkaian persyaratan wisuda. Semua peserta wisuda di dampingi oleh orang tua masing-masing menuju gedung yang sudah di tentukan, suasana tampak syahdu dan mengharukan.


Dari kejauhan aku melihat mas Andika sedang berjalan menuju gedung dengan di dampingi oleh kedua orang tuanya. Sungguh ganteng dan gagah sekali mas Andika ketika memakai toga. Orang tua mas Andika terlihat sangat bahagia sekali.


Mas Andika memakai selempang yang bertuliskan wisudawan terbaik, mataku berkaca-kaca melihatnya, aku bangga mas dengan prestasi yang kamu raih saat ini. Aku bahagia sekali melihatnya. Keputusanku untuk menjauh dari mas Andika dan membuatnya kembali dengan mbak Eki sepertinya sudah tepat sekali. Jika tidak kembali dengan mbak Eki mungkin mas Dika akan berada di jalur yang salah, mas Dika akan sering murung dan mana mungkin bisa menjadi seorang Raja di kampus.


Beberapa saat kemudian tampak seorang wanita dan keluarganya menghampiri mas Dika, rupanya itu orang tua mbak Eki. Kedua orang tua mbak Eki dan mas Dimas saling bersalaman mereka sepertinya sangat dekat sekali hingga baju yang mereka pakai juga senada. Mereka berjalan saling beriringan sungguh serasi sekali tak lupa mereka mengabadikan foto bersama di depan rektorat. Mataku tak bisa lepas terus saja mengikuti pergerakan mereka. Bibirku berkata aku bahagia sekali melihat kebersamaan mereka tapi kenyataan yang ada adalah hatiku hancur sekali.


***


Beberapa hari setelah acara wisuda mas Andika aku tetap beraktivitas seperti biasanya. Siang itu kuliah sudah selesai aku tak langsung pulang, aku duduk-duduk di gazebo perpustakaan ingin melihat air mancur yang suasananya menenangkan. Satu tempat yang paling aku suka di kampus ini adanya air mancur yang suaranya menenangkan.


“Hay Yu kamu di sini aku dari tadi sama Nina mencari mu”.


Sapa Sari padaku yang langsung duduk di bangku sebelahku.


“Iya aku dari tadi disini, kalian belum pulang?”.


Tanyaku pada mereka berdua.


“Yu sebenarnya ada hal yang ingin aku ceritakan sama kamu”.


Wajah Nina dan Sari mendadak melo dan sedih.


“Ada apa?”.


“Tapi janji ya jangan marah, aku dan Sari mau pengakuan dosa sama kamu”.


“Apa sih? Jangan bikin penasaran deh”.


“Janji dulu jangan marah”. Nina dan Sari mengangkat tangan mereka serta melingkarkan jari kami bertiga.

__ADS_1


“Iya janji, buruan bikin penasaran saja”.


“Yu sebenarnya ada orang baik yang selama ini diam-diam memperhatikanmu, dis sangat mengagumimu, dia slalu bercerita banyak hal tentangmu pada kami, bahkan kami yang sahabatmu saja tidak tau tentang hal itu, dia banyak bercerita tentang kemandirianmu, kerajaanmu bahkan dia tau semua tentang keluargamu juga”.


Sejenak Rahayu hanya mengerutkan dahinya saja.


“Lantas apa hubungannya sama aku? Apa aku mengenalnya?”. Tanya Rahayu dengan santainya.


“Kamu mengenalnya Yu,bahkan aku rasa kamu juga mencintainya, Yu taukah kamu selama ini siapa orang yang selalu membantumu dalam kesusahan?”


“Ya kalian lah”, jawab Rahayu dengan penuh keyakinan karena sepanjang sejarah tingal di Malang sahabat yang slalu ada untuk Rahayu hanya ada Nina dan Sari saja.


“Bukan kami Yu, kami hanya perantaranya saja, apa kamu menyadari setiap kamu membutuhkan buku-buku ataupun segala hal yang berkaitan dengan perkuliahan kamu dapat dengan mudah untuk mendapatkannya”.


“Plis jangan bosa-basi ada apa?, wajah Rahayu mulai tak biasa-biasa saja.


“Yu jadi selam ini orang yang slalu memberi kamu buku lathan bahasa inggris itu bukan kita tapi mas Andika, dia juga yang sering kali mengirimkan makanan untukmu tapi aku slalu bilang itu semua dari kami, mas Andika juga yang sudah membujuk akademik untuk memberimu waktu ujian praktek kerja lapang kemarin dan mengganti jadwalnya. Mas Andika juga yang sudah membayar beberapa tagihan seragam-seragam UMKM yang kamu pakai, mas Andika juga yang sudah membayar tiket studi banding saat kita ke Bandung Jakarta kemarin”.


“Yu sebenarnya mas Andika itu suka sama kamu bukan sama mbak Eki dan mereka berdua sama sekali tidak pernah kembali, hanya saja mbak Eki yang masih menganggap jika mas Dika adalah kekasihnya”.


Nina dan Sari menepuk-nepuk punggung Rahayu, sedangkan Rahayu diam mematung mencoba mencerna satu persatu ucapan sahabatnya.


Mas Andika Andika Andika


Nama itu kembali terngiang-ngiang di pikiranku, nama dan orang yang sama yang slalu mengisi hari-hariku selama di Malang ini.


Jadi mas Andika yang melakukan semua ini? Mengapa dia sebaik itu padaku padahal aku jahat sekali dengan dia.


Tanpa dapat dibendung lagi air mataku meluncur dengan begitu derasnya saja membasahi pipi.


“Rahayu apa kamu baik-baik saja?”. Nina dan Sari tampak khawatir denganku.

__ADS_1


“Huhuhu bagaimana ini Sar? Aku sudah sangat jahat sekali sama mas Dika, bagaimana aku harus meminta maaf sama dia? Aku menyesal terhasut dan menuruti semua perintah mbak Eki selama ini huhuhu” Aku masih menangisi kebodohanku.


“Yu pergilah dan temui mas Dika sekarang sebelum terlambat”. Ucap Nina memberikan saran padaku.


“Tapi dimana? Dia sudah tidak ada lagi di kampus Nin”, ucapku dengan tersedu-sedu.


“Yu informasi dari akademik mas Andika keterima beasiswa ke luar negri, dan tadi tanpa sengaja aku mendengar mbak Eki bersiap-siap untuk lekas pulang karena akan mengantar mas Andika ke stasiun, mereka akan singgah di Jakarta untuk sementara waktu”.


“Apa stasiun? Ke luar negri?” Rahayu tampak syok.


“Ayo Nin tolong antarkan aku ke sana aku harus minta maaf padanya sekarang”.


“Iya ayo”, Nina dan Rahayu bergegas menuju stasiun kota Malang.


***


Jarak antara stasiun dan kampus lumayan jauh kira-kira membutuhkan waktu satu jam perjalanan, mereka berdua naik motor. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan mas Andika. Aku ingin sekali meminta maaf dan berterima kasih padanya. Nina mengendarai sepedanya dengan sangat cepat sekali membelah jalanan yang pandat dan panas.


Sesampainya di bandara aku bergegas untuk masuk ke sana, aku tak memperdulikan Nina yang kebingungan untuk mencari tempat parkir, aku beralih di sisa-sisa tenagaku agar lekas sampai di bagian pemberangkatan.


“Tolong tiketnya mbak”.


Petugas stasiun menghadang ku yang hendak menerobos pintu masuk begitu saja.


“Sebentar saja pak, saya hanya ingin berjumpa dengan teman saja”.


"Tidak bisa mbak, siapapun yang masuk harus menunjukan tiketnya terlebih dahulu".


“Tapi pak sebentar saja saja mohon, hanya sebentar saja”.


"Tolonglah pak sebentar saja pak, saya harus menyelesaikan sesuatu yang belum terselesaikan".

__ADS_1


Rahayu kembali mengiba dan memohon.


__ADS_2